WAKATOBI: Dangerously Beautiful


Wakatobi adalah surga bagi pecinta wisata bahari. Sekitar 90% species karang laut yang ada di dunia terdapat di Taman Nasional Wakatobi. Torpografi bawah lautnya juga memukau dengan aneka jenis ikan dan karang yang menawan. Namun, lebih dari itu, Wakatobi memiliki obyek wisata lain yang tak kalah memikatnya yaitu wisata budaya (culture tourism) serta wisata alam (nature tourism).
Wakatobi singkatan dari empat pulau utama yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomea dan Binongko. Kawasan ini terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebelumnya, Wakatobi masuk ke dalam wilayah Kabupaten Buton. Baru pada tahun 2003 wilayah tersebut menjadi kabupaten tersendiri.

Untuk menuju Wakatobi, kita bisa memilih jalur udara atau laut. Maskapai yang melayani penerbangan dari Kendari ke Wakatobi adalah Express Air dan Susi Air dengan pesawat kecil. Maklum, landasan pacu Bandara Matahora belum memenuhi syarat untuk penerbangan pesawat berbadan lebar. Sedangkan transportasi melalui laut dapat ditempuh dengan speedboat kurang lebih lima jam dari Kendari ke Bau-bau. Dari Bau-bau ke Lasalimu naik mobil selama dua jam. Kemudian dilanjutkan dengan kapal cepat selama dua hingga tiga jam menuju Wanci, pintu gerbang memasuki kawasan Wakatobi. Dari Wanci, kita bisa memilih lokasi yang dituju, apakah mau ke Pulau Hoga, Onemboa, atau pulau lain.

Waktu yang tepat untuk berkunjung adalah April sampai Juni dan Oktober sampai Desember. Memang, menyelam bisa dilakukan kapan saja. Namun, pada April dan Desember, cuaca sangat bagus sehingga pemandangannya lebih menakjubkan. Selain diving dan snorkeling, disediakan juga motor selam dan penjelajahan pulau. Sebuah pulau kecil bernama Tolandona (Pulau Onernobaa) sangat memikat. Pulau yang luasnya hanya 8 km2 ini dikelilingi taman laut yang sangat cantik. Jika Anda memiliki jiwa petualang, bisa berkunjung pada bulan Juli dan September. Ombak setinggi gunung sangat menantang untuk mengarungi pulau-pulau kecil di kawasan ini.

Marine Tourism

Wisata Bahari menjadi andalan Wakatobi. Hal ini didukung oleh keberadaan Taman Laut Nasional Kepulauan Wakatobi. Taman seluas 1.390.000 ha ini terletak di lima Kecamatan, yaitu Wang-Wangi, Wangi-Wangi Selatan, Kaledupa, Tomea, dan Binongko. Di tempat ini terdapat hamparan karang yang sangat luas dengan torpografi bawah laut yang kompleks seperti bentuk slope, flat, drop-off, atoll, dan goa bawah laut dengan biota yang beragam. Kedalaman air bervariasi. Bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan berpasir dan berkarang.

Di perairan tersebut terdapat 942 species ikan. Luas terumbu karang mencapai 90.000 ha dan memiliki 750 species karang dari 850 species karang di dunia. Juga memiliki karang atol Kaledupa sepanjang 48 km, terpanjang di dunia. Secara spesifik, Wakatobi memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling total kira-kira 600 km2. Gugusan karang yang wajib kita lihat adalah:
1. Terumbu Karang Tepi Pantai (Freenging Reefs/ Share Reefs), terdapat di sekeliling pulau-pulau yang ada di Wakatobi.
2. Terumbu Karang Penghalang (Barrier Reefs), terdapat di gugusan karang Kaledupa, Karang Tomea, dan karang Kapota.
3. Terumbu Karang Cincin (Atoll), terdapat di Karang Koko dan Karang Moramaho (di Pulau Tomea).

