RAKUGO: Stand up Comedy dengan Kipas dan Sapu Tangan

 

Tabloid HaloJepang! edisi Mei 2015
Tabloid HaloJepang! edisi Mei 2015

Rakugo –seni bercerita yang mengundang tawa-  sudah ada di Jepang sejak zaman Edo (1603–1868) dan mencapai puncaknya pada era Meiji (1868–1912).  Mirip stand-up comedy  tetapi lebih sulit karena keterbatasan gerak, perlengkapan serta panggung nan sederhana. Perlengkapan yang dipakai rakugoka, pemain rakugo, hanyalah kipas lipat (sensu) dan sapu tangan panjang (tenugui).

Rakugoka harus memiliki kemampuan bercerita yang hebat. Mereka membawakan ekspresi dari masing-masing karakter dengan menggunakan perbedaan suara, gaya berbicara, ekspresi wajah, dan gerak-gerik, sehingga penonton bisa langsung mengenali pergantian dari satu karakter ke karakter yang lain.

Gerak-gerik rakugoka bisa berupa pandangan mata, gerakan kipas dan sapu tangan ataupun menggerakkan kaki dan tangan sambil tetap duduk seiza. Pandangan mata rakugoka melihat ke arah panggung sebelah kanan (dari kursi penonton panggung sebelah kiri) yang disebut shimote ketika karakter berkedudukan lebih tinggi berbicara dengan karakter berkedudukan lebih rendah.

Begitu pula sebaliknya, pencerita melihat ke arah panggung sebelah kiri (dari kursi penonton panggung sebelah kanan) yang disebut kamite ketika karakter berkedudukan lebih rendah berbicara dengan karakter berkedudukan lebih tinggi. Arah pandangan mata dan arah gerakan leher terus berganti bergantung pada bagian-bagian dialog, sehingga penonton bisa membedakan berbagai karakter yang tampil dalam cerita.

Untuk menggambarkan berbagai aktivitas, rakugoka bisa menggunakan kipas dan sapu tangan sebagai alat bantu. Misalnya, untuk adegan makan, mereka bisa menggunakan kipas yang dilipat sebagai sumpit, sementara sapu tangan menjadi piringnya. Atau untuk kegiatan menulis, sapu tangan dijadikan kertas dan kipas berfungsi sebagai pulpen. Di sinilah dituntut kreativitas dari rakugoka.

Rakugoka tampil mengenakan kimono  dan dalam posisi duduk seiza di atas bantal (zabuton). Rakugoka tidak boleh berdiri, termasuk untuk menggambarkan adegan berjalan. Mereka cukup mengangkat sedikit lutut kiri dan kanan secara bergantian dibarengi gerakan mengayun-ayunkan lengan seperti orang sedang berjalan.

Biksu Budha

Monolog ini fokus pada humor dan memiliki tiga bagian: makura (cerita awal), yang honmon (cerita utama), dan ochi (klimaks cerita). Makura berupa penyebutan judul, tema, dan latar belakang cerita. Bagian ini dimaksudkan sebagai pemanasan bagi penonton dan pencerita. Penonton dibuat tertawa dengan sedikit lawakan agar santai. Pencerita juga sekaligus mempersiapkan penonton untuk masuk ke alam imajinasi dengan bercerita ringan tentang hal-hal yang berkaitan dengan cerita utama. Dari sejak awal, pencerita mulai memberi tanda-tanda akan bakal adanya “jebakan” yang dipasang sebagai klimaks cerita.

Karena sifatnya lucu dan menghibur, banyak biksu yang memanfaatkan rakugo untuk menyebarkan agama Budha di Jepang. Biksu Anrakuan Sakuden (1554–1642) membuat 1.037 cerita rakugo yang dia buat sejak masih muda. Cerita dari para biksu Budha berpengaruh besar terhadap perkembangan rakugo di negeri Matahari Terbit.

Rakugo berkembang pesat di tiga kota: Edo, Kyoto dan Osaka. Hingga kini rakugo yang berkembang memiliki dua versi yakni Edo rakugo (rakugo versi Edo) dan Kamigata rakugo (rakugo versi Kyoto-Osaka). Kedua versi bisa langsung dikenali dari perbedaan tata cara dan perlengkapan panggung.

