Kato Hiroaki: Mempopulerkan Budaya Indonesia ke Jepang

INSPIRASI-KATO
HaloJepang! edisi April 2015

Tak ada darah Indonesia yang mengalir dalam diri Kato Hiroaki, namun kecintaannya kepada  Indonesia tak perlu diragukan. Sempat balik ke Jepang setelah menyelesaikan studi Linguistik Bahasa Indonesia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Hiro –panggilan sehari-harinya- memilih menetap di nusantara. Dia terus berkarya dan mengenalkan Indonesia ke ‘Saudara Tua’.

Lelaki jangkung kelahiran Tokyo, 9 Maret 1983 itu disibukkan dengan berbagai aktifitas berbau Indonesia: menjadi penerjemah bagi perusahaan Jepang, pembaca acara, penyanyi atau dosen Bahasa Indonesia paruh waktu di Sophia University dan Oberin University, Jepang. Di tengah-tengah kesibukannya, pria yang gemar memakai baju batik ini menyempatkan diri berbincang-bincang dengan HaloJepang! Berikut petikan wawancaranya.

HaloJepang! (HJ): Sejak kapan Anda tertarik dengan budaya Indonesia?

Kato Hiroaki (KH): Saya mulai tertarik dengan Indonesia saat seorang dosen membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sejak itu, saya bertekad untuk belajar Bahasa Indonesia. (Buku ini menjadi fenomenal karena sempat dilarang oleh rezim Orede Baru, namun penjualannya tetap menakjubkan).

HJ: Kapan Anda mulai serius belajar Bahasa Indonesia?

KH: Tahun 2006. Saat itu ada pertukaran mahasiswa ke Indonesia. Saya langsung mendaftar dan diterima di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Saya setahun belajar Bahasa Indonesia.

HJ: Apakah Anda juga belajar sastra di Yogyakarta?

KH: Saya tertarik dengan sastra modern. Saya membaca novel-novel seperti Super Nova, Perahu Kertas dan Laskar Pelangi.  Saya nonton film Laskar Pelangi dan membaca novelnya. Dua tahun saya baru bisa memahami isi dan cerita Laskar Pelangi itu.

HJ: Mengapa Anda menerjemahkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?

KH: Topik Laskar Pelangi bersifat universal. Soal pendidikan. Faktor lain adalah apa yang ada dalam cerita novel tersebut, tidak ada di Jepang saat ini. Di sana, orang mudah untuk mendapatkan pendidikan. Bagi mereka, cerita perjuangan berat anak-anak desa untuk memperoleh pendidikan tinggi sangat memikat.

HJ: Bagaimana respon masayarakat Jepang terhadap novel Laskar Pelangi?

KH: Mereka sangat antusias. Terutama yang usianya di atas 50 tahun. Mereka merasakan sesuatu  seperti dalam cerita itu. Novel tersebut sudah laku 5.000 buku. Itu sangat besar. Untuk buka asing, bisa laku 1000 saja sudah bagus.  Saya ingin menerjemahkan novel Sang Pemimpi, lanjutan Laskar Pelangi.

HJ: Selain menggeluti sastra, Anda juga menekuni musik. Anda juga menerjemahkan lagu-lagu Indonesia ke Bahasa Jepang?

KH: Saya senang musik Indonesia. Saat di Yogyakarta, saya sering main ke studio milik grup band Letto. Kebetulan saya kenal dengan vokalisnya, Noe. Saya juga menerjemahkan beberapa lagu milik Letto, seperti Ruang Rindu. Tak mudah menerjemahkan lagu. Saya perlu waktu satu bulan. Tapi, hasilnya membuat Letto senang. Saya juga menerjemahkan lagu Laskar Pelangi (Nidji) dan Sepatu (Tulus).

HJ: Apakah lagu Indonesia yang Anda terjemahkan dibawakan juga di Jepang?