Keindahan bawah laut Wakatobi ditunjang pula oleh tingkat kejernihan air laut (penetrasi cahaya) dan kondisi arus (ideal currents) yang bagus sehingga nyaman untuk diving, snorkeling, maupun memancing. Saking indahnya, jurnalis selam asing Jacques Costeau menyebut Wakatobi sebagai the finest diving site in the world.

Selain alam bawah laut, kita bisa pula mengunjungi pantai-pantai yang masih alami. Cobalah datang ke Pantai Molii Sahatu, Pantai Jodoh. Pantai Sousu-Matahora, Pantai Barat Kapota, Pantai One Molangka, Pantai Peropa (Kaledupa), pantai Hondue, pantai Huuntete, Pantai Soha, Pantai Palahidu, dan beberapa pulau lain.

Rural Tourism

Wakatobi cocok untuk wisata pedesaan. Berbeda dengan daerah lain, komunitas Bajo di Wakatobi cukup unik. Mereka tak lagi berpindah-pindah di atas rumah ‘tancap’yang terbuat dari papan dan beratapkan rumbia. Mereka sudah tinggal menetap di atas rumah yang sebagian terbuat dari bata dan beratapkan seng. Sebagian rumah tak lagi berada di atas laut karena secara tak sadar Suku Bajo telah mereklamasi pantai dengan menaruh batu karang sebagai pondasi rumah.
Tetapi, sisa-sisa laut masih tampak. Beberapa rumah masih berdiri di atas air sehingga untuk menjenguk tetangga kadang masih harus menggunakan koli-koli (sampan kecil). Perahu ini juga menjadi alat transportasi untuk berbelanja ke pasar, mencari air bersih, atau kebutuhan hidup lain.

Anak-anak pun memanfaatkan koli-koli untuk bermain ke tengah laut. Di perkampungan Mola (Wangi-Wangi), kita bisa melihat sungai selebar 1,5 meter berdampingan dengan jalan kampung. Sungai inipun menjadi jalan raya bagi mereka. Koli-koli berseliweran seperti halnya motor di perkampungan biasa.
Di Wakatobi terdapat lima perkampungan Bajo, yaitu Mola (Wangi-Wangi), Lamanggu (Tomea), serta tiga kampung Bajo di Pulau Kaledupa, yaitu Mantigola, Sampela, serta Lohoa. Mola kampung paling modern di mana sebagian besar rumah berada di ‘daratan’, di atas batu karang. Dari lima kampung itu, yang dipertahankan keasliannya adalah kampung Lohoa dengan rumah tancapnya di atas laut.

Tak semua penduduk berprofesi sebagai nelayan. Sebagian warga mulai memasuki dunia jasa dengan berdagang, baik kopra maupun barang-barang dari Malaysia. Di pasar, kita dengan mudah menemukan barang-barang, terutama pakaian, dari negeri jiran. Maklum, warga Wakatobi sering menjual hasil produksi mereka ke Malaysia, sehingga saat balik ke kampung, mereka membeli barang-barang dari sana.

Nature Tourism

Wisata alam di Wakatobi sangat menarik. Alam bercirikan iklim tropis menawarkan petualangan tersendiri. Kita bisa menelusuri goa, pemandian alam dan telaga dengan ekosistem dan artefak yang memesona. Bahkan, kita bisa mengunjungi peninggalan-peninggalan bersejarah (wisata sejarah) berupa benteng, kuburan tua, masjid tua, serta istana raja.
Di Kecamatan Wangi-Wangi dan Wangi-Wangi Selatan, kita bisa melihat Air Goa Kontamale, Air Goa Tee Kosapi, Pantai Molii Sahatu, Nusa Indah, Pantai Jodoh, Liya Honiki, Air Goa Lia Ntade, Goa Alam, Sumanga Island, Kompo Nuane Island, Pantai Usuno, Matahora Beach, Pantai One Meha, Kapal Tosora (Meny. Kapal), Tee Honiki. Di daerah ini juga terdapat Benteng Tindoi, Benteng Wabuebue, Kuburan Tua, Benteng Koba, Benteng Liya, Benteng Mandati Tonga, Benteng Watinti, Benteng Togo Molengo, Benteng Baluara, serta Masjid Tua.

