Kato Hiroaki: Mempopulerkan Budaya Indonesia ke Jepang

INSPIRASI-KATO
HaloJepang! edisi April 2015

Tak ada darah Indonesia yang mengalir dalam diri Kato Hiroaki, namun kecintaannya kepada  Indonesia tak perlu diragukan. Sempat balik ke Jepang setelah menyelesaikan studi Linguistik Bahasa Indonesia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Hiro –panggilan sehari-harinya- memilih menetap di nusantara. Dia terus berkarya dan mengenalkan Indonesia ke ‘Saudara Tua’.

Lelaki jangkung kelahiran Tokyo, 9 Maret 1983 itu disibukkan dengan berbagai aktifitas berbau Indonesia: menjadi penerjemah bagi perusahaan Jepang, pembaca acara, penyanyi atau dosen Bahasa Indonesia paruh waktu di Sophia University dan Oberin University, Jepang. Di tengah-tengah kesibukannya, pria yang gemar memakai baju batik ini menyempatkan diri berbincang-bincang dengan HaloJepang! Berikut petikan wawancaranya.

HaloJepang! (HJ): Sejak kapan Anda tertarik dengan budaya Indonesia?

Kato Hiroaki (KH): Saya mulai tertarik dengan Indonesia saat seorang dosen membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sejak itu, saya bertekad untuk belajar Bahasa Indonesia. (Buku ini menjadi fenomenal karena sempat dilarang oleh rezim Orede Baru, namun penjualannya tetap menakjubkan).

HJ: Kapan Anda mulai serius belajar Bahasa Indonesia?

KH: Tahun 2006. Saat itu ada pertukaran mahasiswa ke Indonesia. Saya langsung mendaftar dan diterima di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Saya setahun belajar Bahasa Indonesia.

HJ: Apakah Anda juga belajar sastra di Yogyakarta?

KH: Saya tertarik dengan sastra modern. Saya membaca novel-novel seperti Super Nova, Perahu Kertas dan Laskar Pelangi.  Saya nonton film Laskar Pelangi dan membaca novelnya. Dua tahun saya baru bisa memahami isi dan cerita Laskar Pelangi itu.

HJ: Mengapa Anda menerjemahkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?

KH: Topik Laskar Pelangi bersifat universal. Soal pendidikan. Faktor lain adalah apa yang ada dalam cerita novel tersebut, tidak ada di Jepang saat ini. Di sana, orang mudah untuk mendapatkan pendidikan. Bagi mereka, cerita perjuangan berat anak-anak desa untuk memperoleh pendidikan tinggi sangat memikat.

HJ: Bagaimana respon masayarakat Jepang terhadap novel Laskar Pelangi?

KH: Mereka sangat antusias. Terutama yang usianya di atas 50 tahun. Mereka merasakan sesuatu  seperti dalam cerita itu. Novel tersebut sudah laku 5.000 buku. Itu sangat besar. Untuk buka asing, bisa laku 1000 saja sudah bagus.  Saya ingin menerjemahkan novel Sang Pemimpi, lanjutan Laskar Pelangi.

HJ: Selain menggeluti sastra, Anda juga menekuni musik. Anda juga menerjemahkan lagu-lagu Indonesia ke Bahasa Jepang?

KH: Saya senang musik Indonesia. Saat di Yogyakarta, saya sering main ke studio milik grup band Letto. Kebetulan saya kenal dengan vokalisnya, Noe. Saya juga menerjemahkan beberapa lagu milik Letto, seperti Ruang Rindu. Tak mudah menerjemahkan lagu. Saya perlu waktu satu bulan. Tapi, hasilnya membuat Letto senang. Saya juga menerjemahkan lagu Laskar Pelangi (Nidji) dan Sepatu (Tulus).

HJ: Apakah lagu Indonesia yang Anda terjemahkan dibawakan juga di Jepang?

KH: Selain saya upload ke Youtube, saya pun sering membawakan lagu-lagu Indonesia, baik versi asli maupun terjemahan, di kafe-kafe di daerah Shibuya dan Harajuku. Mereka menyukai lagu-lagu pop Indonesia. Saat saya nyanyi, sebagian orang sudah ikut bernyanyi. Masyarakat Jepang yang belajar tentang Indonesia juga semakin bertambah.

