Akita University: Kampus Pertambangan Tertua di Jepang

PENDIDIKAN - AKITA

Meski kalah populer dibanding universitas lain di Jepang, Akita University (Akita Daigaku) adalah kampus pertambangan tertua di negeri itu. Di samping fasiltas pendidikan dan penelitian yang memadai, Akita University juga menawarkan studi lapangan ke berbagai daerah dan negara lain untuk mengenalkan kehidupan dan budaya masyarakat setempat.

Tradisi pendidikan dan penelitian di bidang sumber daya alam di kampus ini dimulai Maret 1910 tatkala Akita Mining College memberi pelatihan kepada tenaga kerja di sektor pertambangan. Setelah lebih dari 100 tahun berdiri, kampus tersebut berperan penting dalam industri pertambangan di Jepang dengan  mencetak banyak ahli tambang, baik di bidang mineral, metal mapun minyak dan gas.

Sebagai kampus pertambangan tertua, fakultas yang paling terkenal  adalah Faculty of Engineering Science. “Banyak mahasiswa asing yang mengikuti program ini karena selain kesempatan untuk field trip ke negara lain, proses belajar juga dalam bahasa Inggris, sehingga memudahkan mahasiswa asing yang belum fasih berbahasa Jepang,” ujar  Tina Triwijianti Sandriputri.

Guna mempertahankan citra sebagai gudang ilmu pertambangan, Akita University membuat fakultas baru : Faculty of International Resource Science. Menurut dekan Fakultas Ilmu Sumberdaya Alam Internasional,  Sato Tokiyuki, pendirian fakultas ini sebagai langkah memperkokoh platform dalam pendidikan dan penelitian di dunia pertambangan.

Studi Lapangan

Akita University menerapkan metode unik dalam proses belajar. Universitas dengan 3 kampus di Tegata, Hondo dan Hodono di Kota Akita, Prefektur Akita ini lebih banyak menggunakan studi lapangan dalam proses belajar mengajar sehingga mahasiswa bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahun tetapi juga memahami kebudayaan dan kehidupan masyarakat sekitar Akita.

“Akita University menyediakan banyak sekali kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kehidupan di Akita dengan gratis, atau kalaupun bayar hanya dengan biaya yang sangat terjangkau. Dalam 6 bulan, saya sudah dua kali ikut kegiatan farm stay, kegiatan di mana kita tinggal di rumah petani di Prefektur Akita dan merasakan secara langsung kegiatan bercocok tanam di sana,” jelas Tina.

Selain farm stay, ada juga kunjungan ke pusat-pusat budaya dan berbagai festival di Akita. Wanita kelahiran Jakarta, 2 April 1984 itu sudah mengunjungi cukup banyak tempat berkat program spesial bagi mahasiswa internasional. “Salah satu program favorit bagi mahasiswa internasional adalah bermain ski  tiap Desember,” lanjut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro itu.

Sebagai guru, Tina pun pernah mengunjungi proses belajar-mengajar di beberapa sekolah di Prefrektur Akita. Studi lapangan seperti ini akan memperkaya mahasiswa dengan pengalaman nyata, sekaligus bahan perbandingan dengan apa yang dilakukan oleh mahasiswa di negaranya masing-masing.

Geologi Jurusan Favorit

Menurut Tina, mahasiswa Indonesia yang belajar di Akita Univeristy hanya 9 orang. Mayoritas, yakni 8 mahasiswa, kuliah di jurusan Earth Science and Technology (Geologi). Jumlah orang Indonesia yang tinggal di Akita pun relatif sedikit, hanya 25 orang. “Walaupun orang Indonesia tidak banyak, tapi hubungan kami menjadi sangat dekat sehingga rasanya seperti punya keluarga kedua di sini,” kata Tina.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang mengambil program doktoral di jurusan Economic Geology adalah Stephanie Saing (23). Economic Geology adalah jurusan yang mempelajari bagaimana proses terbentuknya deposit mineral, seperti emas, tembaga dan lainnya dengan menggunakan berbagai metode pendukung. Disebut Economic Geology karena riset dilakukan untuk menyelidiki apakah deposit tersebut ekonomis untuk ditambang dan untuk mengembangkan potensi area yang dapat diekplorasi.

