Kobe University: Fakultas Kedokteran Menjadi Primadona

 

PENDIDIKAN-KOBE
HaloJepang! Edisi Mei 2015

Memiliki sejarah panjang sebagai lembaga pendidikan di bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran Kobe University menjadi salah satu primadona. Calon mahasiswa, baik asal Jepang maupun di luar Jepang berebut masuk ke fakultas tersebut. Di samping kedokteran, Fakultas Kelautan juga menjadi unggulan.

Kobe University yang berdiri 1949 mempunyai beberapa fakultas yakni Fakultas Sastra, Fakultas Studi Antarbudaya, Fakultas Pembangunan Manusia, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sains, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Kelautan, School of Business Administration, dan School of Medicine. Tiap fakultas memiliki program pasca sarjana.

Untuk kelas internasional, Kobe University memiliki Graduate School of International Cooperation Studies (GSICS) yang menyediakan program pasca sarjana dan doktoral. Program studi yang ada dalam program pasca sarjana meliputi Studi Internasional, Pembangunan dan Ekonomi, Hukum Internasional, serta Studi Wilayah dan Politik. Sementara untuk doktoral mempunyai departemen Kebijakan dan Pembangunan Ekonomi, Studi Kebijakan dan Kerjasama Internasional, dan Studi Kerjasama Regional.

Cikal bakal berdirinya Kobe Univerity adalah Kobe Higher Commercial School (1902). Lembaga ini adalah institusi pendidikan bisnis dan ekonomi tertua di Jepang. Tak mengherankan jika Kobe menjadi pusat studi ekonomi dan bisnis di Negeri Matahari Terbit.

Kendati lahir dari sekolah bisnis, justru Faklutas Kedokteran yang menjadi primadona. Hal ini tak lepas dari sejarah kampus tersebut. Kobe University dibentuk dari beberapa lembaga pendidikan. Banyak lembaga pendidikan kesehatan yang dilebur dalam kampus tersebut seperti Prefectural Technical College of Medicine yang berdiri 1944 (kemudian berubah menjadi Hyogo Prefectural College of Medicine) dan Kobe Prefectural College of Medicine (1952). Ada juga lembaga pendidikan di bidang pertanian, teknologi, bisnis, dan ilmu kelautan.

Lembaga pendidikan kesehatan tersebut berada di bawah koordinasi rumah sakit Kobe yang dibangun sejak 1869. Institusi medis ini memiliki riwayat meyakinkan dalam melahirkan tenaga kesehatan yang berkualitas. Wajar, jika Fakultas Kedokteran di Kobe University menjadi jurusan favorit. “Jurusan kedokteran (Faculty of Medicine) dan Faculty of Maritime adalah jurusan yang banyak diminati oleh mahasiswa international,” kata Tri Lestari, alumni program doktoral Business Administration.

Pertukaran Mahasiswa

Kobe University menjalin kerjasama dengan lebih dari 200 lembaga pendidikan, baik univeritas maupun fakultas, di berbagai negara.  Beberapa univeritas di Indonesia sudah bekerja sama dengan Kobe University. Univeritas Indonesia (Jakarta) mengadakan pertukaran mahasiswa untuk Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Teknik. Sementara dari Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Budaya. Fakultas Teknik Kobe University bekerja sama dengan Fakultas Teknik UI dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Fakultas Ilmu Kelautan Kobe Unversity memilih Institut Teknologi Sepuluh November (Surabaya) sebagai mitra kerja sama. Dengan Universitas Airlangga (Surabaya), Kobe University pernah bekerja sama  menanggulangi korban tsunami di Aceh dengan mengirimkan pakar di bidang kedokteran dan teknik yang dipimpin Profesor Hayashi Yoshitake. Mereka mengobati para korban dan merancang pembangunan infrastruktur di Serambi Mekah itu.