HJ: Apakah Anda juga membuat lagu dalam Bahasa Indonesia?

KH: Saya pernah mengeluarkan mini album berjudul Terima Kasih (2010). Saya juga berencana membuat mini album kedua dan full album. Dalam album ini saya akan menciptakan lagu Bahasa Indonesia dengan memasukkan unsur-unsur musik tradisional.

HJ: Selama bermusik, Ada sudah berkolaborasi dengan siapa saja?

KH: Saya sering menjadi penyanyi pembuka untuk beberapa artis. Sekarang saya sering tampil bareng Tulus. Saya senang dengan lagu-lagunya. Saya ingin menerjemahkan beberapa lagu Tulus yang sedang menjadi hits.

HJ: Di samping mengenalkan budaya Indonesia melalui sastra dan lagu, Anda pun tampil di film pendek berbahasa Indonesia?

KH: Saya main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’. Film tersebut menang di Festival Film Indonesia 2006, menyabet The Best Short Film di Korea (2006), serta mendapat sambutan meriah di Festival Film Pendek Jepang 2007.

HJ: Kegiatan apa yang Anda kerjakan saat ini berakitan dengan seni dan budaya?

KH: Saya sedang fokus menggarap lagu-lagu karya Andre Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dan penyanyi wanita Meda Kawu.

PROFIL:

Lahir                                      : Tokyo, 9 Maret 1983

2006-2007                            : Kuliah Bahasa Indonesia di UGM, Yogyakarta

April 2006                            : Main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’

April 2009                            : Mengajar Privat Bahasa Indonesia

April 2010                            : Lulus Pasca Sarjana Tokyo University of Foreign Studies Graduate Degree

September 2010               : Rilis mini album ‘Terima Kasih’

Oktober 2013                     : Menerbitkan novel Laskar Pelangi dalam bahasa Jepang.

Hiroshima University: Mencetak Guru Berkualitas

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Horishima University adalah satu-satunya kampus di Jepang yang menawarkan jurusan Peace. Jurusan ini mengingatkan  pada Perang Dunia II di mana Hiroshima adalah salah satu kota yang dihujani bom atom oleh Sekutu sehingga Jepang takluk. Walau memiliki jurusan langka, sebagian besar mahasiswa Indonesia lebih suka memilih kuliah di Graduate School of International Development and Cooperation (IDEC) saat menimba ilmu di kampus ini.

IDEC favorit karena kelas international sehingga menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. “Jadi tidak ada syarat untuk bisa berbahasa Jepang,” kata Siti Maimunah, mahasiswa PhD jurusan Environmental Economic Laboratory, IDEC, Hiroshima University. Jurusan yang ada di IDEC beraneka ragam seperti Development Policy, Development Technology, Education, Culture serta Peace. Menurut May, sapaan sehari-hari Siti Maimunah, sekitar 30% mahasiswa Indonesia kuliah di IDEC.

Namun, setahun belakangan ini Fakultas Teknik mulai dilirik mahasiswa Indonesia karena fakultas ini banyak menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia termasuk adanya pertukaran mahasiswa selama 3 bulan, 6 bulan dan setahun. “Fakultas Teknik memiliki jumlah mahasiswa terbanyak di Hiroshima University,” lanjut May.

Hiroshima University mempunyai 3 kampus yaitu di Higashi Hiroshima, Kasumi dan Hiroshima City. Kampus utama berada di Higashi Hiroshima (Saijo), kota kecil yang terletak sekitar 30 km dari Hiroshima City. “Kotanya tidak terlalu ramai sehingga nyaman untuk belajar. Fasilitas lengkap. Ada fasilitas olahraga untuk melampiaskan kepenatan setelah belajar,” jelas peneliti di Kementerian Perhubungan Republik Indonesia ini.

Selain itu, sejak 2002, di Higashi Hiroshima juga terdapat masjid. Umat muslim tidak kesulitan untuk  sholat berjamaah maupun sholat Jumat. Pada bulan Ramadhan di masjid ini disedikan iftar dan sholat tarawih.

