Pesona Museum di Tengah Kebun, Kemang, Jakarta Selatan


Jumat, 30 Juli 2010

Halaman Depan Museum

Walau janji saya untuk bertemu dengan Sjahrial Djalil baru dijadwalkan jam 11.00 siang, namun Wiesje, sekretaris Sjahrial yang hari itu menggantikan Sri, menelepon saya ke kantor. Dia ingin memastikan apakah saya jadi datang, sendiri atau berapa orang. Dia juga mengatakan kalau Sjahrial mau menemui saya untuk interview serta mengijinkan saya untuk memotret isi museum. Namun, Sjahrial tidak bersedia difoto.

Saya bergegas menyiapkan  berbagai hal, termasuk mengajak Mas Gunadi untuk segera berangkat. Sjahrial sangat disiplin. Keterlambatan semenit saja bisa menjadi petaka. Jam 10.00 kurang saya sudah menuju ke Jalan Kemang Timur 66, Jakarta Selatan. 10.35 saya sudah di depan museum. Sempat tanya ke beberapa orang karena nomor rumahnya sedikit tersembunyi. Ancar-ancarnya hanya di seberang masjid Nurul Huda yang memiliki menara putih menjulang tinggi.

Saat pintu gerbang dibuka, jalan menuju museum masih berkisar 70 meter. Kanan kiri jalan masuk itu dipenuhi tanaman. Di sela-sela konblok untuk lewat mobil, terdapat rumput hijau. Segar. Tak satu pun daun kering yang jatuh atau rumput yang menguning. Setelah parkir di depan tempayan (tempat air) dari abad 19 yang terletak di sisi kiri pintu masuk, Wiesje sudah menyambut kami. “Bapak sedang mandi. Silahkan kalau mau motret dulu. Janjinya jam 11.00 yah,” katanya.

Kebun dalam museum

Saya langsung mengeluarkan kamera, berjalan kesana-kemari untuk mengambil gambar dari berbagai angel. Kesan pertama, museum ini benar-benar tertata rapi. Bersih dan sangat terawat. Ketika asyik memotret, Sjahrial dan Mas Gun sudah asyik bercerita di beranda museum. Saya datang lalu duduk di kursi asal Perancis dari abad 19. “Saya senang Anda datang lebih cepat dari jadwal. Saya mau menemani karena dari daftar pertanyaan yang dikirim kemarin, Anda memiliki keprihatinan yang sama dengan saya,” ujar Sjahrial.

Kami bertiga kembali mengobrol, jauh dari draft pertanyaan yang saya ajukan kemarin. Malah, lebih banyak membahas hal-hal di luar konteks, mulai dari jalan-jalan Sjahrial ke berbagai Negara, sampai keprihatinannya pada Iwan Tirta, perancang busana yang juga sahabat karib Sjahrial, yang Jumat malam masuk rumah sakit (Sabtunya, Iwan Tirta meninggal dunia). Juga karya-karya Sjahrial dalam menciptakan tagline iklan saat dia masih menggeluti dunia advertising. Beberapa tagline yang menjadi legenda adalah Bagaimana pun Honda Lebih Unggul dan Lebih Baik Naik Vespa. “Sayang ya, vespa kurang laku,” lanjutnya. Saya tak bisa mendengarkan obrolan Sjahrial karena harus mengambil foto-foto museum. Untung saya mengajak Mas Gun, sehingga dia menjadi teman setia Sjahrial dan saya bisa berkelana keliling museum.

Patung Ganesha di tengah kebun

Di kanan dan kiri pintu masuk museum, terdapat tempayan dari abad ke-19. Tempayan besar itu berada di kolam kecil dengan air bening. Tak dalam hanya sekitar 10-15 cm. Di sekitar tempayan ada patung-patung ganesha dan benda purba lain. Di balik pintu, ada lagi patung ganesha di sisi kanan, serta cermin dan pernik-pernik lain. Lalu masuklah ke beranda museum yang diisi dengan meja, kursi, dan benda-benda lain yang berasal dari Italia, Perancis, dan juga berbagai daerah di Indonesia.