Saat ini Stephanie mengerjakan riset di salah satu perusahaan tambang di Indonesia. Saat aplikasi, Stephanie ditawari beasiswa Leading Program yang baru saja dimulai di Akita sejak 2012. Program ini berbeda dengan beasiswa lain di Jepang karena beasiswa ini umumnya 5 tahun dimulai dari master hingga doktor dengan kurikulum khusus dalam Bahasa Inggris dan program ini memberi dukungan untuk mengikuti konferensi, kursus ataupun field trip ke mana saja yang diizinkan supervisor. “Dengan Leading Program diharapakan dapat menjadi  pemimpin di masa datang dimanapun mereka ditempatkan, seperti universitas, lembaga pemerintahan dan industri,” jelas Tina.

Ada 3 universitas di Indonesia  yang bekerja sama dengan Akita University, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Trisakti (Jakarta), dan Univesitas Hasanudin (Makassar). Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta segera menyusul. Tujuan kerja sama ini adalah penelitian bersama  di bidang geologi. “Dari kegiatan inilah, mahasiswa Indonesia diundang untuk kuliah di Akita University, seperti kebanyakan teman-teman saya di sini. Hampir semua diundang oleh profesor di Akita University,” tambahnya. Beberapa mahasiswa mendapat beasiswa dari MEXT, dengan tes kompetensi. Ada pula yang datang berkat sponsor dari perusahaan tertentu.

 

Teacher Training Program

Melalui seleksi ketat, bersaing dengan 300 guru se-Indonesia, Tina Triwijianti Sandriputri berhasil mendapat beasiswa dari MEXT untuk mengikuti Teacher Training Program di Faculty of Education and Human Studies, Akita University. Selama 18 bulan dia belajar di sana, 6 bulan intensif belajar bahasa Jepang dan 12 bulan sisanya dilanjutkan dengan pendalaman bahasa Jepang  disertai riset program bersama profesor pendamping.

Dia fokus pada riset  jurusan pendidikan matematika karena sejak awal guru di BPK Penabur Jakarta itu mengajar bidang studi ini. Dia mengambil pendidikan matematika karena banyak sekali kursus matematika Jepang yang berkembang pesat di Indonesia. Selain itu, kualitas pendidikan di Akita bagus. Banyak lulusan SMA Akita yang berhasil kuliah di universitas-universitas ternama di Jepang.

Melalui program pelatihan ini, dia berharap menjadi guru yang lebih kompeten dan profesional sehingga bisa menjadi teladan bagi guru lain.

Kata Kunci:

Geologi /Chishitsu  (地質)

Studi Lapangan/Ensoku (遠足)

Advertisements

Kobe University: Fakultas Kedokteran Menjadi Primadona

 

PENDIDIKAN-KOBE
HaloJepang! Edisi Mei 2015

Memiliki sejarah panjang sebagai lembaga pendidikan di bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran Kobe University menjadi salah satu primadona. Calon mahasiswa, baik asal Jepang maupun di luar Jepang berebut masuk ke fakultas tersebut. Di samping kedokteran, Fakultas Kelautan juga menjadi unggulan.

Kobe University yang berdiri 1949 mempunyai beberapa fakultas yakni Fakultas Sastra, Fakultas Studi Antarbudaya, Fakultas Pembangunan Manusia, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sains, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Kelautan, School of Business Administration, dan School of Medicine. Tiap fakultas memiliki program pasca sarjana.

Untuk kelas internasional, Kobe University memiliki Graduate School of International Cooperation Studies (GSICS) yang menyediakan program pasca sarjana dan doktoral. Program studi yang ada dalam program pasca sarjana meliputi Studi Internasional, Pembangunan dan Ekonomi, Hukum Internasional, serta Studi Wilayah dan Politik. Sementara untuk doktoral mempunyai departemen Kebijakan dan Pembangunan Ekonomi, Studi Kebijakan dan Kerjasama Internasional, dan Studi Kerjasama Regional.