Top Global Universities

Tahun 2014, Hiroshima University dinobatkan sebagai  Japan’s 13 Top Global Universities. Hiroshima University dikenal sebagai kampus penghasil guru. Kampus tersebut menjadi rujukan bagi mayoritas fakultas pendidikan di Negeri Matahari. Dilihat dari sejarah berdirinya, Hiroshima University pantas menjadi kiblat pendidikan guru.

Kampus yang berdiri pada 31 Mei 1949 ini dibentuk dari delapan komponen yakni  Hiroshima University of Literature and Science, Hiroshima Higher Normal School, Hiroshima Normal School, Hiroshima Women’s Higher Normal School, Hiroshima Young Men’s Normal School, Hiroshima High School, Hiroshima Higher Technical School, dan Hiroshima Municipal Higher Technical School. Tahun 1953, Hiroshima Prefectural Medical University turut bergabung ke Hiroshima University.

Beberapa komponen yang melebur ke Hirsohima University memiliki tradisi kuat sebagai pencetak guru berkualitas. Hiroshima Higher Normal School yang berdiri 1902 dikenal sebagai pusat pelatihan untuk guru sekolah menengah di Jepang. Sedangkan pendidikan keguruan di Hiroshima University of Literature and Science yang dibentuk 1929 serta Hiroshima Higher Normal School dibimbing oleh Kementerian Pendidikan Jepang.  “Fakultas terbaik di Hiroshima University adalah Faculty of Education. Fakultas ini perintis berdirinya Hiroshima University dan sebagai salah satu fakultas pendidikan tertua di Jepang,” kata wanita kelahiran Malang, 23 Mei 1978 itu.

Hiroshima University banyak menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajahmada, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Brawijaya, Universitas Hassanuddin dan beberapa kampus negeri lainnya. Program double degree antara UI dan UGM sudah berjalan 6 tahun dan sekarang masuk peridoe kedua untuk 6 tahun ke depan. Program tukar pelajar, short visit, short courses dan beberapa program lain sudah berjalan.

Menurut May, biaya hidup di kampus ini berkisar Y 100.000 (single) dan minimal Y 150.000 untuk keluarga. “Tempat tinggal rata-rata  Y 15.000 (dormitory), tapi kalau di luar dormitory bisa Y 25.000- Y 45.000,” jelasnya. Pengeluaran untuk gas antara Y 4.000 – Y 15.000, listrik dan air Y 5.000 – Y 10.000, makan Y 30.000 – Y 60.000, transportasi, asuransi, komunikasi Y 20.000, serta lain-lain Y 5.000. (*)

 

Development Policy

Lulus dari Jurusan Statistik, Institut Pertanian Bogor saya bekerja sebagai peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan. Kemudian saya mendapat beasiswa double degree dari Bapenas (2007-2009) untuk mengambil master di UI-Hiroshima University. Saya mengambil jurusan Environmental Economic Laboratory (Development Policy).

Saya memilih jurusan ini karena saya peneliti di bidang transportasi darat. Saya sedang melakukan penelitian terkait efektivitas penyediaan angkutan umum melalui implementasi kebijakan-kebijakan cross boundary sehingga bisa mengurangi kemacetan di Jakarta. Selain itu, di jurusan ini saya juga belajar tentang lingkungan. Terkait isu perubahan iklim dan juga polusi termasuk polusi kendaraan bermotor dan dampaknya secara ekonomi.

Tahun 2012 saya melanjutkan ke jenjang doktoral dan mendapatkan beasiswa Monbukagakusho (MEXT special program). Jurusan saya adalah Development Policy di bawah Graduate School of International Development and Cooperation (IDEC). Saya mendapat beasiswa Y 145.000 setiap bulan. (*)

Nonaka Kazuto: Membangun Karakter Melalui Bisbol

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Bermain bisbol bukan sekedar olahraga fisik tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian. Melalui bisbol, orang diajarkan untuk bekerja keras, berpikir strategis serta bekerja sama dengan orang lain. Lewat bisbol pula orang akan menghargai sebuah proses dan tak melulu melihat kepada hasil.

