Ise Azuchi Momoyama Bunkamura: Kastil Megah Pemersatu Jepang

WISATA - ISE BUNKAMURA
HaloJepang! Mei 2015

Untuk menyatukan masyarakat Jepang, Oda Nobunaga (1534-1582) membangun kastil megah di dekat danau Biwa, Azuchi Castle.  Sayang kastil yang memiliki ruang berlapis emas itu hancur terbakar saat terjadi peperangan antara anak kedua Nobunaga, Nobukatsu melawan pasukan Akechi. Nobunaga sendiri lebih dulu terbunuh dalam pertempuran di Honnoji Temple.

Keinginan Nobunaga untuk menyatukan masyarakat Jepang disebabkan pada era Shogun Ashikaga (1477-1573) terjadi perang saudara antardaimyos –kelompok bangsawan. Tiap daimyos ingin menguasai wilayahnya masing-masing. Melalui pertempuran hebat selama delapan tahun, Nobunaga berhasil mengalahkan para daimyos dan masuk ke Kyoto pada 1568. Kaisar pun memberi kepercayaan kepada Nobunaga untuk mengendalikan militer. Kekuasaan Shogun Ashigaka yang bercokol selama 2,5 abad pun berakhir pada 1573.

Pada 1575 Nobunaga menjadi tentara paling berkuasa. Dia memberikan wewenang kepada anak tertuanya, Nobutada, untuk mengurusi Provinsi Owari dan Mino. Dia berangan-angan menyatukan seluruh wilayah Jepang. Oleh karena itu dia membangun Azuchi Castle di kota Ise, Prefektur Mie. Lokasi ini sangat strategis. Dekat dengan Kyoto sehingga mudah mengontrol arus lalu lintas di Tokaida dan Nakasendo. Juga mudah mengawasi lalu lintas di Danau Biwa. Pembangunan kastil ini lebih bermuatan politis ketimbang fungsi pertahanan atau religi.

Sebagai simbol kekuasaan dan penyatuan Jepang, Azuchi Castle dibuat megah. Kastil setinggi 40 meter ini terbuat dari tembok batu dengan berat 900 ton. Ruang paling atas berlapis emas. Diperlukan 10.000 lembar emas untuk menutupi ruang tersebut. Di ujung genteng kastil terdapat Shachihiko, singa bertubuh ikan. Simbol mistis ini bertinggi 1,8 meter dengan berat 300 kg. Juga dilapisi 5.000 lembar emas. “Emas melambangkan kemakmuran,” kata Osumi Toshio, company executive  Ize Azuchi Momoyama Bunkamura, kepada HaloJepang! belum lama ini.

Seperti Aslinya

Kemegahan Azuchi Castle dapat dilihat di Ise Azuchi Momoyama Bunkamura. Bangunan kastil dibuat seperti aslinya, termasuk bebatuan dan emas yang dipakai untuk mendirikan kastil. “Pembangunan kastil menelan biaya Y8 milyar. Total biaya yang dikeluarkan mencapai Y21 milyar,” jelas Osumi.  Pada bagian atas kastil terdapat ruang berlapis emas. Menurut Osumi, untuk membangun ruang berlapis 10.000 emas ini menghabiskan biaya Y80 juta.

Sebagai tempat pertahanan, kastil ini memiliki gerbang dari tembok batu yang disebut  Grand Yagura-mon. Tingginya lebih dari dua meter dengan pintu besar yang dijaga para prajurit. Dengan struktur bangunan seperti ini, musuh akan kesulitan memasuki kastil sebelum melumpuhkan prajurit yang berjaga di gerbang tersebut.

Selain kastil, di Ise Azuchi Bunkamura terdapat beberapa tempat hiburan seperti pertunjukan ninja, komedi, serta drama. Ada juga arena permainan. Misalnya, Iga House of Magic, Monster House, Ninja Fortress, Iga Trick Maze dan Haunted Temple. Tentu, tersedia restoran yang menyajikan menu khas daerah Ise.

