GENGSI SMARTPHONE


Menunjukkan kelas sosial pemakainya
Menunjukkan kelas sosial pemakainya

Kalau hari gini masih menenteng laptop untuk hang out, Anda sudah ketinggalan jaman. Di tempat-tempat gaul –mal dan café- laptop mulai ditinggalkan. Mereka beralih ke smartphone seperti BlackBerry, iPhone atau Nokia E Series. Bisa push email, buka facebook, chatting dan telepon.

Sihir BlackBerry mulai terasa saat kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat. Salah satu kandidat yang akhirnya menjadi presiden negeri adi daya itu, Barrack Obama, selalu menenteng BlackBerry kemana pun pergi. BlackBerry 8830 World Edition Smartphone selalu bertengger di sarung ponsel kulit warna hitam yang diselipkan di ikat pinggang sebelah kiri.

Dengan ponsel pintar ini, Obama bisa menjalin komunikasi langsung dengan publik. Dia berkampanye melalui situs jejaring sosial yang kini menjadi virus wajib bagi setiap orang, facebook. Ponsel buatan Research in Motion (RIM) Kanada ini memberi keleluasan kepada Obama untuk meng-update apa yang dipikirkan dan dirasakan saat itu dan sharing dengan semua orang.

Bahkan, setelah menjadi presiden AS Obama tak mau menanggalkan BlackBerry. Akibatnya, Gedung Putih harus melengkapi BlackBerry Obama dengan perangkat keamanan khusus agar tak bisa dibobol lawan. “Kalau menggunakan BlackBerry biasa, posisi presiden bisa diketahui musuh karena ponsel itu dilengkapi GPS. Bila ponsel dibobol, posisi dan juga ketinggian presiden bisa bocor,” jelas seorang petugas keamanan AS. Akhirnya, ponsel “BarrackBerry” hanya bisa dipakai untuk kalangan terbatas.

Virus BlackBerry bukan hanya menyerang Amerika dan Eropa. Di Indonesia, virus ini juga merajalela. Jumlah pemakai terus meningkat. Bukan hanya operator yang menyediakan ponsel ini. Di Roxy Mas, pusat penjualan ponsel terbesar di Indonesia, BlackBerry menjadi primadona. Malah kabarnya, penjualan oleh distributor non operator jumlahnya bisa lima kali lipat.

Pemakai Blackerry pun kian beragam. Bukan hanya menjadi kebutuhan para profesional atau politisi. Mahasiswa dan ibu rumah tangga pun sudah banyak yang menenteng ponsel pintar itu. Fungsi ponsel pintar pun kian berkembang, bukan sekedar menjalin komunikasi dengan client, tetapi juga simbol kesuksesan. Orang belum ‘berhasil’ jika tak menenteng BlackBerry atau iPhone. “Biasa pakai Bold, jadi susah nih pakai yang ini,” ujar seseorang sambil memencet-mencet BlakBerry Storm keluaran terbaru. Sebenarnya dia hanya ingin mengatakan kalau dirinya adalah pemakai BlakBerry sejak lama. Sudah kaya sejak dulu!

Membantu profesional
Sesuai namanya smartphone sudah dilengkapi berbagai aplikasi guna mendukung pekerjaan kantor dan juga memberi hiburan. Nokia yang meluncurkan E-Series untuk kalangan pebisnis, menggunkan system operasi Symbian dengan ratusan ribu aplikasi pendukung. Aplikasi yang menjadi andalan Nokia adalah Quickoffice. Aplikasi ini memiliki kemampuan auto find and replace word dan advanced formatting. Ada pula aplikasi kamus Inggris – Mandarin. Sedangkan untuk koneksi ke internet, bisa memakai Wi-Fi atau koneksi ke jaringan HSDPA. Dilengkapi pula dengan fasilitas email.

Sementara BlackBerry yang menjadi buah bibir dalam dua tahun terakhir terus mengembangkan ponsel baru dengan aplikasi-aplikasi jitu. Sebelumnya perusahaan asal kota kecil di Kanada, Waterloo, ini dikenal sebagai pembuat ponsel canggih tapi dengan desain konvensional. Namun sejak peluncuran BlackBerry 8100 Pearl awal September 2006, persepsi itu berubah. Walau tetap berukuran besar dan tebal, tapi fitur multi media pada ponsel ini berhasil mendongkrak penjualan. Seri ini meraup sukses di pasar.

