Senerek Penggoda Iman


Foto: makanlagilagimakan.files.wordpress.com

Sejak jaman bahuela, senerek Bu Atmo yang terletak di Jalan Mangkubumi no 3, Karisidenan, Magelang sudah termashur. Hanya warung biasa, bukan cafe, resto atau bahkan kantin. Jadi, tukang becak dan sopir angkot biasa makan di warung tersebut. Menu utama Snerk Soup. Karena kata-kata Belanda itu susah, maka orang Magelang menyebut senerek. Rasanya pasti enak. Tak perlu dijelaskan karena akan menghabiskan ribuan kata hanya untuk mengatakan: LEZAT.

Kelezatan senerek Bu Atmo itu pula yang sempat meruntuhkan iman Paijo. Alkisah, beberapa tahun silam (jangan disebut puluhan tahun silam karena akan membentuk imej Paijo sudah tua), di bulan suci Ramadan Paijo berniat puasa. Alhamdulillah, Paijo sudah mempunyai niat baik. Tentu, niat itu sudah dicatat oleh malaikat karena menurut para ustadz, niat baik saja sudah mendatangkan pahala.

Paijo bukan sekedar punya niat. Dia sudah berpuasa di sepertiga hari pertama. Karena senggang, Paijo bertandang ke rumah Paiman. Dan sepertinya Paijo sedang dipertemukan oleh orang-orang beriman di sekitarnya. Paiman berpuasa, sesuatu yang jarang dilakukan Paiman. Mereka pun berbincang hal-hal enteng biar tak menambah rasa laparnya.

Tiba-tiba Paijo ingat Senerek Bu Atmo. “Yuk, makan di Bu Atmo,” ujar Paijo. Paiman menolak. Dia tak mau pahala yang akan didapatnya kembali lenyap, seperti hari sebelumnya. Namun, perasaan tidak enak membuat Paiman mengiyakan ajakan Paijo. Berdua, mereka menuju warung yang berada di sampin lapangan tenis itu.

Bayangan sup kacang merah panas dengan daging sapi lokal segar yang tak kalah enak dibanding daging sapi wagnyu, sudah di depan mata. Minumnya es teh manis. Tentu teh manis karena orang Magelang saat itu, dan orang Jawa umumnya, alergi minum teh tawar. Imajinasi tentang senerek dan es teh membuat rasa lapar Paijo kian membahana. perut terasa lebih melilit.

Karenanya, begitu masuk warung, mereka langsung memesan es teh manis. Sekedar untuk membatalkan puasa. Teh sepet, dingin dan muaniis itu membasahi tenggorokan. Lega rasanya. “Senerek dua, bu!” kata Paijo.

“Habis Mas,” jawab penjawa warung Bu Atmo. Paijo terdiam. Es teh yang tadinya manis terasa pahit dan getir. Perut yang semula melilit karena “merasa” lapar, tiba-tiba kenyang. Tak ada nafsu mencari makan siang, pengganti senerek. Tapi, puasa Paijo hari itu sudah batal. Dan dosanya bertambah lantaran mengajak (tepatnya setengah memaksa) Paiman untuk menemaninya makan. Padahal, dia tahu Paiman sedang giat-giatnya mencari jalan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s