“Bahan bangunan museum ini juga memiliki sejarah. Bata merah ini berasal dari bangunan-bangunan di kota tua. Engsel pintu berasal dari penjara wanita Batavia abad 19,” jelasnya. Dari beranda kita bisa melihat kebun luas dengan rumput hijau. Beberapa ayam kate berseliweran di dekat patung ganesha besar (173 cm) yang  berasal dari Jawa Tengah pada abad 8. Patung itu adalah patung terbesar di zaman klasik.

Patung Narcissus

Dari beranda, kita bisa menelusuri serambi di sisi kanan atau kiri. Di sisi kiri terdapat patung ganesha dari zaman Majapahit, patung Budha atau patung merpati perunggu asal Iran. Juga pernik-pernik lain asal Inggris, dan Negara Eropa lainnya. Di serambi kiri, terutama di bagian belakang – dekat kolam renang,  terdapat tempayan dari berbagai zaman. Di dekat beranda, ada batu merah zaman Belanda yang dipasang sebagai ventilasi. Pintu dan jendela seperti zaman Belanda. Besar dan terbuat dari kayu tebal. Engsel yang dipakai pun bekas penjara wanita Batavia.

Setelah puas melihat serambi kiri, saya belok kanan menuju kolam renang. Di dekat kolam renang, ada bangunan kecil berisi patung-patung dari Inggris, Perancis, Italia dll. Ada loh patung Narcissus dari Italia. Menurut mitologi, Narcissus adalah pria tampan yang dilarang oleh ibunya untuk bercermin. Si ibu khawatir, Narcissus akan besar kepala jika mengetahui dirinya ganteng. Namun, Narcissus secara sembunyi-sembunyi mencoba bercermin. Tahu dirinya tampan luar biasa, dia memuja dirinya sendiri sampai akhir hayatnya. Inilah asal-usul kata narsis untuk menyebut mereka yang suka memuja dirinya.

Beruntung saya bisa leluasa memasuki seluruh area museum, dengan sepatu. Padahal, pengunjung biasa harus menitipkan tas, kamera, dan video ke staf museum dan menukar sepatu atau sandalnya dengan sandal khusus yang sudah disterilkan untuk melindungi benda-benda dari mikroba jahat yang bisa merusaknya. Saya pun bisa memotret apa saja, kecuali Sjahrial.

Patung Yesus, Perancis abad 19

Puas memotret, saya kembali mengobrol dengan Sjahrial. Menurutnya, museum ini memiliki lebih dari 2000 benda yang berasal dari 59 negara dan 20 propinsi di Indonesia. Benda-benda ini dikumpulkan selama puluhan tahun. Untuk merawat dan operasional museum, Sjahrial harus merogoh kocek sekitar Rp 30 juta per bulan. “Saya perfeksionis. Lihat saja, tak ada daun kering yang ada di kebun,” katanya sambil menunjuk kebun. Ada 59 pohon kelapa di kebun itu sehingga tampak asri. Serasa tak di Kemang saja.

Bagi yang ingin mengunjungi museum, harus pesan dulu melalui telepon 021-7196907 atau fax 021-7180054 dengan Sri atau Wiesje. Waktu kunjungan hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu, pukul 09.45 tepat hingga 15.00. Rombongan minimal 7 orang, maksimal 10 orang. Pengunjung tak boleh merokok, mengambil gambar, atau merekam. Tidak dipungut biaya. Malah diberi minum gratis. Museum menyediakan buku bagus seharga Rp 200.000. Harga ini sudah disubsidi yayasan karena di toko buku harganya lebih dari Rp 400.000. Gak rugi, karena disain dan foto di dalam buku bagus-bagus. Fotografer di buku itu Arbain Rambey (wartawan senior Kompas). (Sebagain foto museum bisa dilihat di http://flickr.com/photos/jharismoyo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s