Kobe University Graduate School of Medicine memberi beasiswa Monbusho (MEXT) kepada mahasiswa UGM, UI, dan UNAIR untuk program master atau doktor. “Bisa juga beasiswa lainnya, misal Monbusho G to G, LPDP, Dikti dan lainnya,” kata Junaedy Yunus, mahasiswa program doktoral Developmental Neurobiology. Jurusan kedokteran tambah tersohor setelah salah satu alumni Kobe University, Shinya Yamanaka, mendapatkan hadiah nobel (2012) bidang fisiologi/kedokteran atas penemuan teknologi iPS (Induced pluripotent stem cells).

Makanan Halal

Tinggal di Kobe, lanjut Tri, memiliki beberapa kelebihan. Kobe adalah kota pelabuhan sehingga masyarakat sudah terbiasa dengan pendatang. “Tidak jarang imigran itu menetap di sana,” jelasnya. Di kota ini pula terdapat masjid tertua di Jepang, Masjid Kobe, yang dibangun 1928. Di masjid ini, mahasiswa Indonesia, menjalankan sholat Jumat bersama. Untuk mendapatkan makanan halal  juga mudah, tinggal datang ke China Town (Motomachi). “Di China Town ini orang Indonesia biasa belanja bahan makanan untuk membuat menu khas Indonesia,” ujar perempuan kelahiran Klaten, 7 Mei 1979 itu.

Di samping itu, lingkungan kampus juga nyaman untuk belajar. Fasilitas cukup lengkap antara lain perpustakaan, akses jurnal internsional, common lab dengan fasilitas yang canggih. “Terdapat mushola untuk mahasiswa muslim,” jelas Junaedy. Hanya sayangnya, fasilitas makanan halal di kantin kampus kedokteran belum ada. “Beda dengan kantin kampus utama di Rokko,” tambahnya. Sebagai informasi, kampus kedokteran (Kusunoki) terpisah jauh dari kampus utama (Kampus Rokko).

Biaya hidup di Kobe hampir sama dengan kota-kota besar di Jepang. Menurut Tri, dia memerlukan biaya sekitar  Y 150.000 per bulan. Hanya, Junaedy mengingatkan, biaya sewa apartemen mahal. Tetapi bagi yang sudah berkeluarga bisa mendaftar ke pemda Kobe untuk bisa menyewa apartemen murah milik pemerintah. *

 Ahli Neurobiology

Tamat dari Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta (2007), Junaedy Yunus meneruskan ke program master di kampus yang sama dan mengambil jurusan Anatomy & Embryology (2011). Pria kelahiran 9 Juni 1983 ini langsung melanjutkan ke program doktor ke Kobe University di bidang Developmental Neurobiology. “Saya mengambil jurusan ini karena profesor saya ahli dalam bidang pengembangan otak dan anatomi,” jelasnya.

Untuk belajar di Kobe University dia mendapatkan beasiswa dari Monbusho (MEXT) U to U. Dia harus bersaing dengan mahasiswa dari UI dan Unair.  Tiap tahun, Kobe University hanya memberikan jatah untuk  2-4 mahasiswa dari ketiga kampus tersebut.

Dia mengaku sangat tertarik dengan pengembangan otak dan anatomi. Kelak setelah lulus dia ingin menekuni bidang tersebut dan mengembangkannya di Indonesia.

Advertisements

Mie University: Kampus Favorit Mahasiswa Indonesia

Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015
Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015

Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam hayati (bioresources) yang  berlimpah. Ke depan SDA hayati akan berperan penting untuk menciptakan  kemakmuran masyarakat. Juga untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional. Sayang, pengetahuan tentang bioresources di negeri ini masih minim. Untuk itu, sebagian besar mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Mie University (Mie Daigaku), Kota Tsu, Prefektur Mie, Jepang memilih belajar di Fakultas Bioresources.