KH: Selain saya upload ke Youtube, saya pun sering membawakan lagu-lagu Indonesia, baik versi asli maupun terjemahan, di kafe-kafe di daerah Shibuya dan Harajuku. Mereka menyukai lagu-lagu pop Indonesia. Saat saya nyanyi, sebagian orang sudah ikut bernyanyi. Masyarakat Jepang yang belajar tentang Indonesia juga semakin bertambah.

HJ: Apakah Anda juga membuat lagu dalam Bahasa Indonesia?

KH: Saya pernah mengeluarkan mini album berjudul Terima Kasih (2010). Saya juga berencana membuat mini album kedua dan full album. Dalam album ini saya akan menciptakan lagu Bahasa Indonesia dengan memasukkan unsur-unsur musik tradisional.

HJ: Selama bermusik, Ada sudah berkolaborasi dengan siapa saja?

KH: Saya sering menjadi penyanyi pembuka untuk beberapa artis. Sekarang saya sering tampil bareng Tulus. Saya senang dengan lagu-lagunya. Saya ingin menerjemahkan beberapa lagu Tulus yang sedang menjadi hits.

HJ: Di samping mengenalkan budaya Indonesia melalui sastra dan lagu, Anda pun tampil di film pendek berbahasa Indonesia?

KH: Saya main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’. Film tersebut menang di Festival Film Indonesia 2006, menyabet The Best Short Film di Korea (2006), serta mendapat sambutan meriah di Festival Film Pendek Jepang 2007.

HJ: Kegiatan apa yang Anda kerjakan saat ini berakitan dengan seni dan budaya?

KH: Saya sedang fokus menggarap lagu-lagu karya Andre Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dan penyanyi wanita Meda Kawu.

PROFIL:

Lahir                                      : Tokyo, 9 Maret 1983

2006-2007                            : Kuliah Bahasa Indonesia di UGM, Yogyakarta

April 2006                            : Main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’

April 2009                            : Mengajar Privat Bahasa Indonesia

April 2010                            : Lulus Pasca Sarjana Tokyo University of Foreign Studies Graduate Degree

September 2010               : Rilis mini album ‘Terima Kasih’

Oktober 2013                     : Menerbitkan novel Laskar Pelangi dalam bahasa Jepang.

Advertisements

Nonaka Kazuto: Membangun Karakter Melalui Bisbol

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Bermain bisbol bukan sekedar olahraga fisik tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian. Melalui bisbol, orang diajarkan untuk bekerja keras, berpikir strategis serta bekerja sama dengan orang lain. Lewat bisbol pula orang akan menghargai sebuah proses dan tak melulu melihat kepada hasil.

“Bisbol mengharuskan orang untuk kerja tim,” ujar Nonaka Kazuto, pelatih Timnas Bisbol Indonesia kepada HaloJepang! belum lama ini. Menurut pria kelahiran Tokyo,  6 Juni 1961 itu, pemain Indonesia harus meningkatkan kerja sama tim. Kelemahan dalam kerja sama ini, menjadikan Indonesia hanya bagus untuk olahraga perorangan. “Indonesia bagus di tinju dan bulu tangkis. Untuk olahraga tim masih kurang,” tambahnya.

Guna membangun sebuah tim yang solid diperlukan waktu dan tenaga ekstra. “Butuh tiga tahun. Berlatih tiap hari tanpa libur,” kata Nonaka serius. Dia tak main-main. Totalitasnya dalam membina olahraga bisbol di Indonesia sudah teruji.  Dia memulai karir sebagai pelatih bisbol tim Red Sox di Bali pada 2006. Berkat kesuksesannya membesut Red Sox, Nonaka ditunjuk menjadi pelatih timnas bisbol Indonesia dari 2007-2010.

Jeda dari timnas, dia menjadi arsitek tim bisbol provinsi Jawa Timur (2011-2012) dan Vio Club, Surabaya (2013). Berkat tangan dingin Nonaka, tim bisbol Jatim mampu berbicara banyak di kancah bisbol nasional. Ironisnya, prestasi timnas bisbol Indonesia malah merosot. Untuk itu, Nonaka diminta menangani timnas Indonesia lagi sejak 2014 lalu.

