CERITA ANAK: SULAP


Di sekolah Ina bercerita pada teman-temanya tentang ayahnya yang pandai menyulap. Saking pintarnya menyusun cerita, teman sekolahnya sampai mengangumi ayah Ina. Mereka ingin memiliki ayah yang pandai menyulap apapun yang diinginkan anaknya.

“Nih, coklat dari ayah Ina. Disulapin nih,” ujar Ina pada Gandes, teman sekelasnya. “Makanya, punya ayah seperti aku dong,” lanjut Ina bangga. Gandes, yang kebetulan diantar ke sekolah oleh mamanya, langsung merengek untuk disulapkan coklat dan es krim.

“Ma, sulapin es krim dan coklat dong,” kata Gandes.

“Mama enggak bisa sayang. Nanti pulang sekolah mama beliin di toko dekat rumah,” kata sang ibu.

“Nggak mau. Gandes maunya disulapin kayak Ina.” Sambil berkata demikian, meledaklah tangis Gandes.

Bukan hanya Gandes yang mengharapkan memiliki ayah atau ibu yang pandai menyulap. Rama, Tabitha, Riko, Lia, Anisa dan teman-teman yang lain juga punya harapan yang sama. Siapa yang enggak senang punya ayah yang bisa memberikan apa yang menjadi keinginan kita?

Tiap hari Ina terus membanggakan kepandaian ayahnya menyulap. Cerita Ina kadang membuat teman-temannya jengkel dan iri. Namun mereka tidak bisa bebuat apa-apa. Mereka hanya menjadi pendengar, yang ujung-ujungnya menambah decak kagum mereka pada ayah Ina.

Musim libur tiba. Semua siswa mempunyai acara liburan sendiri-sendiri. “Aku mau pulang kampng sama ayah,” kata Ina pada Tabitha. “Kalau aku sih hanya ke Ancol. Habisnya aku enggak punya kampung,” ujar Tabitha dengan nada kecewa.

Malam hari menjelang keberangkatan ke Solo, Ina tidak bisa tidur. Ia sudah menyusun daftar makanan yang akan dia minta pada ayah. Ada wafer, coklat, susu, dan bermacam-macam roti. “Nanti biar disulapin ayah,” ujarnya dalam hati.

Ina girang ketika tiba-tiba ibu membangunkan tidurnya, lalu menyuruhnya untuk mandi. Mereka akan berangkat ke Solo. Ina duduk di bangku belakang, bareng dengan ibu dan Dirga, kakaknya. “Cepet dong nyetirnya biar cepet sampai eyang,” kata Ina pada Pak Maman, sopirnya.

Baru dua jam perjalanan, Ina sudah tak betah duduk di mobil. Dia mulai mencari tas kesayangannya. Mengambil susu dan meminumnya hingga habis. “Wah makan coklat enak nih,” katanya sambil membuka tas lagi.

Namun wajah Ina murung. Dia tak menemukan coklat kegemarannya. Yang ada di dalam tas hanya donat, wafer dan permen. “Ibu lupa membawanya, sayang,” ujar ibu. “Makan yang lain aja. Ada permen tuh,” sela Dirga. Ina bergeming. Wajahnya tetap muram. Yang diinginkan hanya coklat.

“Aku punya ide,” teriak Ina. Wajahnya ceria. Senyumnya meledak. “Bagaimana kalau ayah saja yang menyulap coklat,” katanya mantap. Ina yakin ayah bisa memenuhui permintaan itu karena di rumah ayah bisa menyulap permen, wafer dan coklat.

Ibu dan Dirga saling berpandangan, lalu ibu tersenyum getir. “Nanti saja sayang makan coklatnya. Nanti ibu beliin,” bujuk ibu. Ibu tahu ayah tidak bisa memberikan coklat yang diinginkan Ina karena mereka tidak memiliki colkat sebagai bahan untuk menyulap.

“Enggak mau. Ayah sulapin coklat sekarang!” Ina terus merengek dan memegangi lengan ayahnya yang duduk di samping sopir. “Sayang, di jalan enggak boleh menyulap. Berbahaya,” kata ayah. “Kan yang nyetir Pak Maman,’ sergah Ina.

Ayah mulai kebingungan. Alasan yang tidak masuk akan pasti akan ditolak oleh Ina karena gadis kecil itu cerdas. Ibu pun kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada Ina bahwa sulap yang dipraktekkan ayah di rumah hanyalah permainan kecepatan saja. Semua makanan yang akan disulap dan diberikan kepada Ina sudah tersedia. Tinggal bagaimana ayah mengambil coklat dari kantong baju dan menyulapnya.

Di tengah keheningan, Dirga berkata, “Ayah tuh kalau menyulap bohongan. Coklatnya sudah dipegang di tangan, terus dikasih ke kamu. Sekarang enggak punya coklat. Jadi enggak bisa nyulap.”

Ina terdiam. Gadis periang itu menunduk. Lesu. Keterangan kakaknya bagai petir di siang bolong. “Enggak mungkin ayah bohong. Ayah bisa menyulap,” sergah Ina seakan tak percaya dengan penjelasan kakak semata wayangnya. “Ayah tidak berbohong kan?” kata Ina sambil memegang lengan ayahnya.

Ayah diam. Matanya menatap deretan mobil yang ada di depannya. Lidahnya terasa kaku untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tak tega melihat keceriaan gadis kecilnya berubah menjadi sebuah kemurungan. Otaknya berpikir keras untuk menemukan kata yang tepat, yang bisa menjelaskan namun tidak menyakitkan.

“Sayang, semua tukang sulap tidak bisa mengadakan yang tidak ada. Kalau mereka bisa menyulap duit, itu karena mereka sudah punya uangnya. Uang itu disimpan di tempat tersembunyi, lalu diambil dengan cepat saat penonton tidak melihatnya,” kata ibu panjang lebar.

“Jadi ayah juga seperti itu. Tidak bisa menyulap coklat kalau kita tidak punya coklat?” tanya Ina. Ibu mengangguk pelan. “Pak Maman nanti berhenti di tempat peristirahatan. Ibu mau beli coklat dulu,” kata Ibu pada Pak Maman.

Saat istirahat, ibu membeli coklat kegemaran Ina. Meski sudah menggenggam coklat, mata Ina masih berkaca-kaca. Dia malu pada teman-teman sekolahnya yang menganggap ayah Ina sebagai ahli sulap yang bisa memberikan apapun yang diinginkan.  (Djoko Harismojo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s