Fakultas Bioresources di Universitas Mie memiliki sejarah panjang.  Saat universitas ini berdiri pada 1949, perguruan tinggi yang terletak di Jepang Tengah tersebut hanya memiliki dua fakultas yaitu Fakultas Pertanian (Agriculture) dan Fakultas Seni (Liberal Arts). Fakultas Pertanian terdiri dari Jurusan Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Jurusan Kehutanan, dan Jurusan Industri Pertanian. Fakultas Pertanian terus berkembang dengan membuka jurusan baru, pengembangan lahan praktik serta membuka program master.

Seiring dengan kemajuan kampus, tahun 1972 Universitas Mie mendirikan fakultas baru yaitu Fakultas Perikanan. Tak lama kemudian, menyusul pendirian laboratorium, pembentukan program master hingga pembuatan kapal praktik Seisui Maru.  Tahun 1987, Fakultas Pertanian dan Fakultas Perikanan dilebur menjadi Fakultas Bioresources.  Selanjutnya, berdiri program master (1988) serta program doktoral (1991). Fakultas Bioresources mempunyai tiga jurusan yakni Life Sciences, Envrionmental Science and Technology, dan Sustainable Resources Science. Universitas Mie adalah universitas pertama di Jepang yang memiliki Fakultas Bioresources.

Melihat sejarah panjang Fakultas Bioresources di Universitas Mie, maka wajar jika animo mahasiswa Indonesia untuk mengambil jurusan ini tinggi. “Mahasiswa Indonesia paling banyak ada di Fakultas Bioresources,” ujar Dwinda Nafisah Nurinsiyah, mahasiswa Graduate School of Bioresources, Universitas Mie, kepada HaloJepang! baru-baru ini.

Menurut Dwinda, Universitas Mie memiliki kerja sama dengan kampus yang ada di Indonesia seperti  Universitas Padjadjaran (Bandung), Universitas Sriwijaya (Palembang), Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Halu Uleo (Kendari). ” Tapi ada juga mahasiswa PhD yang berasal dari UI dan Universitas di Papua seperti Universitas Manokwari,” tambah alumni Sastra Jepang Universitas Padjadjaran itu. Beberapa dari mahasiswa Indonesia merupakan mahasiswa pertukaran pelajar, Double Degree Program Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan Nasional dan Beasiswa Direktorat Pendidikan Tinggi.

Nyaman dan Muslim Friendly

Mahasiswa asal Indonesia memilih Universitas Mie karena lokasi ini cukup tenang. Kota Tsu, Prefektur Mie adalah kota kecil di Jepang Tengah. Jauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Tokyo atau Osaka. “Lokasinya tidak terlalu ramai sehingga nyaman untuk belajar,” jelas wanita berhijab ini.

Di kota kecil, selain tenang, biaya hidup juga lebih murah dibanding kota lainnya. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Arfan Abrar dari PPIJ (Persatuan Pelajar Indonesia Jepang) Komisariat Mie Prefektur, biaya hidup per bulan untuk mahasiswa berkisar 80.000 Yen. Rinciannya: tempat tinggal 20.000 yen, gas, listrik, air 6.700 yen,  makan 27.200 yen, transportasi, asuransi, komunikasi 18.000 yen, lain-lain 8.100 yen. Survei dilakukan terhadap mahasiswa yang tinggal di apato (apartemen) dan asrama. Jumlah tersebut bisa lebih besar atau lebih kecil tergantung gaya hidup masing-masing.

Daya tarik lainnya adalah lingkungan kampus yang Islami. Berkat perjuangan mahasiswa Indonesia, kampus memberikan sebuah ruangan di lantai empat untuk dijadikan mushola. “Dulu kita sholat di lantai tujuh,” jelas Arfan Abrar.  Sekarang, mushola ini digunakan oleh seluruh mahasiswa muslim, termasuk dari Banglades dan Afganistan. Untuk sholat Jumat atau sholat Idul Fitri, mahasiswa bisa mengunjungi masjid Mie yang berada di belakang kampus.