Tradisional dan Modern

Cerita rakugo bisa berasal dari zaman klasik (koten rakugo) atau rakugo modern (shinsaku rakugo). Rakugo klasik mengangkat humor dari zaman Edo, era Meiji sampai menjelang Piala Dunia II.  Cerita rakugo klasik banyak diambil dari buku Seisuishō (1628) karangan biksu Anrakuan Sakuden dari kuil Joonji di kota Gifu.  Sampai sekarang kisah lucu dalam buku ini banyak dipakai sebagai cerita pembuka dalam pertunjukan rakugo.

Rakugo modern lahir dari kreatifitas rakugoka. Mereka terus menyesuaikan rakugo dengan perkembangan zaman sehingga cerita pun terus berkembang. Rakugoka modern yang terkenal adalah Katsura Bunshi VI. Dia membuat lebih dari 200 humor. Setiap tampil, dia hanya membawakan cerita karangan sendiri.

Rakugo mulai dikenal dan dipelajari oleh orang-orang di luar Jepang. Untuk mengenalkan rakugo ke dunia internasional, beberapa komedian rakugo tampil dengan menggunakan bahasa Inggris, seperti  Katsura Shijaku.

Hadir di Jakarta

Untuk memopulerkan rakugo di Indonesia, pada 13-15 Juni 2015 komedian asal Jepang Katsura Sanshiro akan menghibur penonton di Jakarta. Artis kelahiran Eiji Nozu, 24 Februari 1982 itu bukan hanya mengibur masyarakat Jepang tetapi juga orang Indonesia yang tertarik pada kesenian tersebut. Pentas siang hari untuk orang Indonesia, sedangkan pertunjukan sore untuk masyarakat Jepang.

“Kita akan undang mahasiswa dari kampus yang memiliki jurusan Sastra Jepang. Untuk mahasiswa gratis,” kata Sylvia Wijaya, Direktur Katya Mitrakarsa, perusahaan yang mengurusi pertunjukan Katsura di Jakarta. Menurut Sylvia, pihaknya akan mengundang 100-150 mahasiswa Indonesia.

Katsura bisa memainkan rakugo tradisional mapun modern, bahkan bisa pentas menggunakan bahasa Inggris. Dia adalah murid dari master rakugo, Katsura Bunshi. Katsura mengawali karir sebagai komika (pemain stand-up comedy). Namun setelah mendengarkan penampilan Katsura Bunshi melalui CD, dia berubah haluan. Sejak April 2004, dia pun magang kepada Katsura Bunshi, sampai akhirnya dia menjadi rakugoka kondang. Kini, Katsura terkenal sebagai pemain rakugo. Dia sering tampil di berbagai acara radio, televisi dan juga film. *

Kata kunci:

Humor / Joku  (ジョーク)

Monolog  / Monorogu (モノローグ)

Kato Hiroaki: Mempopulerkan Budaya Indonesia ke Jepang

INSPIRASI-KATO
HaloJepang! edisi April 2015

Tak ada darah Indonesia yang mengalir dalam diri Kato Hiroaki, namun kecintaannya kepada  Indonesia tak perlu diragukan. Sempat balik ke Jepang setelah menyelesaikan studi Linguistik Bahasa Indonesia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Hiro –panggilan sehari-harinya- memilih menetap di nusantara. Dia terus berkarya dan mengenalkan Indonesia ke ‘Saudara Tua’.

Lelaki jangkung kelahiran Tokyo, 9 Maret 1983 itu disibukkan dengan berbagai aktifitas berbau Indonesia: menjadi penerjemah bagi perusahaan Jepang, pembaca acara, penyanyi atau dosen Bahasa Indonesia paruh waktu di Sophia University dan Oberin University, Jepang. Di tengah-tengah kesibukannya, pria yang gemar memakai baju batik ini menyempatkan diri berbincang-bincang dengan HaloJepang! Berikut petikan wawancaranya.

HaloJepang! (HJ): Sejak kapan Anda tertarik dengan budaya Indonesia?

Kato Hiroaki (KH): Saya mulai tertarik dengan Indonesia saat seorang dosen membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sejak itu, saya bertekad untuk belajar Bahasa Indonesia. (Buku ini menjadi fenomenal karena sempat dilarang oleh rezim Orede Baru, namun penjualannya tetap menakjubkan).