“Bisbol mengharuskan orang untuk kerja tim,” ujar Nonaka Kazuto, pelatih Timnas Bisbol Indonesia kepada HaloJepang! belum lama ini. Menurut pria kelahiran Tokyo,  6 Juni 1961 itu, pemain Indonesia harus meningkatkan kerja sama tim. Kelemahan dalam kerja sama ini, menjadikan Indonesia hanya bagus untuk olahraga perorangan. “Indonesia bagus di tinju dan bulu tangkis. Untuk olahraga tim masih kurang,” tambahnya.

Guna membangun sebuah tim yang solid diperlukan waktu dan tenaga ekstra. “Butuh tiga tahun. Berlatih tiap hari tanpa libur,” kata Nonaka serius. Dia tak main-main. Totalitasnya dalam membina olahraga bisbol di Indonesia sudah teruji.  Dia memulai karir sebagai pelatih bisbol tim Red Sox di Bali pada 2006. Berkat kesuksesannya membesut Red Sox, Nonaka ditunjuk menjadi pelatih timnas bisbol Indonesia dari 2007-2010.

Jeda dari timnas, dia menjadi arsitek tim bisbol provinsi Jawa Timur (2011-2012) dan Vio Club, Surabaya (2013). Berkat tangan dingin Nonaka, tim bisbol Jatim mampu berbicara banyak di kancah bisbol nasional. Ironisnya, prestasi timnas bisbol Indonesia malah merosot. Untuk itu, Nonaka diminta menangani timnas Indonesia lagi sejak 2014 lalu.

Dia mengakui, untuk membentuk tim bisbol  Indonesia yang hebat tidak mudah. Bisbol bukan olahraga favorit sehingga minat sponsor terhadap olahraga ini juga kurang. Akibatnya, penghasilan pemain bisbol pun kalah dibandingkan olahraga lain seperti sepak bola  atau bulu tangkis. Kendati demikian, Nonaka meyakinkan, bisbol memiliki prospek cerah khususnya di luar negeri. Penghasilan altet bisbol di Amerika Serikat hanya sedikit di bawah pembalap Formula One.

Menjadi pemain bisbol profesional, lanjutnya, bisa dijadikan pekerjaan dan menghasilkan uang. Beberapa atlet bisbol Jepang pun memilih bermain di Amerika Serikat yang memberikan gaji dan fasilitas menggiurkan.  Oleh karena itu, dia meminta pemain bisbol Indonesia tak perlu gamang dengan masa depannya.

Kembali Jaya

Keputusan Perserikatan Bisbol & Softball Seluruh Indonesia (Perbasasi) mengundang kembali Kazuto Nonaka untuk melatih timnas dilandasi atas keinginan untuk mengembalikan kejayaan bisbol di negeri tercinta ini. Di era Nonaka (2007-2010) Indonesia untuk kali pertama menyabet Piala Asia (Asian Cup) 2009 di Thailand. Sebelumnya, di SEA Games 2007 di Thailand, Indonesia merebut medali perunggu.

Masa kejayaan bisbol berakhir setelah Nonaka tak lagi menjabat sebagai pelatih. Bahkan, Indonesia tidak mengirimkan tim bisbol di Sea Games 2011 dan 2013 karena dianggap peluang mendapatkan medali sangat kecil. Saat itu, Indonesia hanya mengirim atlet yang berpotensi menggondol medali.

“Banyak mantan murid saya yang menelepon. Minta saya untuk menjadi pelatih lagi,” ujar Nonaka dengan mimik serius. Atlet bisbol pantas resah lantaran Indonesia tidak bisa tampil di ajang Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta. Kita hanya menjadi tuan rumah dan penonton atlet bisbol Asia berlaga.

Sembari melatih, Nonaka berkeinginan pula memopulerkan bisbol ke masyarakat. Caranya bisa bermacam-macam. “Kita kirim pemain Indonesia ke Jepang. Mereka berlatih dan mendapat support dari sana,” jelas lelaki yang suka meditasi itu. Pihaknya juga berupaya mendatangkan bintang bisbol asing ke Indonesia agar mendapatkan ekspos dari media massa. “Peran televisi dan media massa penting untuk mengangkat pamor bisbol,” tambahnya.