Mendapatkan makanan halal di Mie pun gampang. Di dekat masjid Mie ada toko yang menjual makanan halal. Di beberapa super market, tersedia makanan yang terbuat dari sayuran atau ikan, serta daging berlabel halal. Lingkungan yang tenang, biaya hidup murah serta bersahabat terhadap muslim membuat Universitas Mie menjadi salah satu universitas favorit bagi mahasiswa asal Indonesia. (*)

Lingkungan Hidup (Untuk box kecil)

Lulus S1 Sastra Jepang  Universitas Padjadjaran, saya bekerja sebagai penyiar radio di Bandung, Jawa Barat dan membawakan program Go Green. Di sinilah minat saya terhadap lingkungan meningkat.  Saya pun memilih untuk belajar tentang ekowisata di Mie University. Kampus ini dekat dengan Taman Nasional Ise Shima sehingga saya bisa belajar banyak tentang ekowisata di tempat ini.

Kebanyakan mahasiswa Indonesia yang kuliah di sini awalnya merupakan mahasiswa joint degree atau pertukaran pelajar di Graduate School of Bioresources. Mereka betah kemudian apply untuk melanjutkan PhD. Program Pasca Sarjana Fakultas Bioresources memiliki kerja sama dengan universitas di Indonesia.

Saya mendapatkan Beasiswa Unggulan Kemendiknas untuk belajar Biorsources di Universitas Mie. Besarnya beasiswa 80.000 yen per bulan. Cukup untuk hidup tapi pas-pasan. Karena itu saya juga menjadi freelance guide di Ike Bunkamura setiap Sabtu dan Minggu. (*)

Naruto University of Education: Fokus Mendidik Guru

 

PENDIDIKAN - NARUTO
HaloJepang! Edisi Mei 2015

Menyadari pentingnya peran guru dalam mendidik generasi muda, pemerintah Jepang mendirikan Naruto University of Education (NUE) pada 1 Oktober 1981. Di sini, calon guru digembleng agar menjadi pendidik berstandar Jepang. Termasuk mahasiswa asing asal Indonesia, Korea, dan Taiwan.

Kesadaran terhadap pentingnya mendirikan universitas yang memfokuskan kepada pendidikan sudah dimulai sejak 1974. Pada 20 Mei, sebuah komite pendidikan di Kementerian Pendidikan, Ilmu, dan Budaya Jepang (MESC) sudah membuat laporan mengenai konsep baru untuk mendidik calon guru.

Pada awal berdiri, NUE masih nebeng di Tokushima University. Pembangunan gedung perkantoran dan tempat kuliah baru selesai pada 1984. Pembangunan fasilitas lain, seperti perpustakaan, asrama mahasiswa, tempat penelitian, tempat pelatihan guru, gedung untuk program master dan doktoral dilakukan secara bertahap sampai 2001.

“Jadi NUE atau Narukyo ini semacam IKIP di Indonesia dulu. Universitas ini fokus di dunia pendidikan dan menghasilkan guru-guru yang memiliki ilmu dan teknik mengajar yang efektif di bidangnya,” jelas Sonny Elfiyanto, alumni NUE, program Diploma TEFL (Teaching English as Foreign Language).

Menurut pria kelahiran Malang, 28 Januari 1980 itu jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi jurusan favorit untuk jenjang sarjana, sedangkan untuk program pasca sarjana, jurusan Psiokologi menjadi primadona. “Psikologi merupakan jurusan yang sangat kompetitif karena jurusan ini termasuk langka, lebih menjurus ke pelatihan pada psikologi klinis,” tambah Sonny.

Studi Lapangan

Sonny adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang belajar di Jurusan TEFL tahun ajaran 2014-2015. Dari data yang ada di NUE, hampir semua mahasiswa Indonesia yang belajar di kampus ini mengambil jurusan TEFL. “Di Jurusan Bahasa Inggris, mahasiswa bisa melakukan riset tentang keinginan mereka untuk menjadi guru pada tingkat satuan apa, misalnya ingin menjadi guru di tingkat SD, SMP atau SMA,” jelas Sonny.