HJ: Kapan Anda mulai serius belajar Bahasa Indonesia?

KH: Tahun 2006. Saat itu ada pertukaran mahasiswa ke Indonesia. Saya langsung mendaftar dan diterima di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Saya setahun belajar Bahasa Indonesia.

HJ: Apakah Anda juga belajar sastra di Yogyakarta?

KH: Saya tertarik dengan sastra modern. Saya membaca novel-novel seperti Super Nova, Perahu Kertas dan Laskar Pelangi.  Saya nonton film Laskar Pelangi dan membaca novelnya. Dua tahun saya baru bisa memahami isi dan cerita Laskar Pelangi itu.

HJ: Mengapa Anda menerjemahkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?

KH: Topik Laskar Pelangi bersifat universal. Soal pendidikan. Faktor lain adalah apa yang ada dalam cerita novel tersebut, tidak ada di Jepang saat ini. Di sana, orang mudah untuk mendapatkan pendidikan. Bagi mereka, cerita perjuangan berat anak-anak desa untuk memperoleh pendidikan tinggi sangat memikat.

HJ: Bagaimana respon masayarakat Jepang terhadap novel Laskar Pelangi?

KH: Mereka sangat antusias. Terutama yang usianya di atas 50 tahun. Mereka merasakan sesuatu  seperti dalam cerita itu. Novel tersebut sudah laku 5.000 buku. Itu sangat besar. Untuk buka asing, bisa laku 1000 saja sudah bagus.  Saya ingin menerjemahkan novel Sang Pemimpi, lanjutan Laskar Pelangi.

HJ: Selain menggeluti sastra, Anda juga menekuni musik. Anda juga menerjemahkan lagu-lagu Indonesia ke Bahasa Jepang?

KH: Saya senang musik Indonesia. Saat di Yogyakarta, saya sering main ke studio milik grup band Letto. Kebetulan saya kenal dengan vokalisnya, Noe. Saya juga menerjemahkan beberapa lagu milik Letto, seperti Ruang Rindu. Tak mudah menerjemahkan lagu. Saya perlu waktu satu bulan. Tapi, hasilnya membuat Letto senang. Saya juga menerjemahkan lagu Laskar Pelangi (Nidji) dan Sepatu (Tulus).

HJ: Apakah lagu Indonesia yang Anda terjemahkan dibawakan juga di Jepang?

KH: Selain saya upload ke Youtube, saya pun sering membawakan lagu-lagu Indonesia, baik versi asli maupun terjemahan, di kafe-kafe di daerah Shibuya dan Harajuku. Mereka menyukai lagu-lagu pop Indonesia. Saat saya nyanyi, sebagian orang sudah ikut bernyanyi. Masyarakat Jepang yang belajar tentang Indonesia juga semakin bertambah.

HJ: Apakah Anda juga membuat lagu dalam Bahasa Indonesia?

KH: Saya pernah mengeluarkan mini album berjudul Terima Kasih (2010). Saya juga berencana membuat mini album kedua dan full album. Dalam album ini saya akan menciptakan lagu Bahasa Indonesia dengan memasukkan unsur-unsur musik tradisional.

HJ: Selama bermusik, Ada sudah berkolaborasi dengan siapa saja?

KH: Saya sering menjadi penyanyi pembuka untuk beberapa artis. Sekarang saya sering tampil bareng Tulus. Saya senang dengan lagu-lagunya. Saya ingin menerjemahkan beberapa lagu Tulus yang sedang menjadi hits.

HJ: Di samping mengenalkan budaya Indonesia melalui sastra dan lagu, Anda pun tampil di film pendek berbahasa Indonesia?

KH: Saya main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’. Film tersebut menang di Festival Film Indonesia 2006, menyabet The Best Short Film di Korea (2006), serta mendapat sambutan meriah di Festival Film Pendek Jepang 2007.

HJ: Kegiatan apa yang Anda kerjakan saat ini berakitan dengan seni dan budaya?

KH: Saya sedang fokus menggarap lagu-lagu karya Andre Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dan penyanyi wanita Meda Kawu.