Pengalaman Unik

Wahana bermain ini menggunakan tema periode perang (sengoku jidai). “Di sini pengunjung bisa merasakan pengalaman berada pada periode perang zaman dahulu yang tidak banyak ditawarkan oleh theme park lain,” kata Osumi berpromosi. Agar pengunjung merasakan nuansa masa lampau, tempat ini juga menyewakan baju khas Jepang mulai dari kimono, ninja hingga samurai.

“Suasana Jepang zaman dulu asyik buat foto-foto. Apalagi ada rental kimono segala. Jadi waktu saya ke sini, saya lebih asyik buat foto dengan suasana periode Jepang lama,“ ujar Dwinda Nafsiah, mahasiswa Mie University asal Indonesia.

Wahana bermain favorit di Ise Azuchi Bunkamura adalah Iga House of Magic, Ninja Fortress, dan Labyrinth. “Di Iga House of Magic kita ditantang berjalan lurus dan seimbang. Sulit karena lantai yang dilewati miring dan goyang,” jelas Osumi. Kesulitan sama ditemui saat melewati lorong maupun jembatan. Sementara itu, anak-anak menyukai Ninja Fortress karena banyak permainan. “Seru juga bisa coba-coba senjata ninja,” tambah Dwinda. Labyrinth juga menarik karena menguji kemampuan kita saat tersesat dan harus menemukan jalan keluar. Menguras tenaga dan pikiran.

Bagi yang senang dengan dunia gaib, bisa masuk ke Monster House. Nuansa seram sudah dimulai sejak pintu masuk di mana terdapat patung tanpa kepala dengan tangan kanan membawa samurai, sementara tangan kirinya memegang kepala yang terputus itu. Di belakang patung terdapat percikan darah seakan-akan menggambarkan pemenggalan kepala baru saja berlangsung. Di dalam ruang yang gelap gulita, kita akan menemukan berbagai macam hantu a la Jepang. Hantu-hantu itu muncul tak terduga bersamaan dengan suara horor nan menakutkan.

Sehabis bermain, tentu saja lapar. Jangan khawatir. Di wahana ini banyak restoran yang menawarkan berbagai menu. Namun menu khas yang paling diburu pelancong adalah Ise Udon dan Mike Donburi. Menurut Osumi, keduanya adalah makanan khas Ise yang reputasinya tak perlu diragukan. Ise Udon adalah mie dengan saus kental yang lezat.

Kecintaan anak-anak terhadap wahana ini nampak jelas pada bulan Oktober, saat musim studi tur tiba. “Oktober paling ramai. Peserta yang datang adalah murid dari Kansai dan Tokai. Tapi di luar musim itu, banyak pula  anak sekolah yang datang,” jelas Osumi. Di luar studi tur, Ise Azuchi Bunkamura ramai dikunjungi pelancong pada perayaan tahun baru (28 Desember – 5 Januari), Golden Week (28 April – 5 Mei), serta Musim Obon  (13-16 Agustus).

Mengincar Turis  Indonesia

Mayoritas pengunjung Azuchi adalah orang Jepang atau orang asing yang tinggal di Jepang. Guna menyedot lebih banyak pengunjung, termasuk pelancong asal Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia, manajemen membuat terobosan. “Kami bekerja sama dengan agen-agen perjalanan di luar negeri,” kata Osumi.

Berbagai promosi dilakukan melalui situs resmi perusahaan. Juga pengeriman direct email. “Kami rajin menghadiri acara yang diselenggarakan oleh asosiasi pariwisata lokal,” tambah Osumi. Mereka juga menggelar promosi bersama dengan tempat wisata lain yang berada di Prefektur Mie. Langkah ini diyakini dapat mendongkrak jumlah pelancong ke wilayah Mie, termasuk ke Ise Azuchi Momoyama Bunkamura.

