Banyak jalan menuju Bandung


Once tak menyangka, teman lamanya itu telah berubah. Bukan hanya penampilan fisiknya yang lebih trendy jauh dari kesan ndeso, kampungan dan agraris. Namun lebih dari itu. Minul pun mengubah haluan spiritualnya. Menjadi western dan terkesan modern. Dia tak lagi menutupi apa yang dulu ditutupnya rapat-rapat.

Sebenarnya Once tak mempermasalahkan perubahan itu. Dibesarkan dalam alam kejawen, Once menghargai perbedaan dan mengutamakan keharmonisan dengan sesama. Once yakin seyakin-yakinnya, semua aliran kepercayaan dan religi bermuara pada satu hal: Tuhan yang maha Esa. Ibarat roda, aliran dan religi hanyalah jari-jari yang mengacu ke satu titik: as roda. Toh, semua ajaran menyarankan pada kebaikan dan memerangi kebathilan.

Tak ada yang mengajarkan permusuhan, apalagi memerangi “mereka” sejauh mereka tidak mengganggu “kita”.  Seharusnya, prinsip Once ini tidak akan menimbulkan perasaan kecewa, gelo, masghul dengan apa yang dialami rekannya, Minul.

Namun entah mengapa hati kecil Once terus bertanya. Mengapa? Ada apa? Haruskah itu terjadi? Pertanyaan itu terus menyeruak karena Once ingat betapa hebatnya Minul menghadapi Once dan rekan-rekannya yang sering berbuat resek. Minul tak jera-jeranya mengingatkan pada Once dkk agar eling marang Gusti Kang Murbeng Dumadi. Once percaya hingga detik inipun Minul tetap menjalankan ritual spiritualnya secara konsisten.

Perasaan kecewa Once muncul setelah dia ingat pepatah Banyak Jalan Menuju ke Roma. Karena membayangkan Roma terlampau jauh, Once cukup membandingkan dengan Bandung. Misalnya, ketika Minual -dengan mengambil start Jakarta, akan pergi pulang ke Bandung. Dia hanya diberi waktu 10 jam.

Jalan yang paling cepat tentunya melalui tol Cipularang. Hanya butuh waktu maksimal tiga jam, yang berarti enam jam PP. Empat jam bisa dipaki untuk keliling Bandung, entah ke Braga atau malah ke kawasan berhawa dingin di Lembang.

Minul pun memilih jalan tersebut. Setelah melewati Km 66 dan mengarah ke Bandung, tiba-tiba Minul berubah pikiran. “Lewat Puncak asyik nih. Bisa lihat pemandangan indah dan makan jagung bakar di pinggir jalan,” gumamnya. Dia pun bantung stir,mencari pintu keluar dan balik ke arah Jakarta menuju Puncak.

Tak salah memang. Ke Bandung melalui jalur Puncak – Cianjur tidak juga jauh. Tetapi kalau keputusan itu diambil setelah dia menempuh separo perjalanan di jalur lain, tentu menjadi beda. Membuang waktu dan energi. Tak lagi memegang prinsip efektif dan efesien. Waktu sepuluh jam banyak yang terbuang di jalanan, sehingga tak bisa menikmati keindahan Bandung secara sempurna.

Namun, Minul bukanlah Once. Siapa tahu Minul bisa memperoleh kesenangan saat menempuh perjalanan sehingga tak perlu lagi mendapat kebahagiaan di Bandung? Bisa saja dia mengeksploitas Puncak dan Cianjur sehinggga di Bandung cukup absen dan tak butuh hiburan lagi. Once pun manggut-manggut. “Mengapa aku “memaksakan” cara berpikirku untuk melihat kasus Minul?” gumamnya dalam hati. Lebih baik tidur. Toh, tidur juga sebagian dari ibadah juga. Zz…zzz….zzzz..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s