PROFIL:

Lahir                                      : Tokyo, 9 Maret 1983

2006-2007                            : Kuliah Bahasa Indonesia di UGM, Yogyakarta

April 2006                            : Main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’

April 2009                            : Mengajar Privat Bahasa Indonesia

April 2010                            : Lulus Pasca Sarjana Tokyo University of Foreign Studies Graduate Degree

September 2010               : Rilis mini album ‘Terima Kasih’

Oktober 2013                     : Menerbitkan novel Laskar Pelangi dalam bahasa Jepang.

Menjadikan Teh Indonesia Minuman para Sosialita

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Kafe teh di Indonesia belum seramai kedai kopi. Upaya mengangkat teh ke pasar kelas atas sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Walau mulai menampakkan hasil namun masih perlu upaya ekstra keras untuk mengangkat citra teh agar disukai kaum sosialita Indonesia.

Ahli teh Indonesia yang juga Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia, Ratna Somantri, mengakui keberedaan kafe teh di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan kedai kopi. “Harus ada brand luar yang masuk karena kita biasa mengikuti tren,” ujar Ratna kepada HaloJepang! belum lama ini. Masuknya Teh Wellness Group (TWC)Tea Salon and Boutique di Jakarta pada 2013, diakui Ratna, turut mendongkrak citra teh.

Seperti diketahui, TWC adalah perusahaan teh asal Singapura yang berdiri sejak 1837. Mereka mengimpor teh dari berbagai perkebunan di dunia seperti China, India, Sri Lanka, Nepal, Taiwan, Banglades, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, Indonesia, Argentina, Brasil, Rwanda, hingga Kamerun. Kafe teh TWC berdiri 2008 dengan menyajikan aneka ragam teh. Konon, ada sekitar seribu menuh teh yang menggoda selera.

Selain pasar yang belum “matang”, membuka kafe teh lebih sulit dibandingkan kedai kopi. Menyajikan teh harus dilakukan secara manual, berbeda dengan minuman kopi yang bisa mengandalkan mesin. Cara menyeduh teh, untuk tiap-tiap jenis, juga berlainan.

Sebagai upaya mengangkat harkat dan martabat teh, Ratna turut membidani lahirnya Gaia, Tea & Cake di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Di tempat ini, Ratna mengemas teh dengan cara elegan. “Kalau kemasan seperti ini orang mau dong beli,” ujar wanita kelahiran Cirebon, 3 November 1978 ini sambil menunjukkan kemasan teh dalam kaleng. Bukan sekedar kemasan yang menarik, minuman teh juga disajikan secara modern.

Merek Lokal

Selama ini masyarakat Indonesia hanya mengenal teh melati sebagai minuman sehari-hari. Jenis teh tersebut dibuat dari daun tua, batang, dan campuran lain, termasuk melati. “Melati untuk menghilangkan bau tak sedap pada batang,” jelas alumni French Patisserie dari Le Cordon Blue, Sydney, Australia ini. Sementara teh terbaiknya, yang terdiri dari pucuk dan kuncup, diekspor ke negara lain.

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Hal ini berbeda dengan masyarakat Jepang. Menurut Haruna Yamamoto, ahli teh asal Jepang, orang Jepang sudah terbiasa minum teh hijau sekitar 1200 tahun lalu, saat pendeta Budha membawa teh dari China. “Sekarang orang Jepang minum teh dengan cara berbeda-beda, dalam botol, teh celup atau bubuk,” jelas pemilik sertifikat Nihoncha Instructor itu. Orang yang menyeduh daun teh mulai berkurang. Yang patut dicatat, teh hijau Jepang dibuat dari daun teh pilihan sehingga berkhasiat bagi kesehatan.

Jika Jepang mengonsumsi daun teh terbaiknya, Indonesia justru mengekspor daun teh pilihan karena harganya lebih mahal. Setelah diproses di luar negeri, sebagian dari teh tersebut masuk lagi ke Indonesia dengan harga selangit. “Dua tahun terakhir, dalam kemasan disebutkan teh asal Indonesia,” kata Ratna. Sebelumnya, tak pernah disebut kalau teh tersebut hasil dari perkebunan di tanah air. Teh olahan dari luar negeri ini yang kemudian dijual ke kafe-kafe teh di Indonesia.

