Seratus ribu rupiah


Sore itu,  saat menuju ke ATM untuk mengambil uang, saya melihat uang seratus ribuan di tengah jalan. Uang dilipat-lipat menjadi kecil. Tapi warna dan angka yang tertera sangat jelas: Rp 100.000. Langkah kaki saya sempat terhenti, “Ambil atau tidak. Lumayan nih bisa untuk ngisi bensin mobil.”

“Bukan hakmu. Janganlah kamu menabung energi negatif,” teriak nurani. Saya pilih berjalan terus, mengabaikan uang yang seakan-akan melambai minta untuk ‘diselamatkan’. Di tengah jalan, sempat berpikir untuk balik aja dan mengambil uang itu karena ATM masih lumayan jauh, sekitar 300 meter lagi. Tapi, kaki saya terus melangkah. Gerimis tak peduli. “Sekalian olahraga sore,” pikirku.

Setelah mengambil uang dari ATM, saya sempat memikirkan uang tadi. Kalau masih ada, saya berniat mengambilnya. Tetapi saya berdoa, mudah-mudahan sudah ditemukan oleh pemiliknya. Kalau pun tidak, ditemukan oleh orang yang lebih membutuhkan. Toh, seandainya saya mengambil uang itu, suatu saat saya harus ‘mengembalikanny’a dengan cara yang berbeda.

Saat melewati jalan itu lagi, uang tersebut sudah tak ada. Saya senang, karena saya tidak jadi ‘meminjam’ uang dari orang tak dikenal. Soal, siapa yang menemukan uang itu, di  luar  jangkauanku dan tak perlu diperdebatkan. Tuhan sudah mengatur segalanya. Saya yakin, penemu uang itu adalah orang yang sangat memerlukan dan akan digunakan untuk kebaikan. Semoga menjadi berkah bagi dia. Amin.

3 thoughts on “Seratus ribu rupiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s