Jim Balsillie, Co-CEO RIM mengklaim pengguna BlackBerry sudah melebihi angka 20 juta dan tersebar di lebih dari 400 operator di seluruh dunia. Jim yakin pelanggannya akan bertambah sejalan dengan inovasi baru di perusahaannya. Guna memenuhi kebutuhan kalangan professional, BlackBerry meluncurkan seri Storm. Seri ini bisa beroperasi di jaringan GSM dan CDMA. Qwerty keyboard yang selama ini menjadi ciri khas Blakberry dibuang, diganti dengan virtual keyboard SureType yang disempurnakan dengan SurePress. Melalui SurePress, seolah-olah Anda memencet tombol nyata karena dibalik layar LCD Storm dilengkapi dengan suspensi.

Tak mau ketinggalan dengan pesaingnya, Apple meluncurkan iPhone 3G akhir Maret lalu. Ponsel pintar ini dilengkapi 100 fitur baru, termasuk fitur-fitur yang belum tersedia di seri sebelumnya. Perusahaan asal AS ini juga mengembangkan 1000 API (Application Programming Interface ) tambahan yang terdapat pada Software Development Kit ayang bisa di-download melalui situs aplle.com.

Kalau dicermati, hampir semua smartphone mempunyai aplikasi-aplikasi canggih yang sangat membantu kebutuhan komunikasi data dan suara. Selain bisa bertelepon, ponsel ini bisa pula membuka file dalam bentuk world, excel, maupun spreadsheet. Bisa chatting dan membuka email. Mudah pula koneksi ke internet sehingga bisa terus-menerus mengubah status di facebook. Yang jelas, dengan bantuan ponsel ini urusan kantor bisa dikerjakan kapan dan dimana saja. Dan tentunya tetap menjaga image pemakainya.

Mendongkrak gengsi
Tak dipungkiri kehadiran smartphone, baik E-Series, BlakBerry, iPhone ataupun merek lainnya sangat membantu untuk menyelesaikan pekerjaan kapan saja. Hanya, tak semua orang memanfaatkan secara optimal ponsel pintar ini. Sebagian dari mereka membeli BlackBerry dan sejenisnya untuk mendongkrak gengsi. Dengan memakai ponsel berbandrol di atas lima juta rupiah, image pun terangkat. Mereka terlihat seperti orang sibuk. Sebentar-sebentar melirik layar ponsel lalu memencet-mencet tombol, kemudian tersenyum. Mereka menjadi ‘autis’ dan asyik dengan dunianya sendiri.

Padahal, apa yang mereka baca belum tentu email dari client yang membahas sebuah proyek. Kadang (malah lebih sering), mereka hanya membuka facebook atau chatting dengan sesama pemakai BlackBerry . Dan yang dibahas pun soal sepele. Jauh dari urusan kerja. ”Ntar malem enaknya ngapain ya?” tulis seorang eksekutif di status facebook-nya. Ada pula yang menulis, ”Nitip beliin gudeg. Kena macet nih.” Smartphone memudahkan orang untuk mengakses facebook, kapan dan dimana pun.

Meski demikian kemudahan seperti itu belum tentu dimanfaatkan oleh pemiliki ponsel. Sekitar dua persen pembeli BlackBerry tak mengaktifkan BlackBerry Service. Mereka menggunakan ponsel ini untuk bergaya. Toh, kalau hanya untuk telepon dan SMS tetap bisa dipakai. Fadillah, mahasiswi di Palembang, mengatakan dia merasa wajib membeli BlackBerry karena hampir semua teman satu gank-nya memiliki ponsel ini, walau jarang diaktifkan. “Saya wajib punya untuk mejaga level ekonomi,” tandasnya.

Guna mendorong pemilik BlackBerry untuk mengaktifkan BlackBerry Service, operator pun mulai pasang strategi baru. Mereka tak memaksa pengguna BlackBerry berlangganan. Pemakai kartu pra bayar pun bisa mengaktifkan layanan BlackBerry sesukanya. Indosat bukan hanya menawarkan paket bulanan, tetapi juga mingguan. Malah, XL bisa melayani BlackBerry Service untuk sehari dengan tarif lima ribu rupiah. Penwaran ini, tentunya, untuk mendorong pemakai BlackBerry mengaktifkan layanan yang ada. (3636 Magz edisi 40, Mei 2009)

3 thoughts on “GENGSI SMARTPHONE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s