Kato Hiroaki: Mempopulerkan Budaya Indonesia ke Jepang


INSPIRASI-KATO
HaloJepang! edisi April 2015

Tak ada darah Indonesia yang mengalir dalam diri Kato Hiroaki, namun kecintaannya kepada  Indonesia tak perlu diragukan. Sempat balik ke Jepang setelah menyelesaikan studi Linguistik Bahasa Indonesia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Hiro –panggilan sehari-harinya- memilih menetap di nusantara. Dia terus berkarya dan mengenalkan Indonesia ke ‘Saudara Tua’.

Lelaki jangkung kelahiran Tokyo, 9 Maret 1983 itu disibukkan dengan berbagai aktifitas berbau Indonesia: menjadi penerjemah bagi perusahaan Jepang, pembaca acara, penyanyi atau dosen Bahasa Indonesia paruh waktu di Sophia University dan Oberin University, Jepang. Di tengah-tengah kesibukannya, pria yang gemar memakai baju batik ini menyempatkan diri berbincang-bincang dengan HaloJepang! Berikut petikan wawancaranya.

HaloJepang! (HJ): Sejak kapan Anda tertarik dengan budaya Indonesia?

Kato Hiroaki (KH): Saya mulai tertarik dengan Indonesia saat seorang dosen membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sejak itu, saya bertekad untuk belajar Bahasa Indonesia. (Buku ini menjadi fenomenal karena sempat dilarang oleh rezim Orede Baru, namun penjualannya tetap menakjubkan).

HJ: Kapan Anda mulai serius belajar Bahasa Indonesia?

KH: Tahun 2006. Saat itu ada pertukaran mahasiswa ke Indonesia. Saya langsung mendaftar dan diterima di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Saya setahun belajar Bahasa Indonesia.

HJ: Apakah Anda juga belajar sastra di Yogyakarta?

KH: Saya tertarik dengan sastra modern. Saya membaca novel-novel seperti Super Nova, Perahu Kertas dan Laskar Pelangi.  Saya nonton film Laskar Pelangi dan membaca novelnya. Dua tahun saya baru bisa memahami isi dan cerita Laskar Pelangi itu.

HJ: Mengapa Anda menerjemahkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?

KH: Topik Laskar Pelangi bersifat universal. Soal pendidikan. Faktor lain adalah apa yang ada dalam cerita novel tersebut, tidak ada di Jepang saat ini. Di sana, orang mudah untuk mendapatkan pendidikan. Bagi mereka, cerita perjuangan berat anak-anak desa untuk memperoleh pendidikan tinggi sangat memikat.

HJ: Bagaimana respon masayarakat Jepang terhadap novel Laskar Pelangi?

KH: Mereka sangat antusias. Terutama yang usianya di atas 50 tahun. Mereka merasakan sesuatu  seperti dalam cerita itu. Novel tersebut sudah laku 5.000 buku. Itu sangat besar. Untuk buka asing, bisa laku 1000 saja sudah bagus.  Saya ingin menerjemahkan novel Sang Pemimpi, lanjutan Laskar Pelangi.

HJ: Selain menggeluti sastra, Anda juga menekuni musik. Anda juga menerjemahkan lagu-lagu Indonesia ke Bahasa Jepang?

KH: Saya senang musik Indonesia. Saat di Yogyakarta, saya sering main ke studio milik grup band Letto. Kebetulan saya kenal dengan vokalisnya, Noe. Saya juga menerjemahkan beberapa lagu milik Letto, seperti Ruang Rindu. Tak mudah menerjemahkan lagu. Saya perlu waktu satu bulan. Tapi, hasilnya membuat Letto senang. Saya juga menerjemahkan lagu Laskar Pelangi (Nidji) dan Sepatu (Tulus).

HJ: Apakah lagu Indonesia yang Anda terjemahkan dibawakan juga di Jepang?

KH: Selain saya upload ke Youtube, saya pun sering membawakan lagu-lagu Indonesia, baik versi asli maupun terjemahan, di kafe-kafe di daerah Shibuya dan Harajuku. Mereka menyukai lagu-lagu pop Indonesia. Saat saya nyanyi, sebagian orang sudah ikut bernyanyi. Masyarakat Jepang yang belajar tentang Indonesia juga semakin bertambah.

HJ: Apakah Anda juga membuat lagu dalam Bahasa Indonesia?

KH: Saya pernah mengeluarkan mini album berjudul Terima Kasih (2010). Saya juga berencana membuat mini album kedua dan full album. Dalam album ini saya akan menciptakan lagu Bahasa Indonesia dengan memasukkan unsur-unsur musik tradisional.

HJ: Selama bermusik, Ada sudah berkolaborasi dengan siapa saja?

KH: Saya sering menjadi penyanyi pembuka untuk beberapa artis. Sekarang saya sering tampil bareng Tulus. Saya senang dengan lagu-lagunya. Saya ingin menerjemahkan beberapa lagu Tulus yang sedang menjadi hits.

HJ: Di samping mengenalkan budaya Indonesia melalui sastra dan lagu, Anda pun tampil di film pendek berbahasa Indonesia?

KH: Saya main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’. Film tersebut menang di Festival Film Indonesia 2006, menyabet The Best Short Film di Korea (2006), serta mendapat sambutan meriah di Festival Film Pendek Jepang 2007.

HJ: Kegiatan apa yang Anda kerjakan saat ini berakitan dengan seni dan budaya?

KH: Saya sedang fokus menggarap lagu-lagu karya Andre Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dan penyanyi wanita Meda Kawu.

PROFIL:

Lahir                                      : Tokyo, 9 Maret 1983

2006-2007                            : Kuliah Bahasa Indonesia di UGM, Yogyakarta

April 2006                            : Main di film pendek ‘Harap Tenang Ada Ujian’

April 2009                            : Mengajar Privat Bahasa Indonesia

April 2010                            : Lulus Pasca Sarjana Tokyo University of Foreign Studies Graduate Degree

September 2010               : Rilis mini album ‘Terima Kasih’

Oktober 2013                     : Menerbitkan novel Laskar Pelangi dalam bahasa Jepang.

One thought on “Kato Hiroaki: Mempopulerkan Budaya Indonesia ke Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s