Ketika melatih timnas bisbol, Nonaka menekankan pada pentingnya kerja sama dan kerja keras seluruh tim. Tak segan-segan dia mengajak anak didiknya berlatih ke Jepang, negeri di mana bisbol mendapatkan tempat terhormat. Di sana, timnas melakukan latih tanding melawan tim-tim papan atas dari beberapa perusahaan ternama seperti Toshiba, Honda, dan Mitsubishi.

Kini, Ketua Yayasan Bali Indah Ciptakarya itu berharap kejayaan Bisbol Indonesia kembali terulang. Kerja keras saja belumlah cukup. Latihan fisik harus diimbangi dengan kemampuan teknis. Menurutnya, bisbol memerlukan fisik dan stamina tangguh ditopang teori, teknik, dan mental bertanding.

Melalui kerja sama apik di antara semua pemangku kepentingan, Nonaka yakin tim bisbol Indonesia bisa menyumbang medali di ajang Sea Games. Bila Sea Games 2017 di Malaysia belum bisa meraih juara maka pada Sea Games 2019 Indonesia harus merebut medali emas. Semoga!

Profil Kazuto Nonaka

1961                       : Lahir di Tokyo, 6 Juni

1984                       : Lulus Universitas Nihon, Jurusan Administrasi Bisnis

2006                       : Pelatih Tim Bisbol Red Sox,  Bali

2007-2010            : Pelatih Timnas Bisbol Indonesia

2011-2012            : Pelatih Bisbol Provinsi Jawa Timur

2013                       : Pelatih Tim Bisbol VIO Club , Surabaya

2014                       : Pelatih Tim Bisbol Red Sox,  Bali

2014-Sekarang  : Pelatih Timnas Bisbol Indonesia

Kumano Nachi Taisha: Kuil Estetis Lambang Toleransi

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Kuil Kumano Nachi Taisha di semenanjung Kii, Prefektur Wakayama, sungguh eksotis. Tempat suci agama Shinto, kepercayaan asli bangsa Jepang, berada di puncak bukit yang berhawa dingin, berdekatan dengan air terjun Nachi setinggi 133 meter. Juga bersebelahan dengan tempat suci agama Budha Nachisan Seigantoji Temple. Kuil dan vihara di wilayah Kumano ini melambangkan toleransi beragama di Negeri Sakrura sudah terbina sejak ratusan tahun silam.

Kumano terletak 100 km di sebelah selatan Osaka, kota terbesar kedua di Jepang. Wilayah ini dikenal sebagai daerah suci. Terdapat tiga kuil ternama yang disebut Kumano Sanzan, yakni Hongu Taisha, Nachi Taisha dan Hayatama Taisha. Tiap tahun, masyarakat Jepang melakukan perjalanan suci (ziarah) ke kuil-kuil tersebut.

Rute ziarah yang disebut Kumano Kodo adalah jalur yang dilewati oleh kaisar dan tentara Jepang sejak masa kekuasaan Heian (794-1192). Jalur ini melintasi hutan dan perkebunan, desa dan kota-kota kecil yang membentang di wilayah Kansai. Di tengah perjalanan, pelancong bisa berendam di pemandian air panas atau menikmati kuliner khas Jepang.

Kumano Kodo mempunyai lima jalur utama: Nakahechi (Tenabe-Hongu Taisha), Ohechi (Shirahama-Nachi Taisha), Iseji (Ise-Hayatama Taisha), Kohechi (Koya-Hongu Taisha), serta Omine Okugake (Yoshino-Hongu Taisha). Jalur tersebut berangkat dari tempat berbeda di Prefektur Wakayama, Prefektur Nara, dan Prefektur Mie. Di setiap terminal bis, disediakan tongkat bambu yang bisa digunakan oleh pelancong untuk membantu dalam perjalanan. Kumano Nachi Taisha dan Kumano Kodo masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, 7 Juli 2004.

Melintasi Kumano Kodo memerlukan waktu lebih dari sehari. Juga stamina super prima, apalagi jika ke sana saat musim salju tiba. Untuk menyingkat waktu dan tenaga, pelancong bisa memilih jalan pintas melalui jalur Daimon-zaka. Hanya berjarak 650 meter dengan 267 anak tangga menuju Kumano Nachi Taisha. Pelancong tetap bisa menikmati keindahan pegunungan dengan pepohonan dan bambu-bambu besar yang eksotis. Apabila jalur ini masih terasa berat, pelancong bisa naik bis menuju Kumano Nachi Taisha. Meski dekat, jalanan menuju kuil berkelok-kelok sehingga hanya mobil kecil yang diizinkan naik ke jinja.