Dia mengakui, untuk membentuk tim bisbol  Indonesia yang hebat tidak mudah. Bisbol bukan olahraga favorit sehingga minat sponsor terhadap olahraga ini juga kurang. Akibatnya, penghasilan pemain bisbol pun kalah dibandingkan olahraga lain seperti sepak bola  atau bulu tangkis. Kendati demikian, Nonaka meyakinkan, bisbol memiliki prospek cerah khususnya di luar negeri. Penghasilan altet bisbol di Amerika Serikat hanya sedikit di bawah pembalap Formula One.

Menjadi pemain bisbol profesional, lanjutnya, bisa dijadikan pekerjaan dan menghasilkan uang. Beberapa atlet bisbol Jepang pun memilih bermain di Amerika Serikat yang memberikan gaji dan fasilitas menggiurkan.  Oleh karena itu, dia meminta pemain bisbol Indonesia tak perlu gamang dengan masa depannya.

Kembali Jaya

Keputusan Perserikatan Bisbol & Softball Seluruh Indonesia (Perbasasi) mengundang kembali Kazuto Nonaka untuk melatih timnas dilandasi atas keinginan untuk mengembalikan kejayaan bisbol di negeri tercinta ini. Di era Nonaka (2007-2010) Indonesia untuk kali pertama menyabet Piala Asia (Asian Cup) 2009 di Thailand. Sebelumnya, di SEA Games 2007 di Thailand, Indonesia merebut medali perunggu.

Masa kejayaan bisbol berakhir setelah Nonaka tak lagi menjabat sebagai pelatih. Bahkan, Indonesia tidak mengirimkan tim bisbol di Sea Games 2011 dan 2013 karena dianggap peluang mendapatkan medali sangat kecil. Saat itu, Indonesia hanya mengirim atlet yang berpotensi menggondol medali.

“Banyak mantan murid saya yang menelepon. Minta saya untuk menjadi pelatih lagi,” ujar Nonaka dengan mimik serius. Atlet bisbol pantas resah lantaran Indonesia tidak bisa tampil di ajang Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta. Kita hanya menjadi tuan rumah dan penonton atlet bisbol Asia berlaga.

Sembari melatih, Nonaka berkeinginan pula memopulerkan bisbol ke masyarakat. Caranya bisa bermacam-macam. “Kita kirim pemain Indonesia ke Jepang. Mereka berlatih dan mendapat support dari sana,” jelas lelaki yang suka meditasi itu. Pihaknya juga berupaya mendatangkan bintang bisbol asing ke Indonesia agar mendapatkan ekspos dari media massa. “Peran televisi dan media massa penting untuk mengangkat pamor bisbol,” tambahnya.

Ketika melatih timnas bisbol, Nonaka menekankan pada pentingnya kerja sama dan kerja keras seluruh tim. Tak segan-segan dia mengajak anak didiknya berlatih ke Jepang, negeri di mana bisbol mendapatkan tempat terhormat. Di sana, timnas melakukan latih tanding melawan tim-tim papan atas dari beberapa perusahaan ternama seperti Toshiba, Honda, dan Mitsubishi.

Kini, Ketua Yayasan Bali Indah Ciptakarya itu berharap kejayaan Bisbol Indonesia kembali terulang. Kerja keras saja belumlah cukup. Latihan fisik harus diimbangi dengan kemampuan teknis. Menurutnya, bisbol memerlukan fisik dan stamina tangguh ditopang teori, teknik, dan mental bertanding.

Melalui kerja sama apik di antara semua pemangku kepentingan, Nonaka yakin tim bisbol Indonesia bisa menyumbang medali di ajang Sea Games. Bila Sea Games 2017 di Malaysia belum bisa meraih juara maka pada Sea Games 2019 Indonesia harus merebut medali emas. Semoga!