Cikal bakal berdirinya Kobe Univerity adalah Kobe Higher Commercial School (1902). Lembaga ini adalah institusi pendidikan bisnis dan ekonomi tertua di Jepang. Tak mengherankan jika Kobe menjadi pusat studi ekonomi dan bisnis di Negeri Matahari Terbit.

Kendati lahir dari sekolah bisnis, justru Faklutas Kedokteran yang menjadi primadona. Hal ini tak lepas dari sejarah kampus tersebut. Kobe University dibentuk dari beberapa lembaga pendidikan. Banyak lembaga pendidikan kesehatan yang dilebur dalam kampus tersebut seperti Prefectural Technical College of Medicine yang berdiri 1944 (kemudian berubah menjadi Hyogo Prefectural College of Medicine) dan Kobe Prefectural College of Medicine (1952). Ada juga lembaga pendidikan di bidang pertanian, teknologi, bisnis, dan ilmu kelautan.

Lembaga pendidikan kesehatan tersebut berada di bawah koordinasi rumah sakit Kobe yang dibangun sejak 1869. Institusi medis ini memiliki riwayat meyakinkan dalam melahirkan tenaga kesehatan yang berkualitas. Wajar, jika Fakultas Kedokteran di Kobe University menjadi jurusan favorit. “Jurusan kedokteran (Faculty of Medicine) dan Faculty of Maritime adalah jurusan yang banyak diminati oleh mahasiswa international,” kata Tri Lestari, alumni program doktoral Business Administration.

Pertukaran Mahasiswa

Kobe University menjalin kerjasama dengan lebih dari 200 lembaga pendidikan, baik univeritas maupun fakultas, di berbagai negara.  Beberapa univeritas di Indonesia sudah bekerja sama dengan Kobe University. Univeritas Indonesia (Jakarta) mengadakan pertukaran mahasiswa untuk Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Teknik. Sementara dari Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Budaya. Fakultas Teknik Kobe University bekerja sama dengan Fakultas Teknik UI dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Fakultas Ilmu Kelautan Kobe Unversity memilih Institut Teknologi Sepuluh November (Surabaya) sebagai mitra kerja sama. Dengan Universitas Airlangga (Surabaya), Kobe University pernah bekerja sama  menanggulangi korban tsunami di Aceh dengan mengirimkan pakar di bidang kedokteran dan teknik yang dipimpin Profesor Hayashi Yoshitake. Mereka mengobati para korban dan merancang pembangunan infrastruktur di Serambi Mekah itu.

Kobe University Graduate School of Medicine memberi beasiswa Monbusho (MEXT) kepada mahasiswa UGM, UI, dan UNAIR untuk program master atau doktor. “Bisa juga beasiswa lainnya, misal Monbusho G to G, LPDP, Dikti dan lainnya,” kata Junaedy Yunus, mahasiswa program doktoral Developmental Neurobiology. Jurusan kedokteran tambah tersohor setelah salah satu alumni Kobe University, Shinya Yamanaka, mendapatkan hadiah nobel (2012) bidang fisiologi/kedokteran atas penemuan teknologi iPS (Induced pluripotent stem cells).

Makanan Halal

Tinggal di Kobe, lanjut Tri, memiliki beberapa kelebihan. Kobe adalah kota pelabuhan sehingga masyarakat sudah terbiasa dengan pendatang. “Tidak jarang imigran itu menetap di sana,” jelasnya. Di kota ini pula terdapat masjid tertua di Jepang, Masjid Kobe, yang dibangun 1928. Di masjid ini, mahasiswa Indonesia, menjalankan sholat Jumat bersama. Untuk mendapatkan makanan halal  juga mudah, tinggal datang ke China Town (Motomachi). “Di China Town ini orang Indonesia biasa belanja bahan makanan untuk membuat menu khas Indonesia,” ujar perempuan kelahiran Klaten, 7 Mei 1979 itu.

