coffeewar: BEDA ALIRAN


Berbeda dengan café lain yang menyajikan kopi dalam format modern seperti espresso, cappuccino, atau caffé latte, coffeewar justru menyajikan kopi tubruk asli Indonesia.

Bukan tanpa alasan kalau Sumule bersaudara, Yogi dan Derby, memilih aliran yang berbeda dengan café lain. Yogi yang sempat menimba ilmu espresso di Sydney, Australia, menemukan fakta kalau kopi asal Indonesia menjadi idola. “Di Sydney, kopi Mandailing dan Toraja paling mahal,” kata Yogi.

Menurut catatan, varietas kopi Indonesia, baik arabica maupun robusta, memiliki aroma dan rasa yang lebih enak. Beberapa varietas yang menjadi buruan penikmat kopi adalah kopi Jawa, kopi Sumatra (Mandailing, Lintong, dan Gayo), kopi Sulawesi (Toraja), serta kopi Timor. Perkebunan kopi di Indonesia sudah ditanam sejak jaman penjajahan Belanda.

Di coffeewar, Yogi menyediakan tiga jenis kopi yaitu Mandailing, Toraja, dan Jawa dalam bentuk biji. Jika ada pesanan, biji kopi itu digiling kemudian diseduh dengan moka pot, french press, atau ibrik. Proses membuat kopi ini menimbulkan sensasi tersendiri. Aroma wangi kopi yang sedang digiling mampu menggugah selera sebelum Anda meminumnya. “Aroma itu trigger-nya. Kalau kita tidak bisa merasakan aromanya, ada aspek yang hilang,” ujar Yogi yang saat ini tengah membuat film bertema carok.

Konsep coffeewar juga berbeda dengan café lain. Disain café lebih mirip dapur. “Kami ingin pelanggan merasa di rumahnya sendiri. Kami memperlakukan mereka seperti sahabat dan keluarga,” tambahnya. Yogi ingin mengembalikan café atau warkop seperti sedia kala, yaitu tempat berdiskusi. “Bukan sekedar tempat lobi,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari café ini telah lahir dua film dan beberapa buku. Salah satunya adalah buku fiksi karya Djenar Maesa Ayu, 1 Perempuan 14 Laki-Laki. Selain Djenar, penulis yang sering nongkrong di café ini adalah Laksmi Pamuntjak, dan Richard Oh. Sebelumnya, di café ini juga digelar program musik akustik Swara Kahwa yang menampilkan band-band indie. Pernah pula kaum sufi dan ahli filsafat menggelar pertemuan rutin setiap Jumat malam. Sambil berdiskusi mereka menikmati kopi tubruk asli Indonesia. “Kami bukan anti espresso. Kami hanya beda aliran saja,” kata Yogi menutup pembicaraan. (Majalah Jakarta 3636 edisi 64, Mei 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s