Majelis cinta


Mencari cinta sejati
Mencari cinta sejati

Suatu siang, Dewa yang dulu dikenal sebagai mahasiswa badung, menelepon dan mengajak Once, teman dekatnya sesama bengal, untuk menghadiri dzikir di sebuah tempat di Wijaya Center, Blok M, Jakarta Selatan. Once tak langsung mengiyakan, tetapi meminta alamat website majelis itu.

Once memang kritis untuk bergabung dalam suatu organisasi. Semasa kuliah pun dia tak mau bergabung ke organisasi mahasiswa underbow sebuah parpol meski secara intens mereka bergumul dan bertukar pikiran dengan mereka. Apalagi menjadi anggota organisasi keagamaan. Takut di cap ekstrim, baik kanan maupun kiri. Maklum, di masa orde baru masyarakat menjadi was-was untuk berserikat dan berkumpul.

Karena itu, sebelum hadir di majelis dzikir, Once membuka webiste organisasi itu. Juga mengikuti mailing list-nya. Hanya, Once kecewa karena mailing list nya lebih banyak membahas ceramah dari guru mereka yang tinggal di AS, ketimbang menjawab pertanyaan dari anggota baru. Ini berbeda dengan milis lain, misalnya milis otomotif dimana Once menjadi anggotanya. “Kok malah liat milis. Praktik dan rasakan kalbumu,” rayu Dewa.

Once tetap enggan datang ke tempat itu. Dia membayangkan di tempat dimana anggotanya memakai jubah dan kupluk ala Alibaba serta berjenggot panjang, anggota majelis pasti berpikir ekstrim. “Kalau disuruh baca Alquran gimana?” kata Once saat menolak ajakan Dewa untuk datang ke majelis tersebut.

“Tenang saja. Apalagi aku. Baca Alif saja ga bisa,” bujuk Dewa. Dia meyakinkan buku panduan ada dua versi, berbahasa Arab dan Latin. Pilih sesuai kemampuan dan selera. Tak enak dengan rayuan Dewa, Once sanggup menghadiri dzikir malam itu.

Dengan berkaos dan celana jeans, baju sehari-harinya, Once masuk ke ruko tersebut. Ternyata, baju mereka juga beragam. Ada yang bergamis, bersurban, atau baju dan celana kerja serta cukup berkaos dan celana jeans seperti Once.

Sebelum dzikir dan whirling, ustadz meminta kepada jemaah untuk membaca surat Al Fatihah yang ditujukan kepada Nabi, umat muslim pada umumnya, orangtua dan saudara serta umat beragama lain agar mereka juga mendapat rahmat dan hidayah dari Allah. Once lega, meski atribut mereka terkesan “sangar” tetapi mereka mengembangkan toleransi luar biasa dengan membacakan Al Fatihah untuk umat beragama lain. Selesai dzikir, dengan keringat bercucuran, Once membeli buku panduan berhuruf Latin. Dia ingin membagi cintanya kepada sesama, tak terbatas pada muslim saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s