Saatnya Menghargai Jurusan Antropologi


Jurusan antropologi kalah mentereng dibanding psikologi atau komunikasi. Peminatnya juga tak banyak. Bisa dilihat dari jumlah pendafatar saat ujian masuk perguruan tinggi negeri. Bagi universitas swasta, jurusan ini juga kurang menjual, sehingga mereka enggan membuka jurusan tersebut. Padahal, di Eropa dan Amerika Serikat, antropologi sejajar dengan ilmu sosial lain. Gaji antropolog pun memikat.

Antropoli adalah ilmu yang mempelajari manusia dengan segala aspeknya, baik fisik maupun budayanya. Kata antropologi pertama kali digunakan tahun 1501 oleh filsuf Jerman, Magnus Hundt. Dalam antropologi modern, ilmu ini diklasifikasikan menjadi empat: social anthropology (cultural anthrophology), archelogy, linguistic anthropology, serta physical (biological) anthropology.

Ilmu ini mengalami kemajuan pesat saat bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi untuk mencari daerah koloni. Mereka memanfaatkan antropologi untuk mencari titik lemah suatu budaya sehingga bisa digunakan sebagai pintu masuk menguasai daerah tertentu. Belanda pun memanfaatkan antropologi untuk menguasai Aceh. Mereka mengirimkan ilmuwan Snouck Hurgronje (1857-1936). Snouck tiba di Jawa pada 1889. Sejak itu dia mulai meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi, terutama di Aceh. Hasil kajian Snouck menjadi referensi Belanda untuk menguasai Hindia Belanda. Di negeri Kincir Angin, Snouck dianggap pahlawan.

Pascakemerdekaan, tepatnya September 1957, Universitas Indonesia memelopori pendirian Jurusan Antropologi. Profesor Koentjaraningrat juga memrakarsai pendirian jurusan ini di berbagai universitas negeri lainnya. Saat itu, antropologi digunakan sebagai alat untuk mempelajari diri sendiri. Antropologi sosial budaya berkembang pesat. Tak jarang Koentjaraningrat dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan kebijakan terkait pembangunan.

Namun, sepeninggalan Koentjaraningrat, antropologi kian memudar. Gaungnya menurun. Selain kehilangan tokoh sentral, pemerintah pun kurang memerhatikan aspek sosial budaya. Mereka memfokuskan pada pembangunan ekonomi sehingga aspek budaya menjadi anak tiri. Akibatnya, mahasiswa kurang berminat belajar antropologi. Mereka lebih suka belajar ilmu komunikasi, psikologi, marketing, atau periklanan.

Bergaji tinggi

Berbeda dengan di Indonesia, di Eropa dan Amerika Serikat, antropologi tetap mendapatkan tempat yang layak. Antropolog mendapatkan gaji tinggi, tak jauh berbeda dengan profesi lain seperti pengacara, bankir, atau pialang saham. Mereka diserap dalam berbagai lapangan kerja mulai dari pemerintah daerah, museum, industri, lembaga swadaya masyarat hingga perguruan tinggi.

Menurut website http://www.payscale.com, situs yang memuat parameter gaji dari berbagai profesi di berbagai negara, antropolog yang bekerja di sektor pendidikan (universitas) mendapatkan gaji antara US$ 30.568 hingga US$ 61,377 setiap tahun. Gaji tersebut masih kalah dibandingkan mereka yang memilih bekerja di sektor Research & Development serta bioteknologi yang memperoleh pendapatan antara US$ 38.981 hingga US$ 83.146.

Pemerintah daerah di negeri Barrack Obama itupun berani membayar tinggi, antara US$ 39.944 sampai US$ 78.018. Antropolog yang mengabdikan hidupnya di bidang Pediatric Care/Resources for HIV Patients memperoleh penghasilan sekitar US$ 32.369 hingga US$ 68.361. Gaji paling kecil yang diterima antropolog adalah mereka yang bekerja di museum. Pendapatan per tahunnya sekitar US$ 27.211 hingga US$ 52.581. (Rubrik Education majalah JAKARTA 3636 edisi 57, Oktober 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s