Membeli Omamori

Kumano Nachi Taisha dibangun tahun 317 pada masa Kaisar Nintoku. Kuil ini beberapa kali direnovasi, mulai zaman Tensho (1580), Shogun Tokugawa (1730), Syowa (1935), serta Showa (1983). Nachi Taisha mempunyai dua jinja utama, yaitu air terjun Nachi yang disebut Hiro Gongen dan bangunan di dekat air terjun yang dikenal dengan nama Kumano Nachi Gongen.

Walau Nachi Taisha adalah tempat suci, setiap pengunjung diizinkan masuk tanpa pantangan apa pun. Usai melintasi Torii, pintu gerbang kuil yang terdiri dari dua tonggak berwarna jingga, orang Jepang akan membasuh kedua tangannya dan berkumur di pancuran yang ada di dekat Torii. Ini bukan kewajiban. Jika pelancong malas menyentuh air gunung yang dingin, ritual ini bisa dilewatkan.

Usai membasuh tangan, pengunjung biasanya membeli Ofuda dan Omamori di samping kuil (jinja). Ofuda adalah kertas yang diyakini memiliki perlindungan dari Shinto dan diletakkan di Kamidana (replika jinja) yang ada di dalam rumah. Sedangkan Omamori adalah jimat untuk kepentingan pribadi. Ofuda dan Omamuri lama disucikan lalu dibakar di wadah bundar di depan jinja. Membakar Omamori yang sudah lama merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap Shinto yang telah melindungi seseorang sepanjang tahun. Setelah itu, pengunjung masuk ke dalam altar. Mencangkupkan kedua tangannya di depan dada dan berdoa. Ada pula yang membungkuk, kemudian menggoyangkan tali menjuntai yang ada di altar tersebut.

Berkunjung ke kuil tak bisa lepas dari Omamori. Jimat khas Jepang ini dijual di dekat jinja. Pembelinya bukan hanya orang Jepang yang mengharapkan perlindungan dari Shinto. Pelancong juga membeli Omamori sebagai souvenir. Beberapa Omamori yang dijual, antara lain: kanai anzen (jimat keberuntungan untuk kesehatan), koutsu anzen (jimat pelindung untuk pengemudi atau orang yang bepergian dengan kendaraan agar terhindar dari kecelakaan), enmusubi (jimat bagi para kekasih agar cinta mereka bertahan lama), anzan (jimat untuk para ibu hamil agar melahirkan dengan selamat), gakugyoujoju (jimat untuk pelajar agar berhasil dalam studi), dan shobaihanjo (jimat keberuntungan dalam melakukan bisnis). Kini, tampilan Omamori kian menarik dengan tokoh-tokoh kartun seperti Hello Kitty atau Doraemon.

Berdampingan dengan Vihara

Di sebelah Kumano Nachi Taishi berdiri Nachisan Seigantoji Temple. Tempat suci agama Budha ini dibangun pada abad keempat di era Kaisar Nintoku (313-399). Seigantoji adalah candi tertua di wilayah Kumano. Saat itu, pendeta Budha asal India yang bernama Ragyo melihat kemolekan air terjun Nachi yang memiliki tiga air terjun, masing-masing setinggi 133 meter, 13 meter dan 10 meter. Lalu dia membagun padepokan di dekat air terjun. Inilah bangunan asli dari Nachisan Seigantoji Temple. Sayang, bangunan asli vihara rusak ketika terjadi perang sipil yang dimotori oleh Oda Nobunaga. Kemudian vihara direnovasi tahun 1590 oleh Toyotomi Hideyoshi. Renovasi berikutnya dilakukan tahun 1972.