Di samping itu, lingkungan kampus juga nyaman untuk belajar. Fasilitas cukup lengkap antara lain perpustakaan, akses jurnal internsional, common lab dengan fasilitas yang canggih. “Terdapat mushola untuk mahasiswa muslim,” jelas Junaedy. Hanya sayangnya, fasilitas makanan halal di kantin kampus kedokteran belum ada. “Beda dengan kantin kampus utama di Rokko,” tambahnya. Sebagai informasi, kampus kedokteran (Kusunoki) terpisah jauh dari kampus utama (Kampus Rokko).

Biaya hidup di Kobe hampir sama dengan kota-kota besar di Jepang. Menurut Tri, dia memerlukan biaya sekitar  Y 150.000 per bulan. Hanya, Junaedy mengingatkan, biaya sewa apartemen mahal. Tetapi bagi yang sudah berkeluarga bisa mendaftar ke pemda Kobe untuk bisa menyewa apartemen murah milik pemerintah. *

 Ahli Neurobiology

Tamat dari Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta (2007), Junaedy Yunus meneruskan ke program master di kampus yang sama dan mengambil jurusan Anatomy & Embryology (2011). Pria kelahiran 9 Juni 1983 ini langsung melanjutkan ke program doktor ke Kobe University di bidang Developmental Neurobiology. “Saya mengambil jurusan ini karena profesor saya ahli dalam bidang pengembangan otak dan anatomi,” jelasnya.

Untuk belajar di Kobe University dia mendapatkan beasiswa dari Monbusho (MEXT) U to U. Dia harus bersaing dengan mahasiswa dari UI dan Unair.  Tiap tahun, Kobe University hanya memberikan jatah untuk  2-4 mahasiswa dari ketiga kampus tersebut.

Dia mengaku sangat tertarik dengan pengembangan otak dan anatomi. Kelak setelah lulus dia ingin menekuni bidang tersebut dan mengembangkannya di Indonesia.

Hiroshima University: Mencetak Guru Berkualitas

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Horishima University adalah satu-satunya kampus di Jepang yang menawarkan jurusan Peace. Jurusan ini mengingatkan  pada Perang Dunia II di mana Hiroshima adalah salah satu kota yang dihujani bom atom oleh Sekutu sehingga Jepang takluk. Walau memiliki jurusan langka, sebagian besar mahasiswa Indonesia lebih suka memilih kuliah di Graduate School of International Development and Cooperation (IDEC) saat menimba ilmu di kampus ini.

IDEC favorit karena kelas international sehingga menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. “Jadi tidak ada syarat untuk bisa berbahasa Jepang,” kata Siti Maimunah, mahasiswa PhD jurusan Environmental Economic Laboratory, IDEC, Hiroshima University. Jurusan yang ada di IDEC beraneka ragam seperti Development Policy, Development Technology, Education, Culture serta Peace. Menurut May, sapaan sehari-hari Siti Maimunah, sekitar 30% mahasiswa Indonesia kuliah di IDEC.

Namun, setahun belakangan ini Fakultas Teknik mulai dilirik mahasiswa Indonesia karena fakultas ini banyak menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia termasuk adanya pertukaran mahasiswa selama 3 bulan, 6 bulan dan setahun. “Fakultas Teknik memiliki jumlah mahasiswa terbanyak di Hiroshima University,” lanjut May.

Hiroshima University mempunyai 3 kampus yaitu di Higashi Hiroshima, Kasumi dan Hiroshima City. Kampus utama berada di Higashi Hiroshima (Saijo), kota kecil yang terletak sekitar 30 km dari Hiroshima City. “Kotanya tidak terlalu ramai sehingga nyaman untuk belajar. Fasilitas lengkap. Ada fasilitas olahraga untuk melampiaskan kepenatan setelah belajar,” jelas peneliti di Kementerian Perhubungan Republik Indonesia ini.

Selain itu, sejak 2002, di Higashi Hiroshima juga terdapat masjid. Umat muslim tidak kesulitan untuk  sholat berjamaah maupun sholat Jumat. Pada bulan Ramadhan di masjid ini disedikan iftar dan sholat tarawih.