Profil Kazuto Nonaka

1961                       : Lahir di Tokyo, 6 Juni

1984                       : Lulus Universitas Nihon, Jurusan Administrasi Bisnis

2006                       : Pelatih Tim Bisbol Red Sox,  Bali

2007-2010            : Pelatih Timnas Bisbol Indonesia

2011-2012            : Pelatih Bisbol Provinsi Jawa Timur

2013                       : Pelatih Tim Bisbol VIO Club , Surabaya

2014                       : Pelatih Tim Bisbol Red Sox,  Bali

2014-Sekarang  : Pelatih Timnas Bisbol Indonesia

SUYOTO RAIS: Menyerap Nilai Positif Budaya Jepang dan Menerapkan di Indonesia

Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015
Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015

Lebih dari 25 tahun kuliah dan berkarir di Jepang, Suyoto Rais menemukan nilai-nilai positif dalam budaya Jepang yang membuat Negeri Sakura itu unggul dalam sains dan teknologi. Kini, dia kembali ke tanah air untuk menerapkan nilai-nilai positif itu dalam kehidupannya. Langkah nyata untuk mengubah mindset dari bagaimana kalau gagal menjadi bagaimana bisa berhasil.

Kegetiran hidup masa kecil telah mengajarkan kepada Suyoto untuk gigih menggapai cita-cita. Termasuk saat meneruskan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas, enam bulan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) hingga meraih gelar S1, S2 dan doktoral di Jepang. Keberhasilannya menyelesaikan hingga doktor di Osaka Prefecture University (OPU) Jepang tak lepas dari jasa baik orang-orang terdekatnya. Mulai kyai yang memberi tumpangan hidup, dosen ITS yang menampungnya dan memberi makan selama kuliah hingga kakek yang rela menggadaikan sawah untuk membiayai pendidikannya.

Ketika mereka yang berjasa dalam hidupnya satu per satu meninggal dunia tanpa bisa mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, lelaki kelahiran Tuban, 15 Oktober 1966 itu memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya.  Sejak Januari 2014, Suyoto sudah menetap di Indonesia dan menjadi Vice President Director PT. Ohkuma Industries Indonesia. “Saya juga khawatir dengan anak-anak. Di sana saya tidak bisa mengajari soal budaya dan agama. Saya takut mereka kehilangan ke-Indonesia-annya,” jelas Suyoto kepada HaloJepang! di kantornya, Cikarang, Jawa Barat.

Padahal, karir Suyoto di Denso Corp. sedang meroket. Dia akan dipromosikan sebagai manajer di perusahaan spare part otomotif terkemuka di Jepang itu. Keputusan sudah bulat. Dia ingin balik ke Indonesia walau Denso tak bisa memenuhi permintaan Suyoto untuk menjadikan dirinya sebagai ekspatriat di perusahaan Denso di Jakarta. Dia pindah kerja di Sumitomo Electric Industries Ltd. yang bersedia menerima Suyoto sebagai ekspatriat di Indonesia.

Serap Budaya Jepang

Sempat berpindah-pindah kerja, saat ini Suyoto bekerja ke perusahaan Jepang, PT. Ohkuma Industries Indonesia yang berkantor pusat di Tokyo. Selama meniti karir di Jepang, Suyoto menemukan nilai-nilai positif budaya Jepang yang memberi kontribusi terhadap keberhasilan Jepang dalam bidang industri.

“Semangat kebersamaan mereka sangat tinggi. Saya pernah lembur menyelesaikan tugas. Atasan saya menginap dan menunggui saya bekerja. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang. Dia yang nyiapin,” jelas Suyoto.  Menurut budaya Jepang, kegagalan anak buah adalah tanggung jawab atasan. Contoh kebersamaan lain adalah ketika seseorang membuka usaha warung nasi dan laris maka orang lain akan membuka bisnis pendukungnya seperti menjual minuman atau gorengan. “Kalau di Indonesia, orang akan membuka bisnis yang sejenis sehingga omzet sama-sama menurun,” tambah Suyoto.