Berdirinya vihara yang bersebelahan dengan kuil Shinto di wilayah Kumano menunjukkan bahwa toleransi beragama di Jepang sudah terbina sejak ratusan tahun silam. Shinto adalah campuran dari ritual, mitos, kepercayaan, teknik ramalan, dan adat istiadat yang berakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Pada awalnya, keyakinan ini tak punya nama. Namun sejak munculnya agama Budha di Jepang pada abad keenam, keyakinan tersebut kemudian disebut Shinto (yang berarti jalan para dewa).

Dari abad keenam sampai abad kedelapan , Shinto dan Budha hidup berdampingan secara damai. Shinto banyak menyerap ajaran Budha, terutama yang berkaitan dengan upacara pemakaman. Maklum, Shinto tidak memiliki upacara untuk pemakaman seseorang. Meski Shinto sempat dijadikan agama resmi di Jepang pada 1868, akan tetapi saat ini pemerintah memberikan kebebasan kepada warganya untuk memilih agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. (*)

Nachi: Air Terjun Suci

Air Terjun Nachi yang berada di Nachikatsuura, Prefektur Wakayama, adalah salah satu air terjun yang termashur di Jepang. Dengan ketinggian mencapai 133 meter, Nachi adalah air terjun tunggal tertinggi di Negeri Sakura.

Di bagian atas air terjun terdapat dua batu besar yang diyakini menjadi pelindung bagi masyarakat. Tiap pagi, pendeta Shinto maupun Budha melakukan ritual di bawah air terjun nan memesona ini.

Sebagai tempat suci, pelancong tidak diizinkan memasuki area air terjun. Pelancong hanya diperbolehkan mendekati air terjun dari lokasi yang sudah ditentukan. Tidak boleh menyentuh air suci yang mengalir di balik bebatuan. (*)

Menjadikan Teh Indonesia Minuman para Sosialita

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Kafe teh di Indonesia belum seramai kedai kopi. Upaya mengangkat teh ke pasar kelas atas sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Walau mulai menampakkan hasil namun masih perlu upaya ekstra keras untuk mengangkat citra teh agar disukai kaum sosialita Indonesia.

Ahli teh Indonesia yang juga Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia, Ratna Somantri, mengakui keberedaan kafe teh di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan kedai kopi. “Harus ada brand luar yang masuk karena kita biasa mengikuti tren,” ujar Ratna kepada HaloJepang! belum lama ini. Masuknya Teh Wellness Group (TWC)Tea Salon and Boutique di Jakarta pada 2013, diakui Ratna, turut mendongkrak citra teh.

Seperti diketahui, TWC adalah perusahaan teh asal Singapura yang berdiri sejak 1837. Mereka mengimpor teh dari berbagai perkebunan di dunia seperti China, India, Sri Lanka, Nepal, Taiwan, Banglades, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, Indonesia, Argentina, Brasil, Rwanda, hingga Kamerun. Kafe teh TWC berdiri 2008 dengan menyajikan aneka ragam teh. Konon, ada sekitar seribu menuh teh yang menggoda selera.

Selain pasar yang belum “matang”, membuka kafe teh lebih sulit dibandingkan kedai kopi. Menyajikan teh harus dilakukan secara manual, berbeda dengan minuman kopi yang bisa mengandalkan mesin. Cara menyeduh teh, untuk tiap-tiap jenis, juga berlainan.

Sebagai upaya mengangkat harkat dan martabat teh, Ratna turut membidani lahirnya Gaia, Tea & Cake di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Di tempat ini, Ratna mengemas teh dengan cara elegan. “Kalau kemasan seperti ini orang mau dong beli,” ujar wanita kelahiran Cirebon, 3 November 1978 ini sambil menunjukkan kemasan teh dalam kaleng. Bukan sekedar kemasan yang menarik, minuman teh juga disajikan secara modern.

Merek Lokal

Selama ini masyarakat Indonesia hanya mengenal teh melati sebagai minuman sehari-hari. Jenis teh tersebut dibuat dari daun tua, batang, dan campuran lain, termasuk melati. “Melati untuk menghilangkan bau tak sedap pada batang,” jelas alumni French Patisserie dari Le Cordon Blue, Sydney, Australia ini. Sementara teh terbaiknya, yang terdiri dari pucuk dan kuncup, diekspor ke negara lain.

