Japanese Retro Car: Mengangkat Gengsi Mobil Lawas Jepang


Tabloid HaloJepang! Edisi Januari 2015
Tabloid HaloJepang! Edisi Januari 2015

Merasa prihatin dengan minimnya pecinta mobil retro asal Jepang, beberapa penggemar mobil Jepang, khususnya keluaran tahun 1980-an, aktif bertemu untuk membangun komunitas. Saat itu, sekitar  tahun 2000, komunitas mobil retro didominasi oleh mobil-mobil keluaran Eropa. Mobil Jepang belum mendapat tempat.  Kini, komunitas tersebut sudah mewabah. Hampir di setiap kota terdapat komunitas Japanese Retro Car.

Mereka yang tertarik mobil lawas asal Jepang ini umumnya ingin bernostalgia, mengenang masa muda saat mereka memakai mobil tersebut untuk bersekolah atau gaul. “Saya pertama kali mencium pacar di Corolla DX. Makanya setelah pensiun saya hanya ingin membeli  DX. Tak kepikir mobil lain,” kenang Adi, anggota Corolla Retro Club (CRC) Jakarta. Kenangan indah bersama Corolla juga dirasakan oleh Benny Wicaksono, ketua CRC. “Saya pernah ikut rally. Di hutan, pebalap senior menghilangkan tanda penunjuk jalan sehingga kita nyasar,” ujar Benny Dado, panggilan sehar-hari Benny Wicaksono.

Kenangan indah itulah yang menyebabkan mereka ingin kembali memiliki mobil kuno tersebut. Memang, pada akhir 1970-an mobil Jepang mulai diterima oleh pasar otomotif Indonesia menyusul melejitnya harga bahan bakar minyak (BBM). Beberapa anak muda zaman itu, sudah memakai  sedan  Jepang keluaran  Totoya, Mitsubishi maupun Honda untuk aktifitas hariannya.

Setelah pecinta mobil kuno Jepang mulai berkembang, tahun 2003 terbentuklah Corolla Retro Club. “Ini klub pertama yang menggunakan istilah retro,” jelas Pugoeh Pugpigpow, Wakil Ketua Corolla Retro Club.  Kehadiran CRC menginspirasi penggemar mobil Jepang lainnya untuk membentuk komunitas sejenis. Maka lahirlah komunitas Honda, komunitas Mitsubishi, komunitas Datsun dan lain-lain.

Menurut Pugoeh, konsep retro untuk masing-masing komunitas bisa berlainan. Namun, CRC memiliki definisi sendiri mengenai konsep retro. “Retro merujuk kepada mobil produksi tahun 1976 sampai 1974,” jelas Pugoeh. Mobil retro harus dimodifikasi sesuai dengan eranya. Misalnya, untuk mesin Corolla banyak yang diganti dengan mesin Toyota Celica. Jadi, kalau mobil Corolla lawas itu mesinnya diganti dengan mesin Toyata Vios, misalnya, maka mobil tak bisa dikategorikan retro.

Sementara itu, mobil kuno yang dikembalikan seperti bentuk aslinya, dikategorikan ke dalam original restoration, bukan retro. Untuk melakukan original restoration, panduan pertama adalah buku manual mobil tersebut. Melalui buku manual itu, mereka tahu jenis spare part yang dipakai serta spesifikasi yang digunakan.

Berburu Spare Part

Untuk mengembalikan mobil lawas ke bentuk orisinil atau memodifikasi sesuai eranya maka pemilik mobil harus berburu spare part yang sudah sangat langka. Beberapa spare part memang masih baru (meski stok lama), namun ada pula onderdil seken. Untuk mendapatkannya tak mudah. Mereka mendatangi penjual mobil-mobil tua atau berburu melalui jual beli online.

“Beberapa part masih ada di Malaysia, Philipina dan Thailand. Berapa pun harga yang mereka minta akan kita beli,” tambah Dado. Akibat banyaknya permintaan dari Indonesia, harga part dari manca negara mulai naik. Maklum, komunitas mobil retro di negeri  jiran sendiri mulai tumbuh pesat.

Bukan sekedar spare part yang mereka buru. Bahkan, mobil kuno juga mereka datangkan dari sana. “Di Brunei masih banyak. Cuma tax nya terlalu tinggi,” ujar Daddo. Sebagian mobil didapatkan dari Malaysia, terutama dari mobil yang pemiliknya meninggal dunia. “Rongsok Corolla tahun 1976 dari Malaysia harganya Rp. 50 juta. Tanpa surat-surat,” tambah Pugoeh.

Proses restorasi mobil pun memerlukan waktu lama, sekitar empat tahun. Hal yang wajar karena mereka harus mengumpulkan satu demi satu part. Selain sulit mendapatkannya, harga part kadang juga tak masuk akal. “Spion tanduk Corolla harganya Rp. 4,5 – 6 juta. Bandingkan dengan harga spion mobil lain,” ujar Pugoeh sambil mengisap rokoknya.

Begitu berbelitnya membuat mobil retro menyebabkan mereka enggan menjual mobil tersebut meski harga yang ditawarkan selangit. Mobil Corolla DX retro yang mesinnya sudah diganti dengan Toyota Celia dan dilengkapi turbo, sudah ditawar Rp 200 juta namun tak dilepas pemiliknya. Harga bukan segalanya tetapi seni merestorasi yang memberikan kepuasan tiada tara. (*)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s