Ratna berharap, Indonesia bisa memiliki merek teh sendiri, seperti halnya produsen teh di Jepang atau India. “Saya ingin Indonesia memiliki brand sendiri berdasarkan pada di mana teh itu tumbuh. Misalnya Halimun Tea. Jadi teh dari daerah lain tidak boleh menggunakan merek tersebut,” jelas wanita yang sudah menulis dua buku tentang teh tersebut. Cara seperti ini sudah dijalankan di India.

Agribisnis Teh

Pemerintah Jepang memberikan dukungan kepada pengusaha, termasuk produsen teh, untuk mengenalkan produk mereka ke luar negeri. Bahan pemerintah daerah pun memberikan dukungan semacam ini. “Pemerintah Prefektur Shizuoka sedang menyiapkan program-program untuk mendukung bisnis teh,” jelas Yamamoto. Prefektur Shizuoka adalah daerah penghasil teh di Jepang.

Indonesia juga menyadari pentingnya dukungan pemerintah untuk menggerakkan bisnis teh di nusantara. Oleh karena itu, sejak 2014 pemerintah melalui Kementerian Pertanian, mencanangkan gerakan penyelamatan agribisnis teh nasional (GPATN) dengan anggaran Rp. 48 miliar. “Dana itu dipakai untuk membeli bibit teh unggul, pupuk dan hal lain yang berkaitan dengan agribsinis teh,” lanjut Ratna. Menurut rencana, anggaran GPATN akan ditambah menjadi Rp.100 miliar.

Ratna menambahkan, salah satu kelemahan Indonesia di bisnis teh adalah soal kemasan. “Kita harus belajar ke Jepang. Negara itu ahli dalam membuat kemasan yang menarik,” ujar sarjana Teknik Industri, Universitas Trisakti Jakarta ini. Jika teh ditampilkan apa adanya, hanya dibungkus kertas, maka kemasan menjadi kurang menarik. Akibatnya, harga jual tidak bisa terkerek. Lain halnya jika teh dikemas ekslusif di dalam kaleng dengan warna elegan. Orang rela membeli dengan harga tinggi. “Dalam bisnis perlu pencitraan,” ujarnya sambil tersenyum.

Agribisnis teh di Indonesia masih tertinggal jauh dibanding Jepang. Untuk itu, perlu dukungan semua pemangku kepentingan agar bisnis teh segera bangkit. Melalui Dewan Teh Nasional, Ratna tengah memperjuangkan regulasi yang mengatur standarisasi teh nasional serta melindungi teh lokal dari serbuan teh impor. “Kalau teh impor murah, teh lokal akan terdesak,” jelas Ratna.

Apalagi, belakangan ini teh produksi China dan Vietnam terpapar pestisida dan dilarang masuk ke Eropa dan Amerika Serikat. Kalau tidak ada regulasi, teh semacam ini bisa masuk ke Indonesia dengan harga murah. Di samping memukul teh lokal, teh dengan kandungan pestisida tinggi ini juga merugikan konsumen karena bisa mengganggu kesehatan. (*)

Game Hantu Menguasai Pasar Dunia

Tabloid HaloJepang! Edisi Desember 2014
Tabloid HaloJepang! Edisi Desember 2014

Youkai Watch, game online yang dirilis pada 11 Juli 2013, pernah disebut  sebagai bagian dari runtutan kegagalan Level 5 menelurkan game hits. Penjualan di awal peluncuran kurang impresif. Namun, tak kurang dari setahun penjualan Youkai Watch di Jepang menakjubkan. Level 5 pun meluncurkan Youkai Watch 2 pada 10 Juni 2014. Level 5 optimis, game bergenre pemburu hantu ini mampu menembus pasar dunia, termasuk Indonesia, Eropa dan Amerika Serikat.

Level 5 bukanlah pemain baru dalam dunia game. Mereka pernah melahirkan game populer seperti seri Professor Layton, Inazuma Eleven, White Knight Chronicles, serta Ni No Ku Ni.  Permainan Youkai Watch menyerupai Pokemon. Pemain memerankan karakter gadis cilik atau anak laki-laki kecil yang berteman dengan hantu. Hantu tersebut yang akan membantu pemain untuk memecahkan misteri yang ada di kotanya. Hantu ini pula bisa menangkap hantu lainnya untuk dijadikan teman dalam memerangi hantu lain yang bermakud mengusik ketenangan mereka.