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Hal ini berbeda dengan masyarakat Jepang. Menurut Haruna Yamamoto, ahli teh asal Jepang, orang Jepang sudah terbiasa minum teh hijau sekitar 1200 tahun lalu, saat pendeta Budha membawa teh dari China. “Sekarang orang Jepang minum teh dengan cara berbeda-beda, dalam botol, teh celup atau bubuk,” jelas pemilik sertifikat Nihoncha Instructor itu. Orang yang menyeduh daun teh mulai berkurang. Yang patut dicatat, teh hijau Jepang dibuat dari daun teh pilihan sehingga berkhasiat bagi kesehatan.

Jika Jepang mengonsumsi daun teh terbaiknya, Indonesia justru mengekspor daun teh pilihan karena harganya lebih mahal. Setelah diproses di luar negeri, sebagian dari teh tersebut masuk lagi ke Indonesia dengan harga selangit. “Dua tahun terakhir, dalam kemasan disebutkan teh asal Indonesia,” kata Ratna. Sebelumnya, tak pernah disebut kalau teh tersebut hasil dari perkebunan di tanah air. Teh olahan dari luar negeri ini yang kemudian dijual ke kafe-kafe teh di Indonesia.

Ratna berharap, Indonesia bisa memiliki merek teh sendiri, seperti halnya produsen teh di Jepang atau India. “Saya ingin Indonesia memiliki brand sendiri berdasarkan pada di mana teh itu tumbuh. Misalnya Halimun Tea. Jadi teh dari daerah lain tidak boleh menggunakan merek tersebut,” jelas wanita yang sudah menulis dua buku tentang teh tersebut. Cara seperti ini sudah dijalankan di India.

Agribisnis Teh

Pemerintah Jepang memberikan dukungan kepada pengusaha, termasuk produsen teh, untuk mengenalkan produk mereka ke luar negeri. Bahan pemerintah daerah pun memberikan dukungan semacam ini. “Pemerintah Prefektur Shizuoka sedang menyiapkan program-program untuk mendukung bisnis teh,” jelas Yamamoto. Prefektur Shizuoka adalah daerah penghasil teh di Jepang.

Indonesia juga menyadari pentingnya dukungan pemerintah untuk menggerakkan bisnis teh di nusantara. Oleh karena itu, sejak 2014 pemerintah melalui Kementerian Pertanian, mencanangkan gerakan penyelamatan agribisnis teh nasional (GPATN) dengan anggaran Rp. 48 miliar. “Dana itu dipakai untuk membeli bibit teh unggul, pupuk dan hal lain yang berkaitan dengan agribsinis teh,” lanjut Ratna. Menurut rencana, anggaran GPATN akan ditambah menjadi Rp.100 miliar.

Ratna menambahkan, salah satu kelemahan Indonesia di bisnis teh adalah soal kemasan. “Kita harus belajar ke Jepang. Negara itu ahli dalam membuat kemasan yang menarik,” ujar sarjana Teknik Industri, Universitas Trisakti Jakarta ini. Jika teh ditampilkan apa adanya, hanya dibungkus kertas, maka kemasan menjadi kurang menarik. Akibatnya, harga jual tidak bisa terkerek. Lain halnya jika teh dikemas ekslusif di dalam kaleng dengan warna elegan. Orang rela membeli dengan harga tinggi. “Dalam bisnis perlu pencitraan,” ujarnya sambil tersenyum.

Agribisnis teh di Indonesia masih tertinggal jauh dibanding Jepang. Untuk itu, perlu dukungan semua pemangku kepentingan agar bisnis teh segera bangkit. Melalui Dewan Teh Nasional, Ratna tengah memperjuangkan regulasi yang mengatur standarisasi teh nasional serta melindungi teh lokal dari serbuan teh impor. “Kalau teh impor murah, teh lokal akan terdesak,” jelas Ratna.

Apalagi, belakangan ini teh produksi China dan Vietnam terpapar pestisida dan dilarang masuk ke Eropa dan Amerika Serikat. Kalau tidak ada regulasi, teh semacam ini bisa masuk ke Indonesia dengan harga murah. Di samping memukul teh lokal, teh dengan kandungan pestisida tinggi ini juga merugikan konsumen karena bisa mengganggu kesehatan. (*)