Osumi pun merekrut mahasiswa Indonesia di Prefrektur Mie untuk dijadikan pemandu wisata. Mereka akan mendampingi pelancong asal Indonesia saat berwisata di sana agar lebih nyaman dan memahami segala hal yang ada di Ise Azuchi Momoyama Bunkamura. *

Advertisements

Kumano Nachi Taisha: Kuil Estetis Lambang Toleransi

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Kuil Kumano Nachi Taisha di semenanjung Kii, Prefektur Wakayama, sungguh eksotis. Tempat suci agama Shinto, kepercayaan asli bangsa Jepang, berada di puncak bukit yang berhawa dingin, berdekatan dengan air terjun Nachi setinggi 133 meter. Juga bersebelahan dengan tempat suci agama Budha Nachisan Seigantoji Temple. Kuil dan vihara di wilayah Kumano ini melambangkan toleransi beragama di Negeri Sakrura sudah terbina sejak ratusan tahun silam.

Kumano terletak 100 km di sebelah selatan Osaka, kota terbesar kedua di Jepang. Wilayah ini dikenal sebagai daerah suci. Terdapat tiga kuil ternama yang disebut Kumano Sanzan, yakni Hongu Taisha, Nachi Taisha dan Hayatama Taisha. Tiap tahun, masyarakat Jepang melakukan perjalanan suci (ziarah) ke kuil-kuil tersebut.

Rute ziarah yang disebut Kumano Kodo adalah jalur yang dilewati oleh kaisar dan tentara Jepang sejak masa kekuasaan Heian (794-1192). Jalur ini melintasi hutan dan perkebunan, desa dan kota-kota kecil yang membentang di wilayah Kansai. Di tengah perjalanan, pelancong bisa berendam di pemandian air panas atau menikmati kuliner khas Jepang.

Kumano Kodo mempunyai lima jalur utama: Nakahechi (Tenabe-Hongu Taisha), Ohechi (Shirahama-Nachi Taisha), Iseji (Ise-Hayatama Taisha), Kohechi (Koya-Hongu Taisha), serta Omine Okugake (Yoshino-Hongu Taisha). Jalur tersebut berangkat dari tempat berbeda di Prefektur Wakayama, Prefektur Nara, dan Prefektur Mie. Di setiap terminal bis, disediakan tongkat bambu yang bisa digunakan oleh pelancong untuk membantu dalam perjalanan. Kumano Nachi Taisha dan Kumano Kodo masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, 7 Juli 2004.

Melintasi Kumano Kodo memerlukan waktu lebih dari sehari. Juga stamina super prima, apalagi jika ke sana saat musim salju tiba. Untuk menyingkat waktu dan tenaga, pelancong bisa memilih jalan pintas melalui jalur Daimon-zaka. Hanya berjarak 650 meter dengan 267 anak tangga menuju Kumano Nachi Taisha. Pelancong tetap bisa menikmati keindahan pegunungan dengan pepohonan dan bambu-bambu besar yang eksotis. Apabila jalur ini masih terasa berat, pelancong bisa naik bis menuju Kumano Nachi Taisha. Meski dekat, jalanan menuju kuil berkelok-kelok sehingga hanya mobil kecil yang diizinkan naik ke jinja.

Membeli Omamori

Kumano Nachi Taisha dibangun tahun 317 pada masa Kaisar Nintoku. Kuil ini beberapa kali direnovasi, mulai zaman Tensho (1580), Shogun Tokugawa (1730), Syowa (1935), serta Showa (1983). Nachi Taisha mempunyai dua jinja utama, yaitu air terjun Nachi yang disebut Hiro Gongen dan bangunan di dekat air terjun yang dikenal dengan nama Kumano Nachi Gongen.

Walau Nachi Taisha adalah tempat suci, setiap pengunjung diizinkan masuk tanpa pantangan apa pun. Usai melintasi Torii, pintu gerbang kuil yang terdiri dari dua tonggak berwarna jingga, orang Jepang akan membasuh kedua tangannya dan berkumur di pancuran yang ada di dekat Torii. Ini bukan kewajiban. Jika pelancong malas menyentuh air gunung yang dingin, ritual ini bisa dilewatkan.

