Emil Elestianto Dardak: Doktor Termuda Lulusan Jepang  


HaloJepang! Edisi Desember 2014
HaloJepang! Edisi Desember 2014

Saat meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Pembangunan dari  Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang  usia Emil Elistianto Dardak baru 22 tahun.  Kala itu, dia menerabas aturan yang mengharuskan kandidat doktor berusia minimal 21 tahun.

Sejak remaja Emil sudah menyukai kajian yang berkaitan dengan  infrastruktur. Mungkin dia mewarisi ayahnya, Hermanto Dardak –Wakil Menteri Pekerjaan Umum pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Umur 17 tahun, pria kelahiran Jakarta, 20 Mei 1984 ini sudah menjadi konsultan di Bank Dunia (World Bank). Sejatinya Emil akan diangkat menjadi karyawan tetap jika umurnya sudah memenuhi syarat, yakni 21 tahun. Kini suami artis Arumi Bachsin itu melontarkam konsep Urban Civic Movement untuk membenahi karut marut tata kota Depok, Jawa Barat. Kepada Halo Jepang, Emil mengungkapkan latar belakang dan tujuan mewujudkan Depok Smart City.

Halo Jepang (HJ): Umur 17 tahun Anda sudah menjadi konsultan di Bank Dunia. Apa tugas Anda?

Emil Dardak (ED): Saat itu saya sudah punya ijazah Diploma (D1) dari Melbourne Institute of Business and Technology. Saya mendapatkan tugas untuk memantau efektifitas pembangunan di Indonesia melalui pendekatan visual. Membuat analisa proyek yang mudah dipahami.  Saya buat geographic information system.

HJ: Bagaimana Anda turut memelopori lahirnya  Asia Pacific Ministers’ Joint Statement yang pertama kalinya pada tahun 2003?

ED: Tugas utama saya sebenarnya hanya tugas administratif. Mengumpulkan karya ilmiah dari para pakar. Tetapi saya membaca dan merangkum karya ilmiah itu. Bahkan sampai tiga pertemuan sebelumnya. Saya buat data base-nya. Di situ saya juga membuat karya ilmiah dan masuk kompilasi. Tiba-tiba kita diminta membuat draft. Lalu saya menyodorkan data base itu. Sayang, draft deklarasi tidak disetujui oleh menteri infrastruktur Malaysia dan China. Saya diminta oleh Menkimpraswil  (Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah) Soenarno untuk mengikuti pertemuan dengan kedua menteri yang menolak itu. Alhamdulillah usulan saya diterima. Saya pun menjadi Tim Pakar 4th Asia Pacific Ministers’ Forum for Infrastructure.

HJ: Mengapa Anda mengerjakan sesuatu melebihi dari tugas yang diberikan?

ED: Upaya lebih adalah investasi. Kita tidak tahu kapan kesempatan akan datang. Tetapi kalau kita sudah siap dan kesempatan itu datang maka klop. Jadilah ketemu.

HJ: Mengapa Anda memilih studi ke Jepang dan bagaimana bisa meraih doktor dalam usia 22 tahun?

ED: Saat itu saya mendapat beasiswa dari Raffles Institution, Singapura. Ada peluang ngambil Master of Science in International Cooperation Policy, Ritsumeikan Asia Pacific University di Jepang.  Ini universitas internasional yang menggunakan Bahasa Inggris.Dosennya bukan hanya orang Jepang tapi dari Eropa dan Amerika.  Jadi ini gabungan dua dunia. Seperti kuliah di Amerika tetapi di Jepang. Saya bertemu profesor dan dosen terbaik dari seluruh dunia. Apalagi tradisi pendidikan di Jepang sudah matang. Saya pikir malah dapat dua-duanya. Dapat ilmu sekaligus mengerti budaya Jepang. Jadilah saya ambil di situ. Sambil kuliah S2, saya mengajukan lamaran S3. Saat itu muncul pro dan kontra karena usia saya baru 20 tahun. Padahal, syarat ambil doktor minimal umur 21 tahun.  Untuk meyakinkan para professor, saya rajin menulis di jurnal internasional. Akhirnya mereka setuju saya meneruskan ke program doktor.

HJ: Setelah lulus, Anda bekerja dimana?

ED: Saya menjadi Infrastructure Economist Consultant di Bank Dunia. Saya masuk tim energi dan mengurusi proyek-proyek yang berkaitan dengan energi. Saya menggolkan proyek hydro dan panas bumi senilai tujuh triliun rupiah. Tahun 2009-2010 saya ditambahi tugas menjadi Dirut Ad Interim (secondment dari Tusk Advisory Pte Ltd) Lembaga Pembiayaan Bentukan Pemerintah & Lembaga Keuangan Internasional (World Bank, ADB, DEG Germany). Februari 2011, Ibu Sri Mulyani mendirikan BUMN PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII). Beliau ingin PII diisi oleh orang profesional dan independent. Saya diminta oleh Ibu Cynthia (Dirut PII) untuk gabung di situ.

HJ: Gagasan Anda mengenai Depok Smart City mendapat tanggapan positif dari publik dan ada usulan agar Anda maju menjadi calon walikota Depok. Tanggapan Anda?

ED: Depok Smart City adalah gerakan saya dan teman-teman untuk terlibat aktif membentuk kota pintar (Smart City) yang berkarakter (identity) & berbudaya (Culture). Melalui urban civic movement diharapkan Depok dapat memfasilitasi komunitas dalam bereskpresi dan berkreasi supaya mereka bisa berdampak lebih luas bagi masyarakat dan alam. Mengenai usulan untuk menjadi calon walikota kita lihat saja nanti. Ada beberapa yang sudah memberikan dukungan. (*)

Pendidikan:

  • Doktor Ekonomi Pembangunan, Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang  – 2007
  • Terpilih di antara 40 public & private sector senior executive & leaders sedunia untuk Executive Degree in Major Programme Management – University of Oxford, UK – 2013-2015
  • Dosen – Pangkat Lektor/Asisten Profesor Fakultas Ekonomi, Universitas Esa Unggul Jakarta

Pekerjaan:

  • Executive Vice President di BUMN Penjaminan Infrastruktur Indonesia , Kementerian Keuangan, 2011 – sekarang .
  • Tim Pakar 4th Asia Pacific Ministers’ Forum for Infrastructure (2003), Periode Kabinet Gotong Royong
  • Infrastructure Economist Consultant di Bank Dunia 2007-2009
  • Dirut Ad Interim (secondment dari Tusk Advisory Pte Ltd) Lembaga Pembiayaan Bentukan Pemerintah & Lembaga Keuangan Internasional (World Bank, ADB, DEG Germany) – 2009-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s