RAKUGO: Stand up Comedy dengan Kipas dan Sapu Tangan


 

Tabloid HaloJepang! edisi Mei 2015
Tabloid HaloJepang! edisi Mei 2015

Rakugo –seni bercerita yang mengundang tawa-  sudah ada di Jepang sejak zaman Edo (1603–1868) dan mencapai puncaknya pada era Meiji (1868–1912).  Mirip stand-up comedy  tetapi lebih sulit karena keterbatasan gerak, perlengkapan serta panggung nan sederhana. Perlengkapan yang dipakai rakugoka, pemain rakugo, hanyalah kipas lipat (sensu) dan sapu tangan panjang (tenugui).

Rakugoka harus memiliki kemampuan bercerita yang hebat. Mereka membawakan ekspresi dari masing-masing karakter dengan menggunakan perbedaan suara, gaya berbicara, ekspresi wajah, dan gerak-gerik, sehingga penonton bisa langsung mengenali pergantian dari satu karakter ke karakter yang lain.

Gerak-gerik rakugoka bisa berupa pandangan mata, gerakan kipas dan sapu tangan ataupun menggerakkan kaki dan tangan sambil tetap duduk seiza. Pandangan mata rakugoka melihat ke arah panggung sebelah kanan (dari kursi penonton panggung sebelah kiri) yang disebut shimote ketika karakter berkedudukan lebih tinggi berbicara dengan karakter berkedudukan lebih rendah.

Begitu pula sebaliknya, pencerita melihat ke arah panggung sebelah kiri (dari kursi penonton panggung sebelah kanan) yang disebut kamite ketika karakter berkedudukan lebih rendah berbicara dengan karakter berkedudukan lebih tinggi. Arah pandangan mata dan arah gerakan leher terus berganti bergantung pada bagian-bagian dialog, sehingga penonton bisa membedakan berbagai karakter yang tampil dalam cerita.

Untuk menggambarkan berbagai aktivitas, rakugoka bisa menggunakan kipas dan sapu tangan sebagai alat bantu. Misalnya, untuk adegan makan, mereka bisa menggunakan kipas yang dilipat sebagai sumpit, sementara sapu tangan menjadi piringnya. Atau untuk kegiatan menulis, sapu tangan dijadikan kertas dan kipas berfungsi sebagai pulpen. Di sinilah dituntut kreativitas dari rakugoka.

Rakugoka tampil mengenakan kimono  dan dalam posisi duduk seiza di atas bantal (zabuton). Rakugoka tidak boleh berdiri, termasuk untuk menggambarkan adegan berjalan. Mereka cukup mengangkat sedikit lutut kiri dan kanan secara bergantian dibarengi gerakan mengayun-ayunkan lengan seperti orang sedang berjalan.

Biksu Budha

Monolog ini fokus pada humor dan memiliki tiga bagian: makura (cerita awal), yang honmon (cerita utama), dan ochi (klimaks cerita). Makura berupa penyebutan judul, tema, dan latar belakang cerita. Bagian ini dimaksudkan sebagai pemanasan bagi penonton dan pencerita. Penonton dibuat tertawa dengan sedikit lawakan agar santai. Pencerita juga sekaligus mempersiapkan penonton untuk masuk ke alam imajinasi dengan bercerita ringan tentang hal-hal yang berkaitan dengan cerita utama. Dari sejak awal, pencerita mulai memberi tanda-tanda akan bakal adanya “jebakan” yang dipasang sebagai klimaks cerita.

Karena sifatnya lucu dan menghibur, banyak biksu yang memanfaatkan rakugo untuk menyebarkan agama Budha di Jepang. Biksu Anrakuan Sakuden (1554–1642) membuat 1.037 cerita rakugo yang dia buat sejak masih muda. Cerita dari para biksu Budha berpengaruh besar terhadap perkembangan rakugo di negeri Matahari Terbit.

Rakugo berkembang pesat di tiga kota: Edo, Kyoto dan Osaka. Hingga kini rakugo yang berkembang memiliki dua versi yakni Edo rakugo (rakugo versi Edo) dan Kamigata rakugo (rakugo versi Kyoto-Osaka). Kedua versi bisa langsung dikenali dari perbedaan tata cara dan perlengkapan panggung.

Tradisional dan Modern

Cerita rakugo bisa berasal dari zaman klasik (koten rakugo) atau rakugo modern (shinsaku rakugo). Rakugo klasik mengangkat humor dari zaman Edo, era Meiji sampai menjelang Piala Dunia II.  Cerita rakugo klasik banyak diambil dari buku Seisuishō (1628) karangan biksu Anrakuan Sakuden dari kuil Joonji di kota Gifu.  Sampai sekarang kisah lucu dalam buku ini banyak dipakai sebagai cerita pembuka dalam pertunjukan rakugo.

Rakugo modern lahir dari kreatifitas rakugoka. Mereka terus menyesuaikan rakugo dengan perkembangan zaman sehingga cerita pun terus berkembang. Rakugoka modern yang terkenal adalah Katsura Bunshi VI. Dia membuat lebih dari 200 humor. Setiap tampil, dia hanya membawakan cerita karangan sendiri.

Rakugo mulai dikenal dan dipelajari oleh orang-orang di luar Jepang. Untuk mengenalkan rakugo ke dunia internasional, beberapa komedian rakugo tampil dengan menggunakan bahasa Inggris, seperti  Katsura Shijaku.

Hadir di Jakarta

Untuk memopulerkan rakugo di Indonesia, pada 13-15 Juni 2015 komedian asal Jepang Katsura Sanshiro akan menghibur penonton di Jakarta. Artis kelahiran Eiji Nozu, 24 Februari 1982 itu bukan hanya mengibur masyarakat Jepang tetapi juga orang Indonesia yang tertarik pada kesenian tersebut. Pentas siang hari untuk orang Indonesia, sedangkan pertunjukan sore untuk masyarakat Jepang.

“Kita akan undang mahasiswa dari kampus yang memiliki jurusan Sastra Jepang. Untuk mahasiswa gratis,” kata Sylvia Wijaya, Direktur Katya Mitrakarsa, perusahaan yang mengurusi pertunjukan Katsura di Jakarta. Menurut Sylvia, pihaknya akan mengundang 100-150 mahasiswa Indonesia.

Katsura bisa memainkan rakugo tradisional mapun modern, bahkan bisa pentas menggunakan bahasa Inggris. Dia adalah murid dari master rakugo, Katsura Bunshi. Katsura mengawali karir sebagai komika (pemain stand-up comedy). Namun setelah mendengarkan penampilan Katsura Bunshi melalui CD, dia berubah haluan. Sejak April 2004, dia pun magang kepada Katsura Bunshi, sampai akhirnya dia menjadi rakugoka kondang. Kini, Katsura terkenal sebagai pemain rakugo. Dia sering tampil di berbagai acara radio, televisi dan juga film. *

Kata kunci:

Humor / Joku  (ジョーク)

Monolog  / Monorogu (モノローグ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s