Top Global Universities

Tahun 2014, Hiroshima University dinobatkan sebagai  Japan’s 13 Top Global Universities. Hiroshima University dikenal sebagai kampus penghasil guru. Kampus tersebut menjadi rujukan bagi mayoritas fakultas pendidikan di Negeri Matahari. Dilihat dari sejarah berdirinya, Hiroshima University pantas menjadi kiblat pendidikan guru.

Kampus yang berdiri pada 31 Mei 1949 ini dibentuk dari delapan komponen yakni  Hiroshima University of Literature and Science, Hiroshima Higher Normal School, Hiroshima Normal School, Hiroshima Women’s Higher Normal School, Hiroshima Young Men’s Normal School, Hiroshima High School, Hiroshima Higher Technical School, dan Hiroshima Municipal Higher Technical School. Tahun 1953, Hiroshima Prefectural Medical University turut bergabung ke Hiroshima University.

Beberapa komponen yang melebur ke Hirsohima University memiliki tradisi kuat sebagai pencetak guru berkualitas. Hiroshima Higher Normal School yang berdiri 1902 dikenal sebagai pusat pelatihan untuk guru sekolah menengah di Jepang. Sedangkan pendidikan keguruan di Hiroshima University of Literature and Science yang dibentuk 1929 serta Hiroshima Higher Normal School dibimbing oleh Kementerian Pendidikan Jepang.  “Fakultas terbaik di Hiroshima University adalah Faculty of Education. Fakultas ini perintis berdirinya Hiroshima University dan sebagai salah satu fakultas pendidikan tertua di Jepang,” kata wanita kelahiran Malang, 23 Mei 1978 itu.

Hiroshima University banyak menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajahmada, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Brawijaya, Universitas Hassanuddin dan beberapa kampus negeri lainnya. Program double degree antara UI dan UGM sudah berjalan 6 tahun dan sekarang masuk peridoe kedua untuk 6 tahun ke depan. Program tukar pelajar, short visit, short courses dan beberapa program lain sudah berjalan.

Menurut May, biaya hidup di kampus ini berkisar Y 100.000 (single) dan minimal Y 150.000 untuk keluarga. “Tempat tinggal rata-rata  Y 15.000 (dormitory), tapi kalau di luar dormitory bisa Y 25.000- Y 45.000,” jelasnya. Pengeluaran untuk gas antara Y 4.000 – Y 15.000, listrik dan air Y 5.000 – Y 10.000, makan Y 30.000 – Y 60.000, transportasi, asuransi, komunikasi Y 20.000, serta lain-lain Y 5.000. (*)

 

Development Policy

Lulus dari Jurusan Statistik, Institut Pertanian Bogor saya bekerja sebagai peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan. Kemudian saya mendapat beasiswa double degree dari Bapenas (2007-2009) untuk mengambil master di UI-Hiroshima University. Saya mengambil jurusan Environmental Economic Laboratory (Development Policy).

Saya memilih jurusan ini karena saya peneliti di bidang transportasi darat. Saya sedang melakukan penelitian terkait efektivitas penyediaan angkutan umum melalui implementasi kebijakan-kebijakan cross boundary sehingga bisa mengurangi kemacetan di Jakarta. Selain itu, di jurusan ini saya juga belajar tentang lingkungan. Terkait isu perubahan iklim dan juga polusi termasuk polusi kendaraan bermotor dan dampaknya secara ekonomi.

Tahun 2012 saya melanjutkan ke jenjang doktoral dan mendapatkan beasiswa Monbukagakusho (MEXT special program). Jurusan saya adalah Development Policy di bawah Graduate School of International Development and Cooperation (IDEC). Saya mendapat beasiswa Y 145.000 setiap bulan. (*)

Mie University: Kampus Favorit Mahasiswa Indonesia

Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015
Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015

Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam hayati (bioresources) yang  berlimpah. Ke depan SDA hayati akan berperan penting untuk menciptakan  kemakmuran masyarakat. Juga untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional. Sayang, pengetahuan tentang bioresources di negeri ini masih minim. Untuk itu, sebagian besar mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Mie University (Mie Daigaku), Kota Tsu, Prefektur Mie, Jepang memilih belajar di Fakultas Bioresources.

