Making Your Career Dreams a Reality


Karir impian tidak datang begitu saja. Harus diperjuangkan. Bahkan sepuluh tahun sebelum karir tersebut diraih. Mulai sekarang, tentukan bidang yang Anda pilih dan kejar mimpi itu agar menjadi kenyataan.

Sebelum lulus kuliah, seharusnya Anda sudah menentukan karir yang akan ditekuni. Tetapkan sasaran 5 – 10 tahun mendatang. Pekerjaan dan posisi apa yang harus Anda raih dalam kurun waktu tersebut. Namun, dalam realitas, setelah lulus kuliah Anda belum tentu mendapatkan perjaan sesuai harapan. Bisa jadi, Anda bekerja di bidang yang berbeda, atau bahkan berlawanan, dengan disiplin ilmu yang ditekuni.

Pada awal bekerja, Anda bisa berpindah-pindah pekerjaan sesuai harapan dan keinginan. Selain menimba pengalaman, proses tersebut juga berguna untuk memilih pekerjaan dan profesi yang paling cocok bagi Anda. Namun ketika memasuki usia 30 tahun, sebaiknya Anda sudah menentukan pilihan. Memang, memilih bukanlah pekerjaan gampang. Harus mempertimbangkan banyak hal, bukan soal gaji semata.

”Pilih pekerjaan atau profesi yang paling sesuai dengan minat dan karakteristik,” jelas Esther Widhi Andangsari, MPsi, Head of Psychology Laboratory Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta. Indikatornya cukup gampang. Sesuai minat, tinggal diukur apakah kita bisa menekuni pekerjaan itu untuk 3-5 tahun ke depan? ”Kalau tiga bulan saja sudah eneg, berarti tak sesuai,” tambah Esther.

Sedangkan untuk mengukur karakteristik, pekerjaan tersebut harus sesuai dengan kepribadian Anda. Misalnya, Anda suka bertemu dengan orang lain maka profesi customer service (CS) atau marketing cocok dengan karakeristik Anda. Tetapi, jika Anda suka berada di belakang layar, profesi akuntan lebih sesuai daripada menjadi marketing. Pekerjaan yang tak sesuai dengan kepribadian akan menyiksa batin karena Anda melakukannya dengan terpaksa.

Banting Stir

Walau idealnya di usia 30 tahun Anda sudah menemukan karir impian dan berupaya mengejarnya, tetapi pada kenyataannya ada sebagian orang yang masih bingung menentukan arah sehingga di usia tersebut mereka malah harus alih profesi. Banting stir  boleh saja dengan mempertimbangkan berbagai hal. Yang penting Anda harus cerdik dan kalau bisa, tidak terlalu jauh dengan pengalaman sebelumnya, sehingga pengetahuan Anda tetap berguna.

Menurut Esther, ada tiga cara untuk alih profesi. Pertama, Anda langsung berubah haluan meski profesi itu sangat berlainan. Artinya, Anda harus memulai lagi dari nol. Anda kehilangan waktu dan juga pengalaman sebelumnya. ”Biasanya mereka yang masih single yang berani mengambil jalan ini,” katanya. Mereka belum memiliki tanggungjawab finansial terhadap keluarga, dalam arti menghidupi anak istri, sehingga berani mengambil resiko besar seperti ini.

Jalan kedua lebih berhati-hati dan moderat. ”Anda bisa menjadi part time dulu,” ujar dosen Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara itu. Dengan menjadi free lance, Anda memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang itu, sehingga ketika memutuskan untuk menekuni pekerjaan tersebut, Anda tak harus memulai dari nol lagi. Cara ini lebih aman dan banyak dilakukan orang.

Cara ketiga adalah dengan menempuh pendidikan pascasarjana yang sesuai dengan keinginannya. ”Ini yang paling banyak dilakukan,” tegas Esther. Cara cerdik ini ditempuh untuk mendapatkan pengakuan secara keilmuan, sehingga ketika memasuki dunia tersebut, Anda tak harus memulai dari nol. Walau tak berpengalam, tetapi ada pengakuan keilmuan karena memiliki gelar pascasarjana.

Melanjutkan S2

Meski banyak cara untuk mengembangkan karir, namun melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 adalah jalan yang paling banyak dipilih orang. Apalagi, beberapa perusahaan besar mewajibkan karyawannya memegang ijazah S2 untuk menduduki posisi manajer. Harus diakui, melanjutkan pascasarjana, adalah salah satu jalan yang cukup efektif untuk mendongkrak karir Anda. Pertanyaan berikutnya adalah kapan saat yang tepat untuk mengambil gelar master itu?

”Kalau untuk akademisi, sebaiknya setelah lulus S1 langsung melanjutkan ke S2,” jelas Esther. Namun, untuk profesi di luar itu, sebaiknya Anda menimba pengalaman dulu di dunia kerja yang sesungguhnya. Dengan pengalaman dua hingga tiga tahun, Anda sudah bisa mengambil pendidikan pascasarjana. Seandainya, saat kuliah Anda sudah bekerja, Anda bisa langsung meneruskan pendidikan. Pengalaman bekerja, menurut Esther, akan menambah skill dalam bersosialisasi dan mengambil keputusan. Hal-hal seperti ini tak bisa diperoleh melalui pendidikan formal.

Jika Anda melanjutkan ke jenjang pascasarjana tanpa dibekali pengalaman kerja, nantinya Anda akan miskin keahlian sehingga sulit mengambil keputusan penting. ”Beberapa teman di HRD sering mengeluhkan hal ini. Digaji S2 tak layak tetapi diberi gaji S1 kasihan,” ujar Esther yang juga aktif di Binus Career, sehingga memiliki relasi luas dengan praktisi sumber daya manusia dari berbagai perusahaan.

Menurut Esther, saat ini banyak mahasiswa S1 tingkat akhir yang kuliah sambil bekerja. Cara ini sangat efektif untuk mendongkrak karir. Saat lulus kuliah, mereka sudah memiliki pengalaman satu hingga dua tahun, sehingga bisa langsung melanjutkan ke jenjang berikutnya. Karir impian pun lebih cepat tercapai.

Saat mengambil S2 adalah waktu yang tepat untuk mereposisi profesi Anda. Jika pekerjaan saat ini dianggap tak sesuai dengan minat dan karakteristik, Anda bisa mengambil pendidikan lain yang sesuai dengan kepribadian. Walau berbeda jalur, Anda tetap memiliki keunggulan karena mempunyai wawasan keilmuan yang memadai. Pengalaman sebelumnya tetap berguna, terutama dalam menjalin relasi dan proses pengambilan keputusan. (Highlight Majalah JAKARTA 3636 edisi 56, September 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s