Usai membasuh tangan, pengunjung biasanya membeli Ofuda dan Omamori di samping kuil (jinja). Ofuda adalah kertas yang diyakini memiliki perlindungan dari Shinto dan diletakkan di Kamidana (replika jinja) yang ada di dalam rumah. Sedangkan Omamori adalah jimat untuk kepentingan pribadi. Ofuda dan Omamuri lama disucikan lalu dibakar di wadah bundar di depan jinja. Membakar Omamori yang sudah lama merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap Shinto yang telah melindungi seseorang sepanjang tahun. Setelah itu, pengunjung masuk ke dalam altar. Mencangkupkan kedua tangannya di depan dada dan berdoa. Ada pula yang membungkuk, kemudian menggoyangkan tali menjuntai yang ada di altar tersebut.

Berkunjung ke kuil tak bisa lepas dari Omamori. Jimat khas Jepang ini dijual di dekat jinja. Pembelinya bukan hanya orang Jepang yang mengharapkan perlindungan dari Shinto. Pelancong juga membeli Omamori sebagai souvenir. Beberapa Omamori yang dijual, antara lain: kanai anzen (jimat keberuntungan untuk kesehatan), koutsu anzen (jimat pelindung untuk pengemudi atau orang yang bepergian dengan kendaraan agar terhindar dari kecelakaan), enmusubi (jimat bagi para kekasih agar cinta mereka bertahan lama), anzan (jimat untuk para ibu hamil agar melahirkan dengan selamat), gakugyoujoju (jimat untuk pelajar agar berhasil dalam studi), dan shobaihanjo (jimat keberuntungan dalam melakukan bisnis). Kini, tampilan Omamori kian menarik dengan tokoh-tokoh kartun seperti Hello Kitty atau Doraemon.

Berdampingan dengan Vihara

Di sebelah Kumano Nachi Taishi berdiri Nachisan Seigantoji Temple. Tempat suci agama Budha ini dibangun pada abad keempat di era Kaisar Nintoku (313-399). Seigantoji adalah candi tertua di wilayah Kumano. Saat itu, pendeta Budha asal India yang bernama Ragyo melihat kemolekan air terjun Nachi yang memiliki tiga air terjun, masing-masing setinggi 133 meter, 13 meter dan 10 meter. Lalu dia membagun padepokan di dekat air terjun. Inilah bangunan asli dari Nachisan Seigantoji Temple. Sayang, bangunan asli vihara rusak ketika terjadi perang sipil yang dimotori oleh Oda Nobunaga. Kemudian vihara direnovasi tahun 1590 oleh Toyotomi Hideyoshi. Renovasi berikutnya dilakukan tahun 1972.

Berdirinya vihara yang bersebelahan dengan kuil Shinto di wilayah Kumano menunjukkan bahwa toleransi beragama di Jepang sudah terbina sejak ratusan tahun silam. Shinto adalah campuran dari ritual, mitos, kepercayaan, teknik ramalan, dan adat istiadat yang berakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Pada awalnya, keyakinan ini tak punya nama. Namun sejak munculnya agama Budha di Jepang pada abad keenam, keyakinan tersebut kemudian disebut Shinto (yang berarti jalan para dewa).

Dari abad keenam sampai abad kedelapan , Shinto dan Budha hidup berdampingan secara damai. Shinto banyak menyerap ajaran Budha, terutama yang berkaitan dengan upacara pemakaman. Maklum, Shinto tidak memiliki upacara untuk pemakaman seseorang. Meski Shinto sempat dijadikan agama resmi di Jepang pada 1868, akan tetapi saat ini pemerintah memberikan kebebasan kepada warganya untuk memilih agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. (*)

Nachi: Air Terjun Suci

Air Terjun Nachi yang berada di Nachikatsuura, Prefektur Wakayama, adalah salah satu air terjun yang termashur di Jepang. Dengan ketinggian mencapai 133 meter, Nachi adalah air terjun tunggal tertinggi di Negeri Sakura.

Di bagian atas air terjun terdapat dua batu besar yang diyakini menjadi pelindung bagi masyarakat. Tiap pagi, pendeta Shinto maupun Budha melakukan ritual di bawah air terjun nan memesona ini.

Sebagai tempat suci, pelancong tidak diizinkan memasuki area air terjun. Pelancong hanya diperbolehkan mendekati air terjun dari lokasi yang sudah ditentukan. Tidak boleh menyentuh air suci yang mengalir di balik bebatuan. (*)