Fakultas Bioresources di Universitas Mie memiliki sejarah panjang.  Saat universitas ini berdiri pada 1949, perguruan tinggi yang terletak di Jepang Tengah tersebut hanya memiliki dua fakultas yaitu Fakultas Pertanian (Agriculture) dan Fakultas Seni (Liberal Arts). Fakultas Pertanian terdiri dari Jurusan Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Jurusan Kehutanan, dan Jurusan Industri Pertanian. Fakultas Pertanian terus berkembang dengan membuka jurusan baru, pengembangan lahan praktik serta membuka program master.

Seiring dengan kemajuan kampus, tahun 1972 Universitas Mie mendirikan fakultas baru yaitu Fakultas Perikanan. Tak lama kemudian, menyusul pendirian laboratorium, pembentukan program master hingga pembuatan kapal praktik Seisui Maru.  Tahun 1987, Fakultas Pertanian dan Fakultas Perikanan dilebur menjadi Fakultas Bioresources.  Selanjutnya, berdiri program master (1988) serta program doktoral (1991). Fakultas Bioresources mempunyai tiga jurusan yakni Life Sciences, Envrionmental Science and Technology, dan Sustainable Resources Science. Universitas Mie adalah universitas pertama di Jepang yang memiliki Fakultas Bioresources.

Melihat sejarah panjang Fakultas Bioresources di Universitas Mie, maka wajar jika animo mahasiswa Indonesia untuk mengambil jurusan ini tinggi. “Mahasiswa Indonesia paling banyak ada di Fakultas Bioresources,” ujar Dwinda Nafisah Nurinsiyah, mahasiswa Graduate School of Bioresources, Universitas Mie, kepada HaloJepang! baru-baru ini.

Menurut Dwinda, Universitas Mie memiliki kerja sama dengan kampus yang ada di Indonesia seperti  Universitas Padjadjaran (Bandung), Universitas Sriwijaya (Palembang), Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Halu Uleo (Kendari). ” Tapi ada juga mahasiswa PhD yang berasal dari UI dan Universitas di Papua seperti Universitas Manokwari,” tambah alumni Sastra Jepang Universitas Padjadjaran itu. Beberapa dari mahasiswa Indonesia merupakan mahasiswa pertukaran pelajar, Double Degree Program Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan Nasional dan Beasiswa Direktorat Pendidikan Tinggi.

Nyaman dan Muslim Friendly

Mahasiswa asal Indonesia memilih Universitas Mie karena lokasi ini cukup tenang. Kota Tsu, Prefektur Mie adalah kota kecil di Jepang Tengah. Jauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Tokyo atau Osaka. “Lokasinya tidak terlalu ramai sehingga nyaman untuk belajar,” jelas wanita berhijab ini.

Di kota kecil, selain tenang, biaya hidup juga lebih murah dibanding kota lainnya. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Arfan Abrar dari PPIJ (Persatuan Pelajar Indonesia Jepang) Komisariat Mie Prefektur, biaya hidup per bulan untuk mahasiswa berkisar 80.000 Yen. Rinciannya: tempat tinggal 20.000 yen, gas, listrik, air 6.700 yen,  makan 27.200 yen, transportasi, asuransi, komunikasi 18.000 yen, lain-lain 8.100 yen. Survei dilakukan terhadap mahasiswa yang tinggal di apato (apartemen) dan asrama. Jumlah tersebut bisa lebih besar atau lebih kecil tergantung gaya hidup masing-masing.

Daya tarik lainnya adalah lingkungan kampus yang Islami. Berkat perjuangan mahasiswa Indonesia, kampus memberikan sebuah ruangan di lantai empat untuk dijadikan mushola. “Dulu kita sholat di lantai tujuh,” jelas Arfan Abrar.  Sekarang, mushola ini digunakan oleh seluruh mahasiswa muslim, termasuk dari Banglades dan Afganistan. Untuk sholat Jumat atau sholat Idul Fitri, mahasiswa bisa mengunjungi masjid Mie yang berada di belakang kampus.

