IKHLAS


Dua pekan lalu, dua kyai sempat menginap di rumah saya. Seorang habib dari Pontianak yang akan memberikan ceramah di masjid di kampung saya, memilih tinggal di rumah daripada menginap di hotel. Satu lagi seorang kyai dari Magelang, yang kebetulan ada urusan di Jakarta. Dari habib, saya sempat mengobrol lama, mulai dari bandara Soekarno Hatta sampai di rumah. Sedangkan, dengan kyai dari Magelang, saya kurang waktu untuk bertukar pikiran, istilah tepatnya mengobrol, karena sempitnya waktu yang tersedia.

Dari habib saya belajar banyak tentang makna ikhlas. Dia yang sempat nyantri di Solo, Pontianak, sampai Yaman dan lulusan Magister Hukum, tampak rileks menjalani hidup. Padahal, aktifitasnya sangat padat. Berceramah antarkota, antarpulau, serta antarnegara. Dia tak protes ketika saya terlambat dua jam menjemput di bandara karena terjebak kemacetan. Dia juga santun dan bicara sesuai dengan situasi dan kondisi. Dia tidak merokok selama ngobrol dengan saya, sampai saya mengira dia bukan perokok, seperti halnya saya.

“Saya mengalir saja. Biarkan Allah yang menentukan. Kita jangan mengambil alih peran Allah,” ujarnya. Sikap iklhas dalam berdakwah ditunjukkan melalui contoh riil. “Motor saya beberapa kali masuk gadai untuk biaya syiar. Alhamdulillah dua atau tiga hari sudah bisa ditebus,” tambahnya. Asal kita ikhlas, Allah SWT akan membalasnya. Kalau sampai nggak ketebus, berarti hati kita belum ikhlas saat melepasnya.

Ikhlas lain yang dicontohkannya adalah tidak mengharapkan imbalan atas tausyiahnya. “Kalau kita dikasih, alhamdulillah. Kalau pun tidak, tidak apa-apa. Kita jangan mengharapkan materi dari berdakwah. Kalau mau kaya, jangan jadi ustadz, tapi jadi pengusaha. Ini soal pilihan,” kata habib yang kemana-mana selalu bersarung itu.

Habib pun tidak ofensif terhadap orang lain yang tidak sepaham atau sesama muslim yang belum menjalankan syariat sebagai mana mestinya. Ketika tetangga saya berjudi, saya datangi mereka. “Teruskan, jangan berhenti main. Setelah selesai saya ingin bicara.” Habib menunggu mereka berjudi sampai selesai. Setelah usai, dia bilang, “Kalian boleh main judi, tetapi jangan di dekat pesantren saya. Masalahnya, kalau Allah memberi musibah, semua warga di desa ini terkena dampaknya. Termasuk anak istri saya. Padahal, yang berbuat jelek hanya segelintir orang.” Karena diucapkan dengan nada pelan, orang-orang itu pun menerima dan akhirnya berhenti berjudi.

Habib juga menanggapi keluhan ustadz di kampung saya yang menganggap warga kurang memberi penghargaan pada dirinya (karena pakai bahasa Arab, saya gak ngerti nulisnya). “Ente kurang ikhlas dalam berdakwah,” ujar habib. Saat itu, saya tidak tahu maksudnya karena kami bertiga segera beralih ke topik lain. Namun, di mobil, habib menceritakan kepada saya kalau ustadz di kampung saya kurang ikhlas karena dia melihat sang ustadz masih mengharapkan materi. Habib menegaskan kyai adalah pilihan. Kalau dia sudah memilih menjadi seorang ustadz, jangan memikirkan masalah materi. Rejeki akan datang dengan sendirinya. Tetapi jangan pernah mematok tarif untuk sebuah ceramah. Anjuran yang sulit diterapkan saat ini karena di belakang seorang ustadz tenar sudah ada manajemen yang mengatur tetek bengeknya. (2 Ramadhan 1432 H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s