Di kelas tersebut, mahasiswa melakukan studi lapangan dengan melakukan penelitian selama setahun. Mereka membuat materi pengajaran, mempraktekkan di kelas, menganalisa kelebihan serta kekurangannya dan melaporkannya di forum pertemuan. Melalui studi lapangan ini, akan diperoleh metode yang paling tepat untuk mengajar di sebuah satuan pendidikan.

Untuk menguji metode pengajaran yang diterpakan, NUE memiliki beberapa sekolah yang berada di bawah pengawasannya (attached schools) mulai dari SD hingga SMA, dan juga SLB. Guru-guru di attached school ini bisa berkonsultasi dengan para profesor di NUE jika mereka mengalami kendala dalam mengajar. “Dengan senang hati profesor NUE melayani para guru. Mereka siap jika diminta bantuannya sebagai pakar jika para guru mengadakan studi banding,” kata mantan pengajar bahasa Inggris di berbagai SMK di Malang dan mantan dosen Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Kampus Idaman

Kampus seluas 238.208 m­­2  menjadi salah satu kampus idaman, khususnya bagi mahasiswa asing. Selain fasilitas yang memadai,  lingkungannya juga kondusif untuk belajar. Biaya hidup di wilayah ini pun lebih murah dibandingkan kota-kota besar di Jepang. “Biaya hidup menjadi keunggulan kampus ini,” jelas Sonny. Harga sewa asrama mahasiswa – yang lokasinya di sebelah kampus- untuk kamar single Y4.300, sedang untuk kamar keluarga ada dua tipe, yakni seharga Y11.900 yen dan  Y9.500 per bulan. “Jika ditotal dengan listrik, gas serta air, perbulannya tidak lebih dari Y25.000,” tambahnya. Untuk makan, jika masak sendiri mungkin tidak lebih dari Y15.000 per bulan. Jadi dengan uang sekitar Y60.000 yen, mahasiswa sudah bisa hidup.

Sayangnya, NUE belum menjalin kerjasama dengan kampus di Indonesia. Mereka baru bermitra  dengan Gyeongin National University of Education dan Gwangiu National University of Education di Korea, University of Puget Sound, University of North Carolina, East Carolina University, dan Western Carolina University di Amerika, serta  University of Taipei di Taiwan. Kendati demikian, mereka bekerjasama dengan JASSO (Japan Student Service Organization) dan pemerintah Indonesia dalam hal peningkatan kemampuan staf pendidik di Indonesia untuk bisa memperoleh gelar master dari kampus ini.

Untuk mendapatkan beasiswa di kampus ini, bisa melalui beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Jepang lewat Monbusho ataupun beasiswa melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. *

Diploma TEFL

Sonny Elfiyanto mendapat beasiswa dari  MEXT (Monbusho) untuk program teacher training. Dia mengambil Diploma TEFL (Teaching English as Foreign Language). Banyak yang bertanya kenapa dia belajar Bahasa Inggris di Jepang, yang Bahasa Inggris mereka juga tidak terlalu baik. Dia belajar ke Jepang karena bidang penelitiannya adalah perbandingan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia dengan negara yang memperlakukan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, bukan sebagai bahasa kedua atau bahasa ibu. Sangat relevan jika dia memilih studi ke Jepang.

Alasan lain, dia adalah guru Bahasa Inggris di Kota Malang, Jawa Timur. Jadi, jurusan inilah yang bisa meningkatkan kemampuan dia sebagai guru Bahasa Inggris sehingga  bisa menjadi panutan yang baik bagi murid-muridnya nanti.

Seleksi untuk teacher training di Indonesia lumayan ketat. Dari sekitar 1.000 pelamar hanya dipilih 14 orang. Seleksinya dilakukan serentak di 5 kota besar di Indonesia, setelah itu dipanggil ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk tes wawancara dan tertulis. Mulai 2014, kuota beasiswa ini meningkat menjadi 24 orang. *