SUYOTO RAIS: Menyerap Nilai Positif Budaya Jepang dan Menerapkan di Indonesia


Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015
Tabloid HaloJepang! Edisi Februari 2015

Lebih dari 25 tahun kuliah dan berkarir di Jepang, Suyoto Rais menemukan nilai-nilai positif dalam budaya Jepang yang membuat Negeri Sakura itu unggul dalam sains dan teknologi. Kini, dia kembali ke tanah air untuk menerapkan nilai-nilai positif itu dalam kehidupannya. Langkah nyata untuk mengubah mindset dari bagaimana kalau gagal menjadi bagaimana bisa berhasil.

Kegetiran hidup masa kecil telah mengajarkan kepada Suyoto untuk gigih menggapai cita-cita. Termasuk saat meneruskan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas, enam bulan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) hingga meraih gelar S1, S2 dan doktoral di Jepang. Keberhasilannya menyelesaikan hingga doktor di Osaka Prefecture University (OPU) Jepang tak lepas dari jasa baik orang-orang terdekatnya. Mulai kyai yang memberi tumpangan hidup, dosen ITS yang menampungnya dan memberi makan selama kuliah hingga kakek yang rela menggadaikan sawah untuk membiayai pendidikannya.

Ketika mereka yang berjasa dalam hidupnya satu per satu meninggal dunia tanpa bisa mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, lelaki kelahiran Tuban, 15 Oktober 1966 itu memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya.  Sejak Januari 2014, Suyoto sudah menetap di Indonesia dan menjadi Vice President Director PT. Ohkuma Industries Indonesia. “Saya juga khawatir dengan anak-anak. Di sana saya tidak bisa mengajari soal budaya dan agama. Saya takut mereka kehilangan ke-Indonesia-annya,” jelas Suyoto kepada HaloJepang! di kantornya, Cikarang, Jawa Barat.

Padahal, karir Suyoto di Denso Corp. sedang meroket. Dia akan dipromosikan sebagai manajer di perusahaan spare part otomotif terkemuka di Jepang itu. Keputusan sudah bulat. Dia ingin balik ke Indonesia walau Denso tak bisa memenuhi permintaan Suyoto untuk menjadikan dirinya sebagai ekspatriat di perusahaan Denso di Jakarta. Dia pindah kerja di Sumitomo Electric Industries Ltd. yang bersedia menerima Suyoto sebagai ekspatriat di Indonesia.

Serap Budaya Jepang

Sempat berpindah-pindah kerja, saat ini Suyoto bekerja ke perusahaan Jepang, PT. Ohkuma Industries Indonesia yang berkantor pusat di Tokyo. Selama meniti karir di Jepang, Suyoto menemukan nilai-nilai positif budaya Jepang yang memberi kontribusi terhadap keberhasilan Jepang dalam bidang industri.

“Semangat kebersamaan mereka sangat tinggi. Saya pernah lembur menyelesaikan tugas. Atasan saya menginap dan menunggui saya bekerja. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang. Dia yang nyiapin,” jelas Suyoto.  Menurut budaya Jepang, kegagalan anak buah adalah tanggung jawab atasan. Contoh kebersamaan lain adalah ketika seseorang membuka usaha warung nasi dan laris maka orang lain akan membuka bisnis pendukungnya seperti menjual minuman atau gorengan. “Kalau di Indonesia, orang akan membuka bisnis yang sejenis sehingga omzet sama-sama menurun,” tambah Suyoto.

Di sana dia juga belajar menyelesaikan sesuatu step by step. Pada setiap tahapan, punya target tersendiri. “Tidak ada sesuatu yang dicapai dengan instan,” kata pria yang sedang menyusun buku biografi sambil menjadi dosen tamu di ITB itu. Orang Jepang fokus memikirkan bagaimana bisa berhasil, bukan sebaliknya bagaimana kalau gagal. Mindset seperti ini penting untuk memberi motivasi dalam bekerja.

Tentunya nilai-nilai positif budaya Jepang itu juga diterapkan oleh Suyoto saat dirinya memimpin perusahaan. Sayang, belum sepenuhnya bisa diaplikasikan. Misalnya soal ketepatan waktu. “Kalau di internal perusahaan sudah bisa. Tapi dengan pihak ketiga susah. Tiap hari kami harus menelepon untuk memastikan waktu,” jelas ayah tiga anak itu. Dia juga menyoroti masalah keterbukaan data. Lembaga atau perusahaan di Indonesia lebih suka memberikan informasi mengenai hal-hal positif tetapi tidak membeberkan sisi negatifnya. “Ternyata di lapangan beda,” keluh Suyoto.

Hal lain yang patut dicontoh dari budaya Jepang adalah pendidikan kemandirian untuk anak-anak. Di sana, orang tua tidak dizinkan antar-jemput anak ke sekolah. Apalagi, menunggu dan kadang mengintip dari jendela kelas. Anak-anak dibiarkan berangkat dan pulang bersama-sama dengan teman yang rumahnya berdekatan. “Anak yang paling besar menjadi pimpinan rombongan,” jelasnya. Dengan demikian, anak-anak sudah terbiasa mandiri dan berteman sejak kecil.

Profil Suyoto Rais

1966                       : Lahir di Tuban, Jawa Timur, 15 Oktober.

1991                       : Lulus S1 Setsunan University, Jurusan Industrial and System Engineering

1995                       : Lulus S2 Setsunan University, Jurusan Mechanical System Engineering

1999                       : Lulus S3 Osaka Prefecture University, Jurusan Manufacturing System

1991-1993            : Peneliti di Badan  Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta

1995-1999            : Dosen Tidak Tetap di Setsunan University, Osaka

1999-2008            : Denso Corp., Nagoya

2008-2011            : Sumitomo Electric Industries Ltd., Osaka, Manajer di Indonesia

2011                       : Konsultan PT. Faco Global Engineering, Bogor

2011-2012            : Nidec Corp., Kyoto, Direktur di China

2012-2013            : Ichikon Industries Ltd., Tokyo, Kepala Pabrik di Indonesia & Thailand

2013-Sekarang  : Ohkuma Industies Co.Ltd, Tokyo, Wakil Presdir di Indonesia.

Dosen tamu di Teknik Mesin ITB Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s