LIFESTYLE GADGET


Cindy, Manajer Marketing perusahaan consumer goods ternama, tak bisa dipisahkan dengan iPad. Melalui tablet tersebut, semua kebutuhan komunikasi bisa terpenuhi. Untuk berkirim email, presentasi, membuat laporan, up date status di Facebook atau Twitter, membaca buku atau majalah hingga main game bisa dilakukan melalui piranti mungil tersebut.

“Saya bisa mengerjakan laporan di tengah perjalanan,” kata wanita berkulit langsat ini. Selain aplikasi untuk bekerja, iPad juga memberinya hiburan menarik. “Angry Bird dan Talking Tom-nya seru. Lumayan untuk ngisi waktu kosong,” tambahnya riang. Mobilitas tinggi Cindy memang membutuhkan piranti serbaguna seperti ini. Bentuknya elegan dan mungil sehingga mudah dibawa kemana-mana.

Di samping fungsional, tablet juga sudah menjadi gaya hidup. Orang berlomba-lomba untuk mendapatkan tablet impian. Saat Samsung meluncurkan Galaxy Tab, orang rela antre berjam-jam untuk mendapatkan barang tersebut. Bahkan, tablet produksi lokal, Nexian Genius (NX A7500), juga diserbu pembeli saat menggelar pameran. “Responnya sangat baik,” kata Andy Jobs, Chief Marketing Officer Selular Group, perusahaan yang memasarkan Nexian. Hal senada juga diungkapkan oleh Monthany Bahterazar, Marketing Manajer Ti-Pad Justin.

Menurut laporan Strategy Analytics yang dilansir akhir Juli lalu, penjualan tablet pada kuartal kedua 2011 mengalami kenaikan hingga 331 persen (15 juta unit). Penjualan Apple enam juta lebih banyak dibanding periode yang sama tahun lalu. Hanya, dominasi pasarnya menurun dari 94,3 persen menjadi 61,3 persen. Yang menarik, tablet Android makin diminati karena meraih 30,1 persen pangsa pasar. Ini menunjukkan, persaingan di bisnis tablet komputer semakin ketat.

Menurut Andy, banyaknya perusahaan yang mengeluarkan tablet, justru menguntungkan konsumen. Pasar pun akan terbentuk dengan sendirinya. Pemilik budget besar, bisa membeli PlayBook (BlackBerry), iPad (Apple), Acer Iconia, Galaxy Tab (Samsung), atau Motorola Xoom. Sedangkan, mereka yang memiliki budget pas-pasan bisa memilih tablet-tablet lokal yang beredar di pasar. Perlu dicatat, setelah iPad lahir, muncul tablet-tablet baru dengan harga yang bervariasi. Untuk produk lokal, muncul Nexian Genius, Ti-Pad Justin (Ti-Phone), OnePad Sp 1110 (Zyrex), AndroTab (Pixcom) dan PicoPad (Axioo). Sedangkan tablet China juga membanjiri pasar dengan merek Skybee, CSL Bluberry, Archos, Huawei, dan EG Touch. Tablet lokal, umumnya, sudah dilengkapi dengan aplikasi preloaded berupa portal berita dari situs lokal seperti Detik, Kompas, Bisnis Indonesia, dan lain-lain.

Strategi pemasaran tablet lokal juga jitu. Mereka menggandeng operator (bundling) dengan memberikan paket berlangganan yang menarik. “Tabletnya seperti gratis. Harganya hampir sama dengan langganan internet selama setahun,” tambah Andy, menanggapi lakunya Nexian Genius saat mengadakan pameran. Ti-Phone tak mau ketinggalan. Mereka mengeluarkan program TIS (TiPhone Internet Service). “Seperti BlackBerry Messanger (BBM). Langganan cuma Rp 50 ribu per bulan, unlimited,” jelas Monthany.

Kelebihan Tablet

Tablet laku di pasar karena bentuknya sangat portebel. Tipis, kecil dan ringan. Beratnya di bawah satu kilogram. Ringkas dan bisa masuk ke tas kerja. Berbeda dengan laptop atau netbook yang membutuhkan ruang lebih besar. Meski kecil, ukuran layar tablet cukup lebar . Apalagi jika dibandingkan dengan layar ponsel. Bisa membuka halaman web dengan nyaman, baik dalam posisi portrait maupun landscape.