Mendapatkan makanan halal di Mie pun gampang. Di dekat masjid Mie ada toko yang menjual makanan halal. Di beberapa super market, tersedia makanan yang terbuat dari sayuran atau ikan, serta daging berlabel halal. Lingkungan yang tenang, biaya hidup murah serta bersahabat terhadap muslim membuat Universitas Mie menjadi salah satu universitas favorit bagi mahasiswa asal Indonesia. (*)

Lingkungan Hidup (Untuk box kecil)

Lulus S1 Sastra Jepang  Universitas Padjadjaran, saya bekerja sebagai penyiar radio di Bandung, Jawa Barat dan membawakan program Go Green. Di sinilah minat saya terhadap lingkungan meningkat.  Saya pun memilih untuk belajar tentang ekowisata di Mie University. Kampus ini dekat dengan Taman Nasional Ise Shima sehingga saya bisa belajar banyak tentang ekowisata di tempat ini.

Kebanyakan mahasiswa Indonesia yang kuliah di sini awalnya merupakan mahasiswa joint degree atau pertukaran pelajar di Graduate School of Bioresources. Mereka betah kemudian apply untuk melanjutkan PhD. Program Pasca Sarjana Fakultas Bioresources memiliki kerja sama dengan universitas di Indonesia.

Saya mendapatkan Beasiswa Unggulan Kemendiknas untuk belajar Biorsources di Universitas Mie. Besarnya beasiswa 80.000 yen per bulan. Cukup untuk hidup tapi pas-pasan. Karena itu saya juga menjadi freelance guide di Ike Bunkamura setiap Sabtu dan Minggu. (*)

Naruto University of Education: Fokus Mendidik Guru

 

PENDIDIKAN - NARUTO
HaloJepang! Edisi Mei 2015

Menyadari pentingnya peran guru dalam mendidik generasi muda, pemerintah Jepang mendirikan Naruto University of Education (NUE) pada 1 Oktober 1981. Di sini, calon guru digembleng agar menjadi pendidik berstandar Jepang. Termasuk mahasiswa asing asal Indonesia, Korea, dan Taiwan.

Kesadaran terhadap pentingnya mendirikan universitas yang memfokuskan kepada pendidikan sudah dimulai sejak 1974. Pada 20 Mei, sebuah komite pendidikan di Kementerian Pendidikan, Ilmu, dan Budaya Jepang (MESC) sudah membuat laporan mengenai konsep baru untuk mendidik calon guru.

Pada awal berdiri, NUE masih nebeng di Tokushima University. Pembangunan gedung perkantoran dan tempat kuliah baru selesai pada 1984. Pembangunan fasilitas lain, seperti perpustakaan, asrama mahasiswa, tempat penelitian, tempat pelatihan guru, gedung untuk program master dan doktoral dilakukan secara bertahap sampai 2001.

“Jadi NUE atau Narukyo ini semacam IKIP di Indonesia dulu. Universitas ini fokus di dunia pendidikan dan menghasilkan guru-guru yang memiliki ilmu dan teknik mengajar yang efektif di bidangnya,” jelas Sonny Elfiyanto, alumni NUE, program Diploma TEFL (Teaching English as Foreign Language).

Menurut pria kelahiran Malang, 28 Januari 1980 itu jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi jurusan favorit untuk jenjang sarjana, sedangkan untuk program pasca sarjana, jurusan Psiokologi menjadi primadona. “Psikologi merupakan jurusan yang sangat kompetitif karena jurusan ini termasuk langka, lebih menjurus ke pelatihan pada psikologi klinis,” tambah Sonny.

Studi Lapangan

Sonny adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang belajar di Jurusan TEFL tahun ajaran 2014-2015. Dari data yang ada di NUE, hampir semua mahasiswa Indonesia yang belajar di kampus ini mengambil jurusan TEFL. “Di Jurusan Bahasa Inggris, mahasiswa bisa melakukan riset tentang keinginan mereka untuk menjadi guru pada tingkat satuan apa, misalnya ingin menjadi guru di tingkat SD, SMP atau SMA,” jelas Sonny.

