Air mata Toyota


Akibat krisis angkat kaki

Biaya balapan yang terlampau tinggi memaksa Toyota menarik diri dari Formula 1 musim 2010. Krisis finansial membuat Toyota nekat menghentikan kontrak yang seharusnya baru berakhir 2012.

Awal November 2009, Tim Prinsipal Toyota F1 Tadashi Yamashina, mengumumkan pengunduran diri timnya. Sambil berurai air mata, Tadashi mengatakan Toyota akan fokus ke corn business untuk menyelamatkan perusahaan dari krisis global. Air mata Tadashi bukan air mata buaya. Dia benar-benar terpukul dengan keputusan tersebut. Sebab Maret 2009, dia menepis isu Toyota akan menarik diri. Malah dia sempat berharap kontrak Toyota akan diperpanjang jika prestasinya meningkat. Optimisme Tadashi dilandasi fakta bahwa penjualan mobil Toyota di seluruh dunia meraih peringkat pertama karena keikutsertaan mereka di ajang bergengsi ini.

Meski penjualan meningkat, namun manajemen Toyota Motor Company (TMC) terus ”menekan” Tadeshi agar mengakhiri kiprahnya di Formula 1. Apalagi sponsor utama mereka Panasonic tengah mengalami krisis finansial. Upaya Tadeshi untuk menekan budget pengeluaran tak mampu mengubah keputusan manajemen. ”Tak ada pilihan lain. Ini benar-benar menyakitkan,” kata Presiden Toyota Akio Toyoda saat menggelar jumpa pers. Kondisi keuangan Toyota memburuk sejak Maret 2009. Sebagai pengekspor, seperti halnya perusahaan Jepang lainnya, Toyota terpukul dengan penguatan mata uang Yen.

Besarnya biaya balapan memang menjadi isu panas di kalangan peserta. FIA pun tanggap dan mengeluarkan aturan yang membatasi besarnya budget untuk musim 2010. Setiap tim maksimal 40 juta poundsterling (sekitar Rp 635,267 miliar). Itu hanya engine cost loh! Belum termasuk gaji pembalap yang super duper gedenya, biasa promosi, denda, biaya rumah sakit dan biaya lain-lain. Biaya lain ini bisa segede engine cost juga.

Dengan pengunduran diri Toyota, Formula 1 musim 2010 tak diikuti pabrikan asal Jepang. Honda sudah lebih dulu cabut sejak Desember. Yang tersisa tinggal Ferrari, Mercedes dan Renault. Toyota mulai tampil di F1 pada 2002 tetapi belum pernah memenangi seri grand prix. Prestasi terbaik Toyota terjadi pada musim 2005 saat Jarno Trulli finish di peringkat dua di Malaysia dan Bahrain. Akankah Toyota tinggal kenangan? (Majalah 3636 edisi 47, Desember 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s