Menjadikan Teh Indonesia Minuman para Sosialita


HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Kafe teh di Indonesia belum seramai kedai kopi. Upaya mengangkat teh ke pasar kelas atas sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Walau mulai menampakkan hasil namun masih perlu upaya ekstra keras untuk mengangkat citra teh agar disukai kaum sosialita Indonesia.

Ahli teh Indonesia yang juga Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia, Ratna Somantri, mengakui keberedaan kafe teh di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan kedai kopi. “Harus ada brand luar yang masuk karena kita biasa mengikuti tren,” ujar Ratna kepada HaloJepang! belum lama ini. Masuknya Teh Wellness Group (TWC)Tea Salon and Boutique di Jakarta pada 2013, diakui Ratna, turut mendongkrak citra teh.

Seperti diketahui, TWC adalah perusahaan teh asal Singapura yang berdiri sejak 1837. Mereka mengimpor teh dari berbagai perkebunan di dunia seperti China, India, Sri Lanka, Nepal, Taiwan, Banglades, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, Indonesia, Argentina, Brasil, Rwanda, hingga Kamerun. Kafe teh TWC berdiri 2008 dengan menyajikan aneka ragam teh. Konon, ada sekitar seribu menuh teh yang menggoda selera.

Selain pasar yang belum “matang”, membuka kafe teh lebih sulit dibandingkan kedai kopi. Menyajikan teh harus dilakukan secara manual, berbeda dengan minuman kopi yang bisa mengandalkan mesin. Cara menyeduh teh, untuk tiap-tiap jenis, juga berlainan.

Sebagai upaya mengangkat harkat dan martabat teh, Ratna turut membidani lahirnya Gaia, Tea & Cake di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Di tempat ini, Ratna mengemas teh dengan cara elegan. “Kalau kemasan seperti ini orang mau dong beli,” ujar wanita kelahiran Cirebon, 3 November 1978 ini sambil menunjukkan kemasan teh dalam kaleng. Bukan sekedar kemasan yang menarik, minuman teh juga disajikan secara modern.

Merek Lokal

Selama ini masyarakat Indonesia hanya mengenal teh melati sebagai minuman sehari-hari. Jenis teh tersebut dibuat dari daun tua, batang, dan campuran lain, termasuk melati. “Melati untuk menghilangkan bau tak sedap pada batang,” jelas alumni French Patisserie dari Le Cordon Blue, Sydney, Australia ini. Sementara teh terbaiknya, yang terdiri dari pucuk dan kuncup, diekspor ke negara lain.

HaloJepang! Edisi Maret 2015
HaloJepang! Edisi Maret 2015

Hal ini berbeda dengan masyarakat Jepang. Menurut Haruna Yamamoto, ahli teh asal Jepang, orang Jepang sudah terbiasa minum teh hijau sekitar 1200 tahun lalu, saat pendeta Budha membawa teh dari China. “Sekarang orang Jepang minum teh dengan cara berbeda-beda, dalam botol, teh celup atau bubuk,” jelas pemilik sertifikat Nihoncha Instructor itu. Orang yang menyeduh daun teh mulai berkurang. Yang patut dicatat, teh hijau Jepang dibuat dari daun teh pilihan sehingga berkhasiat bagi kesehatan.

Jika Jepang mengonsumsi daun teh terbaiknya, Indonesia justru mengekspor daun teh pilihan karena harganya lebih mahal. Setelah diproses di luar negeri, sebagian dari teh tersebut masuk lagi ke Indonesia dengan harga selangit. “Dua tahun terakhir, dalam kemasan disebutkan teh asal Indonesia,” kata Ratna. Sebelumnya, tak pernah disebut kalau teh tersebut hasil dari perkebunan di tanah air. Teh olahan dari luar negeri ini yang kemudian dijual ke kafe-kafe teh di Indonesia.

Ratna berharap, Indonesia bisa memiliki merek teh sendiri, seperti halnya produsen teh di Jepang atau India. “Saya ingin Indonesia memiliki brand sendiri berdasarkan pada di mana teh itu tumbuh. Misalnya Halimun Tea. Jadi teh dari daerah lain tidak boleh menggunakan merek tersebut,” jelas wanita yang sudah menulis dua buku tentang teh tersebut. Cara seperti ini sudah dijalankan di India.

Agribisnis Teh

Pemerintah Jepang memberikan dukungan kepada pengusaha, termasuk produsen teh, untuk mengenalkan produk mereka ke luar negeri. Bahan pemerintah daerah pun memberikan dukungan semacam ini. “Pemerintah Prefektur Shizuoka sedang menyiapkan program-program untuk mendukung bisnis teh,” jelas Yamamoto. Prefektur Shizuoka adalah daerah penghasil teh di Jepang.

Indonesia juga menyadari pentingnya dukungan pemerintah untuk menggerakkan bisnis teh di nusantara. Oleh karena itu, sejak 2014 pemerintah melalui Kementerian Pertanian, mencanangkan gerakan penyelamatan agribisnis teh nasional (GPATN) dengan anggaran Rp. 48 miliar. “Dana itu dipakai untuk membeli bibit teh unggul, pupuk dan hal lain yang berkaitan dengan agribsinis teh,” lanjut Ratna. Menurut rencana, anggaran GPATN akan ditambah menjadi Rp.100 miliar.

Ratna menambahkan, salah satu kelemahan Indonesia di bisnis teh adalah soal kemasan. “Kita harus belajar ke Jepang. Negara itu ahli dalam membuat kemasan yang menarik,” ujar sarjana Teknik Industri, Universitas Trisakti Jakarta ini. Jika teh ditampilkan apa adanya, hanya dibungkus kertas, maka kemasan menjadi kurang menarik. Akibatnya, harga jual tidak bisa terkerek. Lain halnya jika teh dikemas ekslusif di dalam kaleng dengan warna elegan. Orang rela membeli dengan harga tinggi. “Dalam bisnis perlu pencitraan,” ujarnya sambil tersenyum.

Agribisnis teh di Indonesia masih tertinggal jauh dibanding Jepang. Untuk itu, perlu dukungan semua pemangku kepentingan agar bisnis teh segera bangkit. Melalui Dewan Teh Nasional, Ratna tengah memperjuangkan regulasi yang mengatur standarisasi teh nasional serta melindungi teh lokal dari serbuan teh impor. “Kalau teh impor murah, teh lokal akan terdesak,” jelas Ratna.

Apalagi, belakangan ini teh produksi China dan Vietnam terpapar pestisida dan dilarang masuk ke Eropa dan Amerika Serikat. Kalau tidak ada regulasi, teh semacam ini bisa masuk ke Indonesia dengan harga murah. Di samping memukul teh lokal, teh dengan kandungan pestisida tinggi ini juga merugikan konsumen karena bisa mengganggu kesehatan. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s