LET’S RIDE BIKE


 

Henry Bunyamin - Monster Bike

Kaum urban sedang keranjingan sepeda. Setiap hari libur, khususnya saat diberlakukannya car free day, aneka sepeda melintas di sepanjang Jalan Sudirman hingga MH Thamrin, Jakarta Pusat. Bukan sekedar berolah raga, mereka juga ingin menunjukkan jati dirinya.

Gaung sepeda kembali bergema sejak terjadinya pemanasan global yang berimbas pada tak menentunya cuaca. Kapan musim kemarau dan kapan musim hujan menjadi tak jelas. Juga kemacetan yang luar biasa di ibukota. ”Dua tahun terakhir perkembangan sepeda luar biasa,” kata Budi Santoso, Technical Advisor sebuah perusahaan Informasi Teknologi sekaligus pendiri website www.sepedaku.com.

Menurut pria yang sepuluh tahun tinggal di Jerman itu, kampanye bersepeda berjalan efektif karena strategi top down yang digagasnya bersama rekan-rekan lima tahun silam. Saat itu, mereka mengajak para eksekutif untuk bersepeda sehingga muncul imej kalau sepeda bukanlah alat transportasi murahan. ”Budaya kita masih paternaslistik sehingga saat atasan bersepada, yang lain ikut-ikutan,” tambahnya.

Ketika sepeda menjadi tren baru, perkembangannya luar biasa. Bukan sekedar komunitas yang menjamur. Namun, jenis sepeda yang digemari pun cepat berubah. Masing-masing kelompok memiliki jenis sepeda andalan. Beberapa jenis sepeda yang sedang menjadi tren saat ini adalah fixie, mountain bike, serta sepeda lipat (seli).

Fixie (Fix Gear)

 

LD: labs

Sepeda fixie menjadi tren sejak beberapa artis ternama seperti Tora Sudiro dan Vicky Nitinegoro memakai sepeda jenis ini. Menurut Henry Bunyamin, Store Manager Monster Bike di Senayan Trade Center (STC), booming sepeda fixie terasa mulai Maret 2010. “Makin gila sejak pertengahan tahun,” kata pria yang tiap hari naik sepeda dari rumah ke kantornya.

Sepeda fixie berbeda dengan sepeda biasa. Fixie identik dengan minimalis dan tanpa gear dinamis. Tak ada kabel berseliweran. Ban pun super tipis, layaknya sepeda balap. Selama roda berputar, pedal pun ikut berputar. Pengereman mengandalkan kekuatan pedal dengan menahan laju serta mendorong pedal ke belakang.

Sepeda fixie, kata Henry, dilirik kaum muda karena beberapa kelebihan. Bisa maju mundur, simpel, warnanya beragam dan banyak komunitasnya. ”Sepeda seperti itu laku banget,” kata Henry sambil menunjuk sepeda dengan roda belakang warna biru dan ban depan pink. Soal warna, Henry banyak berkreasi. Ban depan dan belakang tak mesti sama, baik jenis peleknya maupun warnanya.

Selain penampilan yang memesona, fixie lebih ringan. Dengan ban ramping, lebih enteng saat digowes. Sekali ngayuh bisa menempuh jarak lebih jauh. “Beda banget dengan sepeda lipat. Lebih enteng dan cepat,” jelas Henry, yang saat ini menjadi agen sepeda premium seperti RH+O, Sillgey, Velocity, Aerospoke, Livery, Pillar, dan lain-lain. Di kalangan biker,  Monster Bike dikenal sebagai penyedia sepeda fixie. Padahal, sebenarnya, Monster juga menyediakan sepeda lain seperti onthel, mountain bike, folding (lipat), hingga recumbent (sepeda roda tiga).

Mountain Bike

 

Aluminum Mountain Bike

Walau fixie sedang naik daun, sepeda gunung (mountain bike) tetap menjadi primadona. “Karakter orang Indonesia ingin satu sepeda bisa dipakai bermacam-macam,” kata Budi Simo, sapaan akrab Budi Santoso. Mountain bike felksibel karena bisa digunakan untuk menjejah hutan maupun bersepeda di perkotaan. Sepeda gunung yang beredar saat ini umumnya sudah menerapkan sistem suspensi pada roda depannya (fork suspension). Malah, sebagian sepeda sudah dual suspension, baik roda depan maupun belakang.

Dilihat jenisnya, ada lima macam mountain bike. Pertama, cross-country bike. Berat sepeda ini sekitar 8-12 kg. Didesain untuk mendapatkan efesiensi optimal saat mengayuh dan menanjak sehingga sering dipakai untuk race.  Mayoritas hardtrail (tanpa suspensi belakang) meski 2-3 tahun terakhir sudah ada yang memakai full suspension.  Kedua, all mountain (trailbike). Berat berkisar 11-15 kg. Dirancang untuk melintasi medan bebatuan, tanah pegunungan maupun batu lepas dengan nyaman pada kecepatan relatif lebih tinggi dibanding jenis cross country. Mampu melakukan lompatan hingga 2 meter.

