Love Will Be Our Home


Wherever there is laughter ringing 

Someone smiling, someone dreaming

We can live together there

Love will be our home

 

Wherever there are children singing

Where a tender hearth is beating

We can live together  there

Cause love will be our home

Petikan biola reffrain lagu LOVE WILL BE OUR HOME mengiringi pasangan Nadya Pramudita dan Sahat Khrisfianus Panggabean ke pelaminan, Sabtu, 10 September 2011. Pemain biola itu, adik calon pengantin wanita, berdiri di depan mempelai yang memakai gaun panjang berwarna putih. Dominasi putih dan hijau membuat pesta bergaya minimalis ini lebih bersahabat namun tetap anggun dan romantis.

“Keluarga pengantin wanita sangat menyukai lagu itu,” ujar Gandy Priapratama dari Pranatacara Organizer. Ketika bertemu Santo Hoyaranda dan Endang, orangtua Nadya Pramudita, di sebuah pameran wedding, Gandy hanya diminta mempelajari lagu Love Will Be Our Home. Dengan dasar lagu itu, Gandy diminta merancang tema pernikahan.

Sesuai Karakter

Sebelum merancang konsep dan tema pernikahan seperti yang diminta keluarga Santo, Gandy harus menyelami latar belakang dan pandangan hidup Santo agar apa yang disodorkan sesuai dengan keinginan dan karakter keluarga itu. “Butuh dua sampai tiga kali pertemuan untuk menyelami filosofi hidup mereka,” jelas Gandy.

Dari beberapa kali pertemuan, Gandy bisa memahami mengapa Santo memilih lagu itu sebagai tema pernikahan. “Keluarga itu sangat hangat. Mereka membangun rumah tangga berlandaskan cinta. Komunikasi antaranggota keluarga sangat akrab,” tambah Gandy. Untuk itulah, dia menyodorkan tema pernikahan modern minimalis namun memberikan kesan hangat dan bersahabat bagi seluruh tamu. Konsep itu menjadi dasar seluruh setting pernikahan.

Untuk menciptakan kesan akrab dan hangat, Gandy mengambil salah satu sudut rumah Santo untuk menjadi background panggung pengantin. Di belakang mempelai terdapat jendela dan foto-foto keluarga. “Tamu merasa berada di halaman belakang rumah Santo,” jelasnya. Panggung pengantin pun menyatu dengan ruang VIP. Tak ada pemisah.

Susunan acara pun diringkas. Tak ada pembacaan doa, pemotongan kue, atau foto keluarga saat pesta. Acara-acara pribadi dilaksanakan sebelum tamu undangan datang. Jadi, begitu tamu tiba, mereka bisa menyalami pengantin. “Tak ada antrian panjang seperti umumnya kawinan,” ujar Gandy sambil tersenyum. Padahal, tamu yang datang pada acara itu sekitar 1.700 orang. Kesan hangat tampak ketika pengantin mendatangi tamu VIP, seperti guru SD mereka, untuk bersalaman.

Setelah tamu berkumpul, mempelai sendiri yang memberikan sambutan. Bukan perwakilan keluarga. “Karena mereka yang mengundang, mereka sendiri yang menyambut,” jelasnya. Dalam sambutan, pengantin pria menjelaskan kepada tamu, mengapa ia memilih Nadya sebagai pendamping hidupnya. Nadya tak tahu dengan rencana ini sehingga benar-benar menjadi kejutan. Selain mendengar, tamu bisa membaca sambutan itu melalui slide lebar. “Habis sambutan, seluruh tamu memberikan applause,” kata Gandy.

Pernikahan Nadya dan Sahat mendapat sambutan dari seluruh tamu karena pernikahan itu menggambarkan karakter keluarga Nadya. “Konsepnya sesuai dengan karakter pengantin,” jelas Gandy. Jadi, penentuan konsep pernikahan harus sesuai dengan karakter dan filosofi hidupnya. Konsep pernikahan yang tidak sesuai dengan jati diri mempelai membuat suasana pernikahan menjadi kaku. Acara seperti tak bernyawa.

Perhatikan Tamu

Selain menyesuaikan dengan karakter pengantin, konsep pernikahan harus pula memerhatikan tamu yang akan diundang. Toh, pernikahan ini bukan untuk mereka sendiri, tetapi juga melibatkan tamu. Kepentingan tamu harus diakomodir agar mereka merasa nyaman saat mengikuti prosesi agung tersebut.

Karakter tamu harus diperhatikan sebelum menyusun konsep. Misalnya, usia tamu, apakah hanya teman pengantin atau melibatkan kolega orangtua. Harus dilihat juga latar belakang tamu, baik dari sisi kultural maupun sosial. “Saya pernah mengadakan pesta dengan menu Western di hotel mewah. Tapi, semua tamunya orang desa. Mereka tak bisa menikmati makanannya. Kasihan melihatnya,” kata Gandy. Bagi pengantin, hal itu tak menjadi masalah. Tapi, bagi tamu, itu menjadi persoalan besar.

Pernikahan dikatakan sukses jika semua pihak bahagia dengan acara tersebut. Pengantin puas karena acara berjalan seperti yang diinginkan. Sedangkan, bagi tamu, mereka bisa menikmatai semua rangkaiam acara dengan nyaman. Tamu merasa terlibat di dalamnya. “Bukan sekedar bersalaman, makan, lalu pulang,” kata Gandy lagi. Konsep pernikahan yang baik adalah memberi kesan yang mendalam bagi semua orang sehingga momentum penting dalam hidup itu bisa dikenang sepanjang masa. (Majalah Jakarta 3636, edisi 68 tahun 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s