Di Kaledua, kita bisa mengunjungi Telaga Sombano, Goa alam Darawa, Hoga Island, Pantai Peropa, Kampung Laulua, Benteng La Donda, Benteng Horua, Benteng La Manungkira, Benteng Pangilia, Benteng Ollo, Benteng La Bohasi, dan Benteng Tapa’a. Di daerah ini, juga terdapat makam Bontona Kaledupa, Rumah Adat Bontona Kaledupa, serta Masjid Tua.

Sedangkan di Tomea, terdapat Onemombaa, Pantai Hondue, Pantai Huuntete, Goa Handopa, Sawa Island, Lentea Island, Benteng Patua, Benteng Suosuo, Benteng Rambi Randa, Makam Ince Sulaiman, Masjid Tua, dan Liang Kurikuri. Di Binongko, kita bisa menyaksikan keindahan Pantai Palahidu, Pantai Buku, Pantai Wee, Anomo Island, Gunung Koncu, Kapal Batu Vatampina, Benteng Palahidu, Benteng Fatima, Benteng Baluara, Benteng Oihu, Benteng Haka, serta Benteng Tadu dan Benteng Wali.

Culture Tourism

Wakatobi yang dulu merupakan bagian dari wilayah Kasultanan Buton memiliki keragaman budaya yang unik. Paduan antara masyarakat kepulauan dengan pesisir menghasilkan budaya khas yang jarang ditemui di tempat lain. Ada berbagai macam tarian di wilayah ini seperti Eja-eja dan Kuiramba dari Tomea, tari Badanda dari Binongko, tari Lariangi dari Kaledupa, dan tari Kenta-kenta dari Wangi-Wangi.

Setiap tarian memiliki makna tersendiri. Misalnya, Tari Lariangi Pakaian dan gerakan tari melambangkan sesuatu. Pada bagian kepala terdapat Panto dan Pintoru yang melambangkan derajat bangsawan, hepupu / konde melambangkan Kerajaan Buton, bunga konde melambangkan Pagar beton Keraton, dan Toboy atas bawah kamba melangkan prajurit penjaga pasar benteng keraton. Sedangkan Laka/Sarung warna merah melambangkan Ratu Wa Kaa-Kaa karena saat dinobatkan menjadi Raja Buton pertama menggunakan sarung merah. Kipas Lariangi melambangkan kesejukan di dalam istana. Sapu tangan melambangkan lap keringat Raja Buton.

Selain kekayaan tari-tarian, Wakatobi juga mempunyai prosesi adat seperti Kariaya, Perkawinan, Bangka Mbule-Mbule, Kansodaa, Sasa, Koli-Koli Ttendha, dan lain-lain. Pesta adat Kabuanga adalah pesta adat yang bertujuan untuk mempertemukan pemuda dan pemudi, di mana seorang pemuda memberikan cinderamata kepada seorang gadis sebagai tanda ikatan tali kasih. Sedangkan, pesta adat Kasodaa dari Wangi-Wangi adalah tradisi di mana wanita yang beranjak remaja harus melalui proses pingitan dan di akhir kegiatan wanita tersebut diarak keliling kampung dengan cara dipikul di atas Kasodaa.

Keunikan budaya Wakatobi ini akan meninggalkan kenangan tersendiri bagi kita. Apalagi, budaya semacam ini jarang kita temui di tempat lain. Jadi, selain pemandangan yang memesona, kita juga bisa belajar mengenai sosio kultural masyarakatnya. Termasuk sejarahnya. (Majalah Jakarta edisi 63, April 2011. Foto oleh Agus Joko Purwanto http://ajp-indonesiaindah.blogspot.com)

2 thoughts on “WAKATOBI: Dangerously Beautiful

    1. @ Retno: Masih ada hari esok kan? Kalo ada kesempatan bisa ke sana lagi. Trims sudah berkunjung ke blog ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s