Ketiga, freeride. Jenis ini hampir sama dengan all mountain. Perbedaannya, hanya ada penambahan komponen untuk memperkuat sepeda. Misalnya, suspensi depan yang lebih kekar serta dilengkapi double crown (batang penahan) sehingga tetap aman dan nyaman melakukan lompatan tinggi. Keempat, dirt jump (urban bike). Sepeda ini digandrungi kaum muda urban. Didisain untuk alat transportasi, menikung kecepatan tinggi, juga melakukan lompatan-lompatan ekstrim. Rangka dari bahan yang lebih kuat dan menggunakan ban ekstra besar. Berat sekitar 13-18 kg dengan material yang lebih kuat sehingga harga lebih mahal.

Kelima, downhill. Sepeda ini dirancang untuk menuruni bukit dengan cepat, aman dan nyaman. Karena itu suspensi lebih panjang jarak mainnya, dan sensitif terhadap medan yang dilalui. Frame sepeda rendah sehingga mampu menikung dengan kecepatan tinggi. Sistem pengereman menggunakan disc brake ukuran besar agar lebih pakem.Dari lima jenis sepeda gunung di atas, Anda bisa memilih salah satu jenis yang sesuai dengan  kebutuhan. Atau bisa pula membeli beberapa jenis mountain bike untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan.

Folding Bike

 

Brigitta Tionie - Monster Bike

Di kota besar, seli juga menjadi idola. ”Praktis dan simpel,” kata Safak Muhammad, Managing Director Sepeda Gaya. Sepeda ini tidak memakan tempat karena bisa dilipat. Seli juga bisa digabungkan dengan moda lain, misalnya kereta, bis, atau taksi. Jadi, seli hanya dipakai dari terminal hingga kantor.

Seli mulai populer sejak masyarakat menyadari efek pemanasan global. Karena ingin mengurangi polusi, sebagaian orang pun memilih bersepeda saat berangkat kerja. Agar tak terlalu capai, pilihan jatuh ke seli. Bisa dilipat kapan saja lalu dimasukkan ke bis atau taksi. Juga tak bingung mencari tempat parkir karena bisa dibawa ke dalam kantor, lalu di taruh di bawah meja kerja.

Saat ini seli bukan sekedar sepeda commuter untuk melewati jalan aspal saja. Seli sepeda gunung pun sudah banyak. Tak perlu khawatir dengan folding mountain bike ini. ”Teknologi sudah canggih sehingga tak membahayakan pemakai,” lanjut Safak yang mengageni sepeda lipat berbagai merek seperti Element, Laux, Wim Cycle, United, Dahon, Genio, Polygon, dan lain-lain.

Sepeda Pustaka Keliling

Sepeda sudah menjadi gaya hidup. Bagi Budi Simo hal itu belum cukup. Lelaki kelahiran 19 Oktober 1972 itu menginginkan sepeda menjadi alat transportasi seperti di negara-negara Eropa. ”Di Jerman dan Austria, komunitas sepeda tumbuh pesat,” lanjutnya. Orang pergi ke kantor atau belanja naik sepeda. Bukan sekedar untuk olahraga atau gaya.

Jika sepeda sudah menjadi alat transportasi, kemacetan Jakarta bisa berkurang. Udara pun lebih sehat. Untuk mewujudkan mimpinya, Budi sudah memulai dari dirinya sendiri. Kemana pun dia bersepeda. ”Accu mobil saya rusak dan keempat bannya kempes,” katanya sambil tertawa. Budi hampir tak pernah memakai mobil untuk aktifitas hariannya.

Saat ini, bersama LSM, Budi mengampanyekan Sepeda Pustaka Keliling. Saat bersepeda, entah ke kantor atau mana saja, Anda bisa membagikan buku atau majalah yang tak terpakai kepada orang-orang yang Anda lalui. Siapa tahu, buku tersebut berguna bagi mereka untuk menambah pengetahuan. Selain sehat, Anda pun ikut membantu mencerdaskan bangsa.

Toko sepeda yang bisa Anda kunjungi:

1. Monster Bike, Senayan Trade Center LG 134-137, Jalan Asia Afrika, Jakarta. Website www.monsterbike.blogspot.com, www.sepedalipet.com. Telepon 021-96777333, 57931929

2. Rodalink, Arteri Pondok Indah, Jl. Sultan Iskandarmuda 8E, Jaksel (ada 37 cabang). Website www.rodalink.com. Telepon 021-729 2456

3. Bagus Bike, Kompleks Ruko Sektor 7 Blok RN 61, BSD Tangerang. Website www.bagusbike.com. Elepom 021-5371115

4. Sepeda Gaya, Jalan Duren Tiga Selatan No 52F, Jaksel. Website www.sepedagaya.com. Telepon 021-7942321, 70544634

5. Delta Cycle, ITC Roxy Mas Blok D2 No. 20 Jl. KH Hasyim Ashari. Jakarta. Website www.deltacycles.com. Telepon 021-68003800

(Rubrik Highlight majalah JAKARTA 3636 edisi 58, November 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s