Defensive Driving, Perlukah?


Jalanan di Jakarta bagai killing field. Keselamatan menjadi barang mewah. Perlu keahlian untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan agar terhindar dari kecelakaan. Guna meningkatkan kemampuan berkendara, lahirlah pelatihan defensive driving.

Jakarta Defensive Driving Consulting  (JDDC) memelopori pelatihan tersebut sejak 1991. “Kita yang pertama di Indonesia,” ujar Andry Berlianto, Communication and Admin Media JDDC. Sebenarnya pendiri JDDC Jusri Pulubuhu sudah merintis defensive driving sejak 1981, namun kesadaran masyarakat baru tumbuh pada awal 90-an. “Itu pun masih di terbatas di perusahaan oil & gas yang concern dengan safety. Driver sampai level manajer mengikuti pelatihan,” tambah Diki Lestariono, Training Coordinator JDDC.

Hampir 80% peserta pelatihan adalah karyawan perusahaan. Perorangan jarang yang mengikuti pendidikan tersebut karena umumnya mereka merasa mahir dalam mengemudi. “Padahal apa yang mereka lakukan belum tentu benar,” jelas Andry. Diki mencontohkan, saat mobil membelok umumnya tangan berseberangan arah. “Karena orangtua mengajari seperti itu,” lanjutnya. Cara ini salah dan berbahaya, khususnya kalau Anda mengemudi mobil yang memiliki air bag. Jika saat belok kendaraan mengalami kecelakaan, kantong udara akan muncul dari depan. “Kalau posisi tangan berseberangan, air bag akan mengenai tangan dan kemudian membentur wajah. Celaka jadinya,’ jelas Diki.

Pelatihan yang umunya dilakukan selama dua hari, akan mempelajri berbagai hal, dari teori sampai praktek. Pada awal pertemuan, kata Andry, JDDC akan membuka kesadaran bahwa jalan raya adalah medan perang dan lahan pembantaian. “Tiap hari ada kecelakaan yang merenggut nyawa,” katanya. Andry akan menjelaskan dengan data dan angka untuk meyakinkan peserta bahwa jalanan di Jakarta amat berbahaya bagi keselematan.

Setelah kesadaran muncul, baru masuk ke materi berikutnya yaitu pre trip inspection. Pemeriksaan kendaraan sebaiknya dilakukan secara berkala. Kalau tidak sanggup setiap hari, minimal seminggu sekali. Pakailah teori POWER. P adalah papers, yaitu dokumen kendaraan mulai dari SIM hingga STNK. Juga dana.  O ialah oil. Pastikan oli mesin, oli transmisi, oli power steering dan oli rem sudah sesuai ketentuan. Elemen W adalah water. Periksa air radiator, air aki, maupun air wiper karena berperan penting dalam perjalanan. E adalah elektrikal seperti lampu kendaraan. Sedangkan R adalah rubber, yaitu segala hal yang berhubungan dengan karet seperti ban dan fan belt.

Materi pokok pelatihan adalah bagaimana sikap dalam mengemudi. Banyak yang harus dipelajari, mulai dari cara duduk dan memegang kemudi hingga tips menghadapi ban pecah saat berjalan cepat. Juga bagaimana mengantisipasi kecelakaan yang mungkin terjadi. “Kelihatannya sepele, tetapi ketika hal itu kita tanyakan ke peserta banyak yang tidak tahu,” jelas Diki.  Sikap dan cara mengemudi juga berkembang, mengikuti kemajuan teknologi. Ini yang kadang dilupakan orang. Mereka mengemdi dengan cara yang sama selama puluhan tahun, padahal kendaraan yang mereka pakai berteknologi canggih dan butuh penyesuaian. Untuk itu up grade pengetahuan tentang mengemudi dengan mengikuti pelatihan defensive driving. Keselamatan mahal harganya! (Rubrik education majalah JAKARTA 3636 edisi 54 Juli 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s