Di sana dia juga belajar menyelesaikan sesuatu step by step. Pada setiap tahapan, punya target tersendiri. “Tidak ada sesuatu yang dicapai dengan instan,” kata pria yang sedang menyusun buku biografi sambil menjadi dosen tamu di ITB itu. Orang Jepang fokus memikirkan bagaimana bisa berhasil, bukan sebaliknya bagaimana kalau gagal. Mindset seperti ini penting untuk memberi motivasi dalam bekerja.

Tentunya nilai-nilai positif budaya Jepang itu juga diterapkan oleh Suyoto saat dirinya memimpin perusahaan. Sayang, belum sepenuhnya bisa diaplikasikan. Misalnya soal ketepatan waktu. “Kalau di internal perusahaan sudah bisa. Tapi dengan pihak ketiga susah. Tiap hari kami harus menelepon untuk memastikan waktu,” jelas ayah tiga anak itu. Dia juga menyoroti masalah keterbukaan data. Lembaga atau perusahaan di Indonesia lebih suka memberikan informasi mengenai hal-hal positif tetapi tidak membeberkan sisi negatifnya. “Ternyata di lapangan beda,” keluh Suyoto.

Hal lain yang patut dicontoh dari budaya Jepang adalah pendidikan kemandirian untuk anak-anak. Di sana, orang tua tidak dizinkan antar-jemput anak ke sekolah. Apalagi, menunggu dan kadang mengintip dari jendela kelas. Anak-anak dibiarkan berangkat dan pulang bersama-sama dengan teman yang rumahnya berdekatan. “Anak yang paling besar menjadi pimpinan rombongan,” jelasnya. Dengan demikian, anak-anak sudah terbiasa mandiri dan berteman sejak kecil.

Profil Suyoto Rais

1966                       : Lahir di Tuban, Jawa Timur, 15 Oktober.

1991                       : Lulus S1 Setsunan University, Jurusan Industrial and System Engineering

1995                       : Lulus S2 Setsunan University, Jurusan Mechanical System Engineering

1999                       : Lulus S3 Osaka Prefecture University, Jurusan Manufacturing System

1991-1993            : Peneliti di Badan  Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta

1995-1999            : Dosen Tidak Tetap di Setsunan University, Osaka

1999-2008            : Denso Corp., Nagoya

2008-2011            : Sumitomo Electric Industries Ltd., Osaka, Manajer di Indonesia

2011                       : Konsultan PT. Faco Global Engineering, Bogor

2011-2012            : Nidec Corp., Kyoto, Direktur di China

2012-2013            : Ichikon Industries Ltd., Tokyo, Kepala Pabrik di Indonesia & Thailand

2013-Sekarang  : Ohkuma Industies Co.Ltd, Tokyo, Wakil Presdir di Indonesia.

Dosen tamu di Teknik Mesin ITB Bandung

FURSAN: Membangun Bisnis Usai Menjadi Kenshusei

Tabloid HaloJepang! Edisi Januari 2015
Tabloid HaloJepang! Edisi Januari 2015

Belum sempat menyelesaikan pendidikan sarjana di jurusan Teknik Mesin, Universitas Jenderal Ahmad Yani (UNJANI) Bandung, Fursan nekat mengikuti program magang (kenshusei) dari Association for International Manpower Development of Medium and Small Enterprises atau biasa disebut IMM Jepang.  Dia mesti mengambil cuti dua tahun untuk menjadi pemagang. Keputusan itu pun membawa berkah di kemudian hari.

Berkat magang tersebut Fursan lebih mudah menyelesaikan tugas akhir sehingga menyabet gelar sarjana. Dia pun gampang mendapatkan pekerjaan usai tamat kuliah. Lebih dari itu, dia bisa merintis usaha di bidang  engineering services. Hampir 100 persen kliennya adalah perusahaan asal Jepang. Semua itu bisa diraih berkat kerja keras dan jaringan luas saat dirinya menjadi kenshusei. Kepada HaloJepang! dia dia menuturkan perjalanan karir dan bisnisnya.

Halo Jepang (HJ): Mengapa Anda nekat mengikuti program kenshusei meski saat itu Anda belum lulus kuliah?