Presiden Level 5  Akihiro Hino kepada media Jepang mengatakan pihaknya tengah mengevaluasi pasar untuk Eropa dan Amerika dan berharap bisa membawa Youkai Watch 2 ke pasar internasional. “Saya yakin apa yang menarik di Jepang, seperti fantasi, bisa sukses juga di dunia internasional,” kata Akihiro.

Optimisme Akihiro itu dikarenakan pihaknya telah melakukan perubahaan mendasar pada Yokai Watch seri kedua ini di mana terdapat fitur online yang memungkinkan empat player bisa bermain sekaligus untuk bersama-sama menangkap hantu.  Selain itu, Level 5 juga menambah jumlah dan karakter Youkai, termasuk tempat-tempat baru untuk membekuk Youkai. Pekan pertama sejak peluncuran Youkai Watch 2, Level 5 sudah berhasil menjual 1,316,707 copy. Jumlah yang sangat fantastis.

Daya Tarik Hantu

Game hantu memiliki daya tarik tersendiri, termasuk di Jepang. Sebuah game buatan anak muda Bandung berhasil menembus pasar Jepang sejak November 2013. Game tersebut mengambil tokoh-tokoh lelembut khas Indonesia seperti genderuwo dan pocong yang dilengkapi dengan musik gamelan dengan latar kota-kota di Jawa Barat. Game yang diberi judul Inheritage: Boundary of Existence ini buatan studio Tinker Games di Bandung. “Game ini menghadirkan suasana Indonesia dengan latar kota Bandung, Sukabumi, Bogor serta Garut,” kata pendiri Tinker Games, Muhammad Ajie.

Inheritage adalah game yang mengisahkan Nala, dengan temannya Rakyan yang berwujud binatang mistis untuk melindungi kotanya dari serbuan bangsa Yaksa. Game ini pertama kali dikenalkan ke publik Jepang pada acara Tokyo Game Show 2013. Ternyata, sambutan masyarakat Jepang terhadap game ini sangat besar.

Dalam versi Jepang, bahasa pengantar game dialihbahasakan menjadi bahasa Jepang lengkap dengan karakter kanji. Namun, Tinker Games sengaja mempertahankan aspek lain, baik cerita dengan latar belakang kota-kota di Pulau Jawa, termasuk dialog dalam cerita. Lokalisasi bahasa Jepang dari game INheritage: Boundary of Existence dilakukan oleh studio setempat, Kakehashi Games.

Usaha menembus pasar game Jepang juga dilakukan oleh pengembang game lain asal Bandung, Jawa Barat, Digital Happiness. Dalam acara Tokyo Game Show (TGS) 2014, Digital Happiness, melakukan pelokalan terhadap game horor berjudul DreadOut. Game horor khas Indonesia yang fenomenal ini tampil dengan menu dan subtitle bahasa Jepang. “Pelokalan ini khusus untuk acara Tokyo Game Show, sekaligus persiapan kami dalam rencana porting ke konsol dan masuk pasar Jepang,” ujar Rachmad Imron, CEO Digital Happiness.

DreadOut adalah permainan survival horor yang berlatar di Indonesia. Karakter utama, Linda, menggunakan gadget modern, seperti kamera video digital dan smartphone untuk berinteraksi dengan berbagai macam hantu mistis Indonesia, membantunya memecahkan berbagai teka-teki di sebuah kota yang ditinggalkan penghuninya. Ketika Linda “meninggal” dalam permainan ini, dia akan terbangun dalam kegelapan dikelilingi oleh lilin dengan cahaya terang di kejauhan. Dengan menjalankannya menuju cahaya, Linda akan hidup kembali.

