Rahasia dibalik pilihan Tuhan


Paijo sewot setengah mati ketika pacarnya mengirim undangan pernikahan dirinya dengan pria lain. Padahal, dua minggu sebelumnya dia bertemu dan tak ada pembicaraan sedikit pun yang mengarah ke “pengkhianatan besar”. Paijo tak sudi datang ke acara kawinan dan memilih memberinya kado segepok umpatan. Ia tak mau lagi bertemu atau mencari tahu kabar mantan pacar (sebut saja Inem).

Waktu terus berjalan. Setelah hampir 15 tahun, Paijo menerima SMS dari unkown number. Melihat gaya bahasanya, dia tahu, pengirim SMS bukanlah orang asing. Pasti temen lamanya. Benar. Inem yang mengirimnya. Paijo senang sekaligus terluka. Senang karena dia bisa memutar memori indah masa lalu. Terluka, karena dia seperti menggores luka di atas luka. Pasti lebih pedih.

Sekedar bernostalgia, Paijo cukup senang. Bukan sekedar SMS, namun juga telepon-teleponan, email, chatting dan juga facebook. Setelah jenuh dengan masa nostalgia, Paijo mulai mengorek luka lamanya: Mengapa Inem tega meninggalkannya tanpa sepatah kata pun? Dugaan Paijo bahwa Inem ”disitinurbayakan” oleh orangtua, terutama ayahnya, salah. Inem mengambil keputusan sendiri dengan kepala dingin setelah melakukan shalat istikharah. ”Setiap kali habis sholat istikharah, yang muncul dalam mimpiku, bukan kamu,” ujar Inem dengan kalimat terbata-bata. ”Kalau kamu dalam posisiku, pasti sulit. Aku tak tega mengatakan padamu. Kamu terlalu baik untuk dilukai,” tambahnya dengan suara parau, menahan tangis.

Paijo yang masih geram pun mencari celah lain untuk terus menyalahkannya. ”Tapi dengan tak berterus terang seperti ini, lukaku terus mengalirkan darah selama 15 tahun. Bayangkan! Betapa sakitnya.” Keduanya terdiam. Tak ada suara apapun dari balik ponsel. Sesaat kemudian, ”Maafkan aku,” tambah Inem.

”Sudahlah, jangkan korek luka lama,” sergah Paijo. Kalimat ini, sejatinya, untuk menghindari Paijo memberikan kata maaf pada Inem. Paijo menganggap Inem memiliki dosa besar yang sulit ditebus. Hanya setingkat di bawah kafir! (kejam nian Paijo). Bahkan saat Lebaran pun, Paijo belum bisa memaafkan kesalahan yang satu ini. Paijo pun belum mau bertemu langsung dengan Inem. Dia selalu menghindar dengan beribu alasan. Padahal, letak tempat tinggalnya tak terlalu jauh untuk ukuran saat ini.

Tahun kedua “pertemuan online” dengan Inem dirasakan Paijo mulai datar dan cenderung membosankan. Banyak perbedaan dalam frame of experience dan frame of reference. Inem selalu memandang setiap peristiwa dari kacamata hitam dan putih. Baginya, tak ada warna abu-abu, white pearl, atau silver. Yang ada hanya SALAH dan BENAR. Tak ada kata maklum, bisa dimengerti, dan toleransi. Paijo mulai enggan berdiskusi.

Ketidaknyamanan ini membawa hikmah besar. Paijo bisa memaafkan kesalahan Inem setulus-tulusnya. Sebelum Ramadhan, dia sudah iklhas dan legowo. Di bersyukur tak jadi menikah dengan Inem. Ternyata, dia bukanlah orang yang pas untuk bertukar pikiran, untuk bertoleransi, dan untuk memahami. Paijo mengerti mengapa Tuhan memisahkan mereka. Andai dulu bersatu, Paijo tak tahu sampai berapa bulan dia bisa bertahan hidup berdampingan dengan, meminjam istilah orang Barat, conservative moslem.

Karena itu, saat harus bertemu langsung dengan Inem, dalam sebuah reuni Paijo sudah bisa tertawa lebar. Bahagia. Bukan karena mengenang masa lalu, tetapi karena dijauhkan dari petaka yang akan menghimpitnya 15 tahun silam! Waktu yang akan menjelaskan hikmah dan takdir Tuhan. Paijo yakin dibalik pilihan Tuhan, terselip hikmah dan rahmat yang kadang tak disadari oleh manusia. (medio Nov 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s