Fursan (F) : Saya berpikir kalau saya kuliah dan lulus belum tentu mendapat pekerjaan yang bagus. Mengapa  tidak memperdalam kelimuan saya sekaligus belajar bahasa Jepang. Saya melihat orang yang memiliki kemampuan bahasa lebih diprioritaskan dibanding fresh graduate.

HJ: Bagaimana tanggapan orang tua terhadap keinginan Anda ini?

F: Orang tua saya terbuka. Apa keinginan anak akan didukung. Tetapi saya tetap punya hutang untuk menyelesaikan kuliah. Untung tinggal beberapa mata kuliah sehingga bisa mengambil cuti dua tahun.

HJ: Mengapa Anda memilih magang di Jepang, bukan negara lain?

F: Tahun 1995 adalah booming industri manufkaturing di Jepang.  Mereka pasti akan ekspansi ke luar negeri, termasuk Indonesia. Pimpinan saya saat itu berharap besar pada saya. Dia ingin investasi di Indonesia. Dan ketika membuka pabrik di Indonesia, saya sudah bisa membantu.

HJ: Dari program magang ini, manfaat apa yang Anda petik?

F: Ada tiga yaitu bahasa, etos kerja dan skill. Untuk berkomunikasi, mau tidak mau, saya harus belajar Bahasa Jepang. Mengenai etos kerja, etos kerja orang Jepang luar biasa. Seolah-olah tujuan hidupnya hanya untuk perusahaan. Soal skill, kalau kita bekerja dengan tekun akan mendapat reward. Tahun kedua saya sudah mempunyai anak buah, dua orang Jepang. Itu sebuah kebanggaan. Meski magang tapi punya anak buah.

HJ: Sebagian pemagang tidak bisa mandiri. Bagaimana Anda bisa membangun usaha sendiri dan menuai sukses?

F: Program IMM dirancang agar kita belajar etos kerja, kemudian pulang dan membuka usaha sendiri. Namun momentum saat itu bersamaan dengan investasi besar-besaran perusahan Jepang di Indonesia sehingga membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Akhirnya para mantan pemagang itu kembali bekerja di perusahaan Jepang.

HJ: Bisa diceritakan bagaimana Anda memulai usaha?

F: Sepulang dari Jepang saya sempat kerja selama tiga tahun. Selama bekerja saya melihat peluang untuk mandiri tinggi sekali. Saya melihat orang asing cari uang di Indonesia sangat mudah. Beberapa teman magang juga sudah ada yang sukses usaha. Akhirnya tahun 2003 saya memutuskan membuka usaha sendiri. Saya di back up orang Jepang, bukan sebagai teman kongsi tetapi sebagai motivator. Dia bilang saya sudah lancar komunikasi dan memiliki kemampuan teknik, kenapa enggak berani mandiri.

HJ: Pada awal usaha, berapa karyawan Anda dan bagaimana suka dukanya?

F: Awalnya saya sendirian, one man show. Saya kan desain produk. Customer  kalau sudah suka yang dicari Fursan-nya, bukan perusahannya. Misalnya, kalau seseorang sudah cocok dengan tukang jahit, sejauh apa pun akan dicari. Saya berkantor di rumah. Tahun berikutnya baru membeli ruko di Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Dari situ saya mulai menambah karyawan. Tantangan yang saya hadapi adalah keterbatasan modal. Untuk jasa engineering tak butuh modal, tetapi untuk manufakturnya saya perlu mesin-mesin. Sedangkan pada awal usaha saya belum mempunyai mesin sendiri. Mau tidak mau harus saya subkan. Kalau yang percaya, pembayaran bisa dikasih jeda. Tapi kalau yang enggak percaya, harus bayar cash. Itu yang jadi momok. Alhamdulillah bisa teratasi.

HJ: Siapa saja klien Anda dan bagaimana cara menambah klien baru?

