JAS MERAH: Belajar dari sejarah perselingkuhan


”Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap,” ujar Soekarno, presiden RI pertama dalam pidato politiknya yang berjudul JAS MERAH (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah), 17 Agustus 1966.

Petuah Seokarno untuk tidak meninggalkan sejarah telah mengilhami Pemkot Batu, Jawa Timur yang dua tahun silam memberikan instruksi kepada para pemijat wanita untuk memakai celana bergembok guna mencegah munculnya pijat plus. Juga menghindari terjadinya perselingkuhan. Tentunya, para pengambil kebijakan di Batu itu sudah keliling dunia, untuk mengungkap sejarah, sebelum mengambil sikap.

Mereka bisa jadi sudah mengunjungi Keraton Mangkunegaran di Solo dan melihat badong, yaitu penutup alat kelamin perempuan yang terbuat dari emas. Badong wajib dipakai kaum ningrat saat mereka hendak bepergian atau ditinggal suaminya berperang. Mungkin pula birokrat itu sudah bertandang ke museum de Cluny di Paris, Perancis. Di sana mereka melihat celana dalam milik Katharina von Medici (1519-1589) yang terbuat dari gading gajah. Kalau pun tidak pergi ke dua tempat di atas, mereka bisa saja belajar soal celana anti selingkuh itu dari buku karya Konrad Kyeser von Eichstätt, Bellifortis. (Editor’s Note majalah JAKARTA edisi 57, Oktober 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s