Naruto University of Education: Fokus Mendidik Guru


 

PENDIDIKAN - NARUTO
HaloJepang! Edisi Mei 2015

Menyadari pentingnya peran guru dalam mendidik generasi muda, pemerintah Jepang mendirikan Naruto University of Education (NUE) pada 1 Oktober 1981. Di sini, calon guru digembleng agar menjadi pendidik berstandar Jepang. Termasuk mahasiswa asing asal Indonesia, Korea, dan Taiwan.

Kesadaran terhadap pentingnya mendirikan universitas yang memfokuskan kepada pendidikan sudah dimulai sejak 1974. Pada 20 Mei, sebuah komite pendidikan di Kementerian Pendidikan, Ilmu, dan Budaya Jepang (MESC) sudah membuat laporan mengenai konsep baru untuk mendidik calon guru.

Pada awal berdiri, NUE masih nebeng di Tokushima University. Pembangunan gedung perkantoran dan tempat kuliah baru selesai pada 1984. Pembangunan fasilitas lain, seperti perpustakaan, asrama mahasiswa, tempat penelitian, tempat pelatihan guru, gedung untuk program master dan doktoral dilakukan secara bertahap sampai 2001.

“Jadi NUE atau Narukyo ini semacam IKIP di Indonesia dulu. Universitas ini fokus di dunia pendidikan dan menghasilkan guru-guru yang memiliki ilmu dan teknik mengajar yang efektif di bidangnya,” jelas Sonny Elfiyanto, alumni NUE, program Diploma TEFL (Teaching English as Foreign Language).

Menurut pria kelahiran Malang, 28 Januari 1980 itu jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi jurusan favorit untuk jenjang sarjana, sedangkan untuk program pasca sarjana, jurusan Psiokologi menjadi primadona. “Psikologi merupakan jurusan yang sangat kompetitif karena jurusan ini termasuk langka, lebih menjurus ke pelatihan pada psikologi klinis,” tambah Sonny.

Studi Lapangan

Sonny adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang belajar di Jurusan TEFL tahun ajaran 2014-2015. Dari data yang ada di NUE, hampir semua mahasiswa Indonesia yang belajar di kampus ini mengambil jurusan TEFL. “Di Jurusan Bahasa Inggris, mahasiswa bisa melakukan riset tentang keinginan mereka untuk menjadi guru pada tingkat satuan apa, misalnya ingin menjadi guru di tingkat SD, SMP atau SMA,” jelas Sonny.

Di kelas tersebut, mahasiswa melakukan studi lapangan dengan melakukan penelitian selama setahun. Mereka membuat materi pengajaran, mempraktekkan di kelas, menganalisa kelebihan serta kekurangannya dan melaporkannya di forum pertemuan. Melalui studi lapangan ini, akan diperoleh metode yang paling tepat untuk mengajar di sebuah satuan pendidikan.

Untuk menguji metode pengajaran yang diterpakan, NUE memiliki beberapa sekolah yang berada di bawah pengawasannya (attached schools) mulai dari SD hingga SMA, dan juga SLB. Guru-guru di attached school ini bisa berkonsultasi dengan para profesor di NUE jika mereka mengalami kendala dalam mengajar. “Dengan senang hati profesor NUE melayani para guru. Mereka siap jika diminta bantuannya sebagai pakar jika para guru mengadakan studi banding,” kata mantan pengajar bahasa Inggris di berbagai SMK di Malang dan mantan dosen Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Kampus Idaman

Kampus seluas 238.208 m­­2  menjadi salah satu kampus idaman, khususnya bagi mahasiswa asing. Selain fasilitas yang memadai,  lingkungannya juga kondusif untuk belajar. Biaya hidup di wilayah ini pun lebih murah dibandingkan kota-kota besar di Jepang. “Biaya hidup menjadi keunggulan kampus ini,” jelas Sonny. Harga sewa asrama mahasiswa – yang lokasinya di sebelah kampus- untuk kamar single Y4.300, sedang untuk kamar keluarga ada dua tipe, yakni seharga Y11.900 yen dan  Y9.500 per bulan. “Jika ditotal dengan listrik, gas serta air, perbulannya tidak lebih dari Y25.000,” tambahnya. Untuk makan, jika masak sendiri mungkin tidak lebih dari Y15.000 per bulan. Jadi dengan uang sekitar Y60.000 yen, mahasiswa sudah bisa hidup.

Sayangnya, NUE belum menjalin kerjasama dengan kampus di Indonesia. Mereka baru bermitra  dengan Gyeongin National University of Education dan Gwangiu National University of Education di Korea, University of Puget Sound, University of North Carolina, East Carolina University, dan Western Carolina University di Amerika, serta  University of Taipei di Taiwan. Kendati demikian, mereka bekerjasama dengan JASSO (Japan Student Service Organization) dan pemerintah Indonesia dalam hal peningkatan kemampuan staf pendidik di Indonesia untuk bisa memperoleh gelar master dari kampus ini.

Untuk mendapatkan beasiswa di kampus ini, bisa melalui beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Jepang lewat Monbusho ataupun beasiswa melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. *

Diploma TEFL

Sonny Elfiyanto mendapat beasiswa dari  MEXT (Monbusho) untuk program teacher training. Dia mengambil Diploma TEFL (Teaching English as Foreign Language). Banyak yang bertanya kenapa dia belajar Bahasa Inggris di Jepang, yang Bahasa Inggris mereka juga tidak terlalu baik. Dia belajar ke Jepang karena bidang penelitiannya adalah perbandingan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia dengan negara yang memperlakukan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, bukan sebagai bahasa kedua atau bahasa ibu. Sangat relevan jika dia memilih studi ke Jepang.

Alasan lain, dia adalah guru Bahasa Inggris di Kota Malang, Jawa Timur. Jadi, jurusan inilah yang bisa meningkatkan kemampuan dia sebagai guru Bahasa Inggris sehingga  bisa menjadi panutan yang baik bagi murid-muridnya nanti.

Seleksi untuk teacher training di Indonesia lumayan ketat. Dari sekitar 1.000 pelamar hanya dipilih 14 orang. Seleksinya dilakukan serentak di 5 kota besar di Indonesia, setelah itu dipanggil ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk tes wawancara dan tertulis. Mulai 2014, kuota beasiswa ini meningkat menjadi 24 orang. *

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s