F: Klien saya tidak banyak. Sekitar sepuluh perusahaan. Hampir 99 persen adalah perusahaan Jepang. Sampai saat ini saya tidak memiliki tenaga marketing. Klien terus bertambah karena faktor kepercayaan. Hanya dari mulut ke mulut.

HJ: Bagaimana rencana bisnis tahun ini. Akankah melakukan ekspansi?

F: Rencana ekspansi ada, tapi bukan untuk PT. Faco Karya Teknika. Saya akan membuka perusahaan baru, patungan dengan pengusaha asal Jepang. Mudah-mudahan tahun ini terealisasi. Corn business yang lebih besar. Kalau saat ini kan job order, tergantung skill perorangan. Saya ingin menghasilkan produk tertentu yang sifatnya masal. Misalnya, bikin knalpot untuk support perusahaan otomotif. Semoga tahun ini terwujud.

PROFIL:

1990 – 1995         : Unversitas Jenderal Ahmad Yani (UNJANI) Bandung, Jurusan Teknik Mesin S1

1995 – 1997         : IMM Japan Training, Teknik Mesin.

KARIR:

1995 – 1997                         : Hanken Nara Seishakusho Kabushiki, Pemagang

2003 – 2006                         : CV. Karya Bersama, Direktur

2006 – Sekarang               : PT. Fako Karya Teknika, Presiden Direktur

Emil Elestianto Dardak: Doktor Termuda Lulusan Jepang  

HaloJepang! Edisi Desember 2014
HaloJepang! Edisi Desember 2014

Saat meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Pembangunan dari  Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang  usia Emil Elistianto Dardak baru 22 tahun.  Kala itu, dia menerabas aturan yang mengharuskan kandidat doktor berusia minimal 21 tahun.

Sejak remaja Emil sudah menyukai kajian yang berkaitan dengan  infrastruktur. Mungkin dia mewarisi ayahnya, Hermanto Dardak –Wakil Menteri Pekerjaan Umum pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Umur 17 tahun, pria kelahiran Jakarta, 20 Mei 1984 ini sudah menjadi konsultan di Bank Dunia (World Bank). Sejatinya Emil akan diangkat menjadi karyawan tetap jika umurnya sudah memenuhi syarat, yakni 21 tahun. Kini suami artis Arumi Bachsin itu melontarkam konsep Urban Civic Movement untuk membenahi karut marut tata kota Depok, Jawa Barat. Kepada Halo Jepang, Emil mengungkapkan latar belakang dan tujuan mewujudkan Depok Smart City.

Halo Jepang (HJ): Umur 17 tahun Anda sudah menjadi konsultan di Bank Dunia. Apa tugas Anda?

Emil Dardak (ED): Saat itu saya sudah punya ijazah Diploma (D1) dari Melbourne Institute of Business and Technology. Saya mendapatkan tugas untuk memantau efektifitas pembangunan di Indonesia melalui pendekatan visual. Membuat analisa proyek yang mudah dipahami.  Saya buat geographic information system.

HJ: Bagaimana Anda turut memelopori lahirnya  Asia Pacific Ministers’ Joint Statement yang pertama kalinya pada tahun 2003?

ED: Tugas utama saya sebenarnya hanya tugas administratif. Mengumpulkan karya ilmiah dari para pakar. Tetapi saya membaca dan merangkum karya ilmiah itu. Bahkan sampai tiga pertemuan sebelumnya. Saya buat data base-nya. Di situ saya juga membuat karya ilmiah dan masuk kompilasi. Tiba-tiba kita diminta membuat draft. Lalu saya menyodorkan data base itu. Sayang, draft deklarasi tidak disetujui oleh menteri infrastruktur Malaysia dan China. Saya diminta oleh Menkimpraswil  (Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah) Soenarno untuk mengikuti pertemuan dengan kedua menteri yang menolak itu. Alhamdulillah usulan saya diterima. Saya pun menjadi Tim Pakar 4th Asia Pacific Ministers’ Forum for Infrastructure.

HJ: Mengapa Anda mengerjakan sesuatu melebihi dari tugas yang diberikan?

