FURSAN: Membangun Bisnis Usai Menjadi Kenshusei


Tabloid HaloJepang! Edisi Januari 2015
Tabloid HaloJepang! Edisi Januari 2015

Belum sempat menyelesaikan pendidikan sarjana di jurusan Teknik Mesin, Universitas Jenderal Ahmad Yani (UNJANI) Bandung, Fursan nekat mengikuti program magang (kenshusei) dari Association for International Manpower Development of Medium and Small Enterprises atau biasa disebut IMM Jepang.  Dia mesti mengambil cuti dua tahun untuk menjadi pemagang. Keputusan itu pun membawa berkah di kemudian hari.

Berkat magang tersebut Fursan lebih mudah menyelesaikan tugas akhir sehingga menyabet gelar sarjana. Dia pun gampang mendapatkan pekerjaan usai tamat kuliah. Lebih dari itu, dia bisa merintis usaha di bidang  engineering services. Hampir 100 persen kliennya adalah perusahaan asal Jepang. Semua itu bisa diraih berkat kerja keras dan jaringan luas saat dirinya menjadi kenshusei. Kepada HaloJepang! dia dia menuturkan perjalanan karir dan bisnisnya.

Halo Jepang (HJ): Mengapa Anda nekat mengikuti program kenshusei meski saat itu Anda belum lulus kuliah?

Fursan (F) : Saya berpikir kalau saya kuliah dan lulus belum tentu mendapat pekerjaan yang bagus. Mengapa  tidak memperdalam kelimuan saya sekaligus belajar bahasa Jepang. Saya melihat orang yang memiliki kemampuan bahasa lebih diprioritaskan dibanding fresh graduate.

HJ: Bagaimana tanggapan orang tua terhadap keinginan Anda ini?

F: Orang tua saya terbuka. Apa keinginan anak akan didukung. Tetapi saya tetap punya hutang untuk menyelesaikan kuliah. Untung tinggal beberapa mata kuliah sehingga bisa mengambil cuti dua tahun.

HJ: Mengapa Anda memilih magang di Jepang, bukan negara lain?

F: Tahun 1995 adalah booming industri manufkaturing di Jepang.  Mereka pasti akan ekspansi ke luar negeri, termasuk Indonesia. Pimpinan saya saat itu berharap besar pada saya. Dia ingin investasi di Indonesia. Dan ketika membuka pabrik di Indonesia, saya sudah bisa membantu.

HJ: Dari program magang ini, manfaat apa yang Anda petik?

F: Ada tiga yaitu bahasa, etos kerja dan skill. Untuk berkomunikasi, mau tidak mau, saya harus belajar Bahasa Jepang. Mengenai etos kerja, etos kerja orang Jepang luar biasa. Seolah-olah tujuan hidupnya hanya untuk perusahaan. Soal skill, kalau kita bekerja dengan tekun akan mendapat reward. Tahun kedua saya sudah mempunyai anak buah, dua orang Jepang. Itu sebuah kebanggaan. Meski magang tapi punya anak buah.

HJ: Sebagian pemagang tidak bisa mandiri. Bagaimana Anda bisa membangun usaha sendiri dan menuai sukses?

F: Program IMM dirancang agar kita belajar etos kerja, kemudian pulang dan membuka usaha sendiri. Namun momentum saat itu bersamaan dengan investasi besar-besaran perusahan Jepang di Indonesia sehingga membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Akhirnya para mantan pemagang itu kembali bekerja di perusahaan Jepang.

HJ: Bisa diceritakan bagaimana Anda memulai usaha?

F: Sepulang dari Jepang saya sempat kerja selama tiga tahun. Selama bekerja saya melihat peluang untuk mandiri tinggi sekali. Saya melihat orang asing cari uang di Indonesia sangat mudah. Beberapa teman magang juga sudah ada yang sukses usaha. Akhirnya tahun 2003 saya memutuskan membuka usaha sendiri. Saya di back up orang Jepang, bukan sebagai teman kongsi tetapi sebagai motivator. Dia bilang saya sudah lancar komunikasi dan memiliki kemampuan teknik, kenapa enggak berani mandiri.

HJ: Pada awal usaha, berapa karyawan Anda dan bagaimana suka dukanya?

F: Awalnya saya sendirian, one man show. Saya kan desain produk. Customer  kalau sudah suka yang dicari Fursan-nya, bukan perusahannya. Misalnya, kalau seseorang sudah cocok dengan tukang jahit, sejauh apa pun akan dicari. Saya berkantor di rumah. Tahun berikutnya baru membeli ruko di Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Dari situ saya mulai menambah karyawan. Tantangan yang saya hadapi adalah keterbatasan modal. Untuk jasa engineering tak butuh modal, tetapi untuk manufakturnya saya perlu mesin-mesin. Sedangkan pada awal usaha saya belum mempunyai mesin sendiri. Mau tidak mau harus saya subkan. Kalau yang percaya, pembayaran bisa dikasih jeda. Tapi kalau yang enggak percaya, harus bayar cash. Itu yang jadi momok. Alhamdulillah bisa teratasi.

HJ: Siapa saja klien Anda dan bagaimana cara menambah klien baru?

F: Klien saya tidak banyak. Sekitar sepuluh perusahaan. Hampir 99 persen adalah perusahaan Jepang. Sampai saat ini saya tidak memiliki tenaga marketing. Klien terus bertambah karena faktor kepercayaan. Hanya dari mulut ke mulut.

HJ: Bagaimana rencana bisnis tahun ini. Akankah melakukan ekspansi?

F: Rencana ekspansi ada, tapi bukan untuk PT. Faco Karya Teknika. Saya akan membuka perusahaan baru, patungan dengan pengusaha asal Jepang. Mudah-mudahan tahun ini terealisasi. Corn business yang lebih besar. Kalau saat ini kan job order, tergantung skill perorangan. Saya ingin menghasilkan produk tertentu yang sifatnya masal. Misalnya, bikin knalpot untuk support perusahaan otomotif. Semoga tahun ini terwujud.

PROFIL:

1990 – 1995         : Unversitas Jenderal Ahmad Yani (UNJANI) Bandung, Jurusan Teknik Mesin S1

1995 – 1997         : IMM Japan Training, Teknik Mesin.

KARIR:

1995 – 1997                         : Hanken Nara Seishakusho Kabushiki, Pemagang

2003 – 2006                         : CV. Karya Bersama, Direktur

2006 – Sekarang               : PT. Fako Karya Teknika, Presiden Direktur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s