Rachmad berharap, DreadOut bisa meraup sukses di Jepang seperti halnya Inheritage yang sama-sama memulai dari acara Tokyo Game Show.  (*)

Serba serbi Jepang

Biksu di Kuil Gotanjo, Fukui, Jepang dikerumuni kucing

VIHARA KUCING: Kucing di Prefektur Fukui, Jepang mendapat perhatian istimewa dari biksu dan masyarakat. Di vihara Gotanjo, biarawan agama Budha itu memberi makan dan merawat kucing sepanjang hari.  Kucing bebas berkelana di kuil dan sekitarnya. Kucing-kucing itu sering duduk dan tidur di dekat Omikuji.

Kucing-kucing tersebut terlihat manja kepada para biksu. Bahkan mereka tak segan-segan mendatangi para pelancong sekedar minta dibelai atau foto bersama. Begitu banyaknya kucing yang menghuni vihara ini sehingga pelancong dan masyarakat sekitar menyebut vihara Gotanjo dengan nama Vihara Kucing. Pelancong bisa mendapatkan kucing-kucing lucu di toko souvenir di sisi vihara. Untuk penggemar kucing, vihara ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi saat plesir ke Jepang.

PACAR SEWAAN: Sebuah perusahaan di Jepang Support One yang memiliki bisnis ‘bohong putih’ melebarkan sayap ke jasa pacar sewaan. Tujuaannya membuat pacar klien cemburu atau orang tua tenang karena anaknya bisa move on, melupakan sang mantan.  Layanan yang diberi nama Jealousy-Generating Brigade (JGB) ini bertarif 5.000 yen untuk satu jam pertama. Tarif berikutnya hanya 3.000 yen per jam, di luar biaya transport dan lain-lain. Tersedia juga paket lima dan delapan jam.

Support One menjamin, pacar sewaan tersebut berwajah ganteng dan cantik. Tidak memalukan dibawa saat pesta atau pertemuan keluarga. Perusahaan ini juga menyediakan berbagai skenario untuk membuat pacar klien cemburu. Misalnya, ketika klien dan pacar akan bertemu, tiba-tiba pacar sewaan ini muncul lalu bercakap-cakap dengan klien. Skenario lain, klien dan pacar sewaan mengadakan pesta lalu mengundang pacar yang sesungguhnya.  Apa pun skenarionya, tujuannya membuat pacar cemburu.

MEDIA SOSIAL HEWAN: Hewan piaraan juga ingin bersosialisasi. Oleh karena itu perusahaan teknologi asal Jepang Anicall Cop mengenalkan Tsunagaru Col, ‘media sosial’ untuk binatang piaraan. Tsunagaru berarti terhubung. Nantinya hewan piaraan akan mengenakan gadget  di lehernya. Alat tersebut terkoneksi dengan aplikasi di ponsel cerdas.

Melalui aplikasi inilah pemilik bisa memantau binatang kesayangannya. Sedang berada di mana dan dengan siapa mereka bergaul.  Tujuan dari Tsunagaru Col adalah menyediakan sarana komunikasi bagi hewan dan memudahkan pemilik memantau pergaulan hewan piaraannya. Tsunagaru Col menarik pengunjung pameran Wearable Device Technology Expo di Tokyo, Jepang, baru-baru ini.

NAMA POPULER: Sebuah situs dan aplikasi bernama Myoji-Yurai Net memiliki layanan unik dengan menyediakan 3.000 nama populer di Jepang. Aplikasi ini bekerja berdasar pada karakter huruf bukan pengucapannya. Jadi, nama dengan ucapan sama jika ditulis dengan huruf baru dan huruf lama akan berbeda peringkatnya. Misal, nama Shibuya bila ditulis dengan karakter baru akan menempati  posisi 234, tetapi jika ditulis dengan huruf lama merosot ke urutan 2995. Nama Sakai menduduki urutan 64 jika ditulis dengan huruf baru dan menempati peringkat 2992 jika ditulis dengan huruf lama.

Nama yang kurang populer adalah Hachiya. Hanya dipakai oleh 4.700 orang. Nama Sato digunakan oleh 2.055 juta orang, sekitar 1,5% dari seluruh penduduk di Jepang. Sebagian nama juga merujuk ke wilayah tertentu. Hachiya dipakai oleh sebagian besar penduduk Kamakura di Prefektur Kanagawa. Lebih dari 50% orang yang bernama Maru tinggal di kota Chiba. Aplikasi yang unik dan menghibur.