Di kelas tersebut, mahasiswa melakukan studi lapangan dengan melakukan penelitian selama setahun. Mereka membuat materi pengajaran, mempraktekkan di kelas, menganalisa kelebihan serta kekurangannya dan melaporkannya di forum pertemuan. Melalui studi lapangan ini, akan diperoleh metode yang paling tepat untuk mengajar di sebuah satuan pendidikan.

Untuk menguji metode pengajaran yang diterpakan, NUE memiliki beberapa sekolah yang berada di bawah pengawasannya (attached schools) mulai dari SD hingga SMA, dan juga SLB. Guru-guru di attached school ini bisa berkonsultasi dengan para profesor di NUE jika mereka mengalami kendala dalam mengajar. “Dengan senang hati profesor NUE melayani para guru. Mereka siap jika diminta bantuannya sebagai pakar jika para guru mengadakan studi banding,” kata mantan pengajar bahasa Inggris di berbagai SMK di Malang dan mantan dosen Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Kampus Idaman

Kampus seluas 238.208 m­­2  menjadi salah satu kampus idaman, khususnya bagi mahasiswa asing. Selain fasilitas yang memadai,  lingkungannya juga kondusif untuk belajar. Biaya hidup di wilayah ini pun lebih murah dibandingkan kota-kota besar di Jepang. “Biaya hidup menjadi keunggulan kampus ini,” jelas Sonny. Harga sewa asrama mahasiswa – yang lokasinya di sebelah kampus- untuk kamar single Y4.300, sedang untuk kamar keluarga ada dua tipe, yakni seharga Y11.900 yen dan  Y9.500 per bulan. “Jika ditotal dengan listrik, gas serta air, perbulannya tidak lebih dari Y25.000,” tambahnya. Untuk makan, jika masak sendiri mungkin tidak lebih dari Y15.000 per bulan. Jadi dengan uang sekitar Y60.000 yen, mahasiswa sudah bisa hidup.

Sayangnya, NUE belum menjalin kerjasama dengan kampus di Indonesia. Mereka baru bermitra  dengan Gyeongin National University of Education dan Gwangiu National University of Education di Korea, University of Puget Sound, University of North Carolina, East Carolina University, dan Western Carolina University di Amerika, serta  University of Taipei di Taiwan. Kendati demikian, mereka bekerjasama dengan JASSO (Japan Student Service Organization) dan pemerintah Indonesia dalam hal peningkatan kemampuan staf pendidik di Indonesia untuk bisa memperoleh gelar master dari kampus ini.

Untuk mendapatkan beasiswa di kampus ini, bisa melalui beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Jepang lewat Monbusho ataupun beasiswa melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. *

Diploma TEFL

Sonny Elfiyanto mendapat beasiswa dari  MEXT (Monbusho) untuk program teacher training. Dia mengambil Diploma TEFL (Teaching English as Foreign Language). Banyak yang bertanya kenapa dia belajar Bahasa Inggris di Jepang, yang Bahasa Inggris mereka juga tidak terlalu baik. Dia belajar ke Jepang karena bidang penelitiannya adalah perbandingan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia dengan negara yang memperlakukan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, bukan sebagai bahasa kedua atau bahasa ibu. Sangat relevan jika dia memilih studi ke Jepang.

Alasan lain, dia adalah guru Bahasa Inggris di Kota Malang, Jawa Timur. Jadi, jurusan inilah yang bisa meningkatkan kemampuan dia sebagai guru Bahasa Inggris sehingga  bisa menjadi panutan yang baik bagi murid-muridnya nanti.

Seleksi untuk teacher training di Indonesia lumayan ketat. Dari sekitar 1.000 pelamar hanya dipilih 14 orang. Seleksinya dilakukan serentak di 5 kota besar di Indonesia, setelah itu dipanggil ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk tes wawancara dan tertulis. Mulai 2014, kuota beasiswa ini meningkat menjadi 24 orang. *