Tablet dilengkapi dengan teknologi seluler seperti 3G atau 3.5G untuk mengakses data maupun melakukan kegiatan klasik HP seperti SMS. Juga memiliki fitur Wi-Fi sehingga tidak membutuhkan kabel LAN untuk membuka internet. Beberapa tablet memiliki dua kamera dengan kemampuan memadai untuk membuat fotografi mobile maupun sekedar chat video.

Fitur game pada tablet memungkinkan permainan bergrafis tiga dimensi. Walau tak memiliki tombol kontroler fisik, layar sentuh tetap bisa memunculkan kontroler visual yang menyediakan kenyamanan setara. Aplikasi unggulan tablet yang tak ada pada notebook adalah e-book reader. Kita bisa menyulap piranti ini menjadi buku digital atau majalah digital. Bisa membaca majalah, surat kabar, atau buku kesukaan tanpa harus membawa buku tebal kemana-mana. Membaca buku melalui tablet terlihat lebih keren dibanding memegang buku tebal segede bantal.

Geser Laptop

Perkembangan teknologi secara umum, menurut Andy Jobs, terbagi menjadi dua hal yaitu convergence dan divergence. Convergence berarti satu alat bisa memiliki banyak fungsi. “Bisa untuk MP3, kamera, televisi, dan lain-lain,” lanjutnya. Misalnya, dengan tablet, kita bisa mendengarkan musik, memotret, video call, maupun membaca buku dan main game. Sedangkan divergence mengacu pada makin beragamnya teknologi yang ditawarkan. Dulu, kita hanya mengenal email gratisan dari Yahoo. Kini, muncul email sejenis dengan fitur menarik, seperti Gmail. Begitu juga dengan media sosial yang sebelumnya hanya Friendster dan Facebook, kini muncul Twitter.

Kemajuan terknologi tablet dikhawatirkan akan menggeser peran notebook. Namun, Montahany tak yakin tablet akan membunuh notebook karena perbedaan aplikasi dan fitur yang ada pada kedua gadget itu. “Untuk saat ini belum,” katanya. Ke depan ada kemungkinan tablet menggeser peran notebook jika tablet dikembangkan lagi. Sebagai catatan, saat ini sudah beredar keyboard wireless sebagai aksesori tablet. Dengan demikian, tablet bisa berperan seperti notebook. Tetapi kalau kita membawa tablet sekaligus keyboard, apa bedanya dengan membawa notebook?

Para pakar marketing pun tak yakin tablet akan membunuh laptop. Tablets will wound, but not kill laptops. Banyak alasan yang dikemukakan. Jaringan di perusahaan sebagian besar masih menggunakan Microsoft Windows sehingga pemakaian laptop masih relevan dan dibutuhkan dibandingkan tablet yang memiliki sistem operasi yang berbeda-beda. Harus diakui, mayoritas jaringan komputer di dunia menggunakan Microsoft Windows. Sistem operasi pada tablet juga tak sehebat dan seluas Windows atau Mac. Dari kaca mata ini, laptop masih lebih produktif. Selain itu, mengetik menggunakan tablet dengan virtual keyboard kurang optimal. Memang, kita bisa membeli keyboard tambahan. Namun, ini menjadi kurang relevan.

Alasan lain adalah soal pasar. Pasar komputer, apapun versinya mulai dari PC, notebook, netbook, sampai tablet sangat besar. Tidak mungkin tablet bisa mengambil alih seluruh pasar tersebut. Tahun lalu, tablet hanya terjual 15 juta unit. Padahal penjualan komputer satu kuartal  saja, lebih dari 93 juta unit. Di samping besarnya pasar, permintaan pasar terhadap komputer masih terfokus pada produktifitas. Dari sisi ini, laptop masih lebih produktif dibanding tablet karena didukung hardware dan software yang lebih mumpuni. Satu hal lagi, harga notebook dan netbook cenderung turun sehingga mendekati daya beli masyarakat. Penurunan harga dengan fitur yang lebih oke tentu menarik masyarakat untuk membeli notebook. Pendeknya, laptop dan tablet memiliki fungsi dan pasar tersendiri. Kehadiran tablet tak akan membunuh notebook meski tetap mempengaruhi pasar. (Highlight Majalah Jakarta 3636, edisi 66 Agustus 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s