ED: Upaya lebih adalah investasi. Kita tidak tahu kapan kesempatan akan datang. Tetapi kalau kita sudah siap dan kesempatan itu datang maka klop. Jadilah ketemu.

HJ: Mengapa Anda memilih studi ke Jepang dan bagaimana bisa meraih doktor dalam usia 22 tahun?

ED: Saat itu saya mendapat beasiswa dari Raffles Institution, Singapura. Ada peluang ngambil Master of Science in International Cooperation Policy, Ritsumeikan Asia Pacific University di Jepang.  Ini universitas internasional yang menggunakan Bahasa Inggris.Dosennya bukan hanya orang Jepang tapi dari Eropa dan Amerika.  Jadi ini gabungan dua dunia. Seperti kuliah di Amerika tetapi di Jepang. Saya bertemu profesor dan dosen terbaik dari seluruh dunia. Apalagi tradisi pendidikan di Jepang sudah matang. Saya pikir malah dapat dua-duanya. Dapat ilmu sekaligus mengerti budaya Jepang. Jadilah saya ambil di situ. Sambil kuliah S2, saya mengajukan lamaran S3. Saat itu muncul pro dan kontra karena usia saya baru 20 tahun. Padahal, syarat ambil doktor minimal umur 21 tahun.  Untuk meyakinkan para professor, saya rajin menulis di jurnal internasional. Akhirnya mereka setuju saya meneruskan ke program doktor.

HJ: Setelah lulus, Anda bekerja dimana?

ED: Saya menjadi Infrastructure Economist Consultant di Bank Dunia. Saya masuk tim energi dan mengurusi proyek-proyek yang berkaitan dengan energi. Saya menggolkan proyek hydro dan panas bumi senilai tujuh triliun rupiah. Tahun 2009-2010 saya ditambahi tugas menjadi Dirut Ad Interim (secondment dari Tusk Advisory Pte Ltd) Lembaga Pembiayaan Bentukan Pemerintah & Lembaga Keuangan Internasional (World Bank, ADB, DEG Germany). Februari 2011, Ibu Sri Mulyani mendirikan BUMN PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII). Beliau ingin PII diisi oleh orang profesional dan independent. Saya diminta oleh Ibu Cynthia (Dirut PII) untuk gabung di situ.

HJ: Gagasan Anda mengenai Depok Smart City mendapat tanggapan positif dari publik dan ada usulan agar Anda maju menjadi calon walikota Depok. Tanggapan Anda?

ED: Depok Smart City adalah gerakan saya dan teman-teman untuk terlibat aktif membentuk kota pintar (Smart City) yang berkarakter (identity) & berbudaya (Culture). Melalui urban civic movement diharapkan Depok dapat memfasilitasi komunitas dalam bereskpresi dan berkreasi supaya mereka bisa berdampak lebih luas bagi masyarakat dan alam. Mengenai usulan untuk menjadi calon walikota kita lihat saja nanti. Ada beberapa yang sudah memberikan dukungan. (*)

Pendidikan:

  • Doktor Ekonomi Pembangunan, Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang  – 2007
  • Terpilih di antara 40 public & private sector senior executive & leaders sedunia untuk Executive Degree in Major Programme Management – University of Oxford, UK – 2013-2015
  • Dosen – Pangkat Lektor/Asisten Profesor Fakultas Ekonomi, Universitas Esa Unggul Jakarta

Pekerjaan:

  • Executive Vice President di BUMN Penjaminan Infrastruktur Indonesia , Kementerian Keuangan, 2011 – sekarang .
  • Tim Pakar 4th Asia Pacific Ministers’ Forum for Infrastructure (2003), Periode Kabinet Gotong Royong
  • Infrastructure Economist Consultant di Bank Dunia 2007-2009
  • Dirut Ad Interim (secondment dari Tusk Advisory Pte Ltd) Lembaga Pembiayaan Bentukan Pemerintah & Lembaga Keuangan Internasional (World Bank, ADB, DEG Germany) – 2009-2010