Ujian nikmat


Cobaan, ujian, atau godaan selalu diidentikkan dengan kesusahan, derita, nestapa, duka lara dan hal-hal lain yang berkonotasi negatif. Padahal, ujian yang diberikan oleh Allah SWT, menurut para mursyid, bukan hanya hal-hal yang menyedihkan. “Waktu di Kuala Lumpur saya duduk di sebelah Maulana Syeih Hisyam (Ketua Dewan Muslim AS, guru sufi Naqsybandi Haqqani). Setiap mendapat hidangan, makanan itu diberikan pada saya. Makin cepat saya menghabiskan makanan, makin cepat pula Syeih memberikan snack berikutnya. Sampai suatu ketika saya menyerah karena kekenyangan,” ujar Syeih Arif Hamdani, seorang guru sufi. “Diberi kenikmatan saja kamu menyerah. Bagaimana kalau diuji dengan penderitaan?” tanya Syeih Hisyam.

Mendengar penuturan Syeih Arif, saya ingat ketika menghadiri dzikir Syeih Hisyam di masjid Bank Indonesia 26 Mei 2009. Ketika itu Maulana Hisyam melakukan kunjungan ke Jakarta dan beberapa kota (Bogor, Sukabumi, Pekalongan, Semarang dll). Karena saya tidak bisa (mungkin juga masih malas) mengikuti tur itu dengan berbagai alasan seperti pekerjaan dsb, saya memutuskan untuk hadir saat di BI. Di sini, peluang untuk melihat dan bersalaman dengan Maulana lebih besar karena pengunjugnya relatif lebih sedikit.

Selepas kerja, Krisna -temen kuliah yang kini mendalami sufi- mengajakku berangkat lebih cepat sehingga magrib sudah berada di sana. Kami pun memilih barisan depan agar bisa memandang Maulana dengan leluasa. Memang, saat Maulana tiba, kami hanya duduk kira-kira tiga meter dari sang mursyid. Bahkan, kami bersebelahan dengan asisten Maulana.

Dzikir dimulai setelah sholat Isya dipimpin Maulana. Meski sepuh, suara Maulana masih menggema, tak kalah dengan musisi rock yang masih muda. Sekitar pukul sembilan malam, saya tak betah lagi duduk bersila. Pinggang sakit, kaki semutan. “Kok lama banget ya dzikirnya,” gerutuku dalam hati. Semutan makin menjadi. Selonjor tak bisa. Geser atau pindah tempat apalagi. Di belekangku, ibu-ibu merangsek ingin melihat Maulana dari dekat. Mudah-mudahan segera hadrah, dzikir sambil berdiri seperti di cafe rumi. Namun nyatanya, tak ada acara berdiri atau memutar. Dzikir mesti duduk sampai pukul 09.30.

Saat Maulana membaiat dengan membaca doa lalu menghamburkan permen yang sudah diberi doa, saat itulah kesempatanku beringsut, mencari tempat yang lebih leluasa untuk ‘ngeluk boyok’. Saya menghela napas dan memutar badan di pagar samping tempat imam. Dari situlah jalan keluar masjid melalui pintu belakang.

Jemaah berebut permen dan bersalaman dengan Maulana. Saya cuek dan bersandar di besi pagar. Maulana pun berjalan pulang. Tak disangka, beliau lewat pagar tempat saya berdiri. Di situ Maulana berdiri, memberi senyum dan menyalami saya. Tak lama kemudian, jemaah pun mengejar Maulana. Permen kembali dihamburkan. Dan salah satunya nyangkut di tangan saya. Yah, saya mendapat permen dan bisa bersalaman tanpa upaya yang berarti.

Padahal, setelah Maulana meninggalkan Indonesia, beberapa jemaah belum sempat bersalaman. Padahal, mereka sudah menghadiri gala dinner di hotel berbintang. Jadwal maulana yang padat ditambah acara dadakan dari para capres membuat jemaah sulit melihat dari dekat maulana. Mendengar penuturan para jemaah yang sulit menyentuh tangan maulana, saya menjadi ingat penuturan Syeih Arif tadi. Jangan-jangan Allah SWT sedang menguji saya dengan memberi kemudahan bertemu Maulana karena saya belum bisa mengikuti ajaran-ajarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s