Pasrah pada guru


Dalam beberapa pertemuan, seorang ustadz mengatakan agar murid mengikuti perintah guru, tanpa perlu bertanya dan mengetahui apa latar belakang perintah itu. Pasrah total pada guru karena guru tak mungkin akan menyesatkan para muridnya. ”Nanti pada saatnya kamu akan mengetahui makna apa dibalik perintah itu,” kata ustadz menjelaskan.

Sebagian murid, menurut cerita, bisa mengikuti petunjuk itu. Mereka tak peduli kapan teka-teki Illahi terkuak. Mungkin akan tersingkap ratusan tahun kemudian setelah sang murid menemui ajalnya. Namun, bagi sebagian murid, nasehat sang guru belum tentu bisa diikuti seluruhnya. Tatkala rasionalitas bicara, perintah yang tak masuk akal bisa ditentang. Mungkinkah para pendosa ini masih memiliki ego tinggi sehingga menggugat gurunya? Walahuallam.

Namun, ada seorang guru bercerita ketika dia kedatangan guru besarnya dari negeri nan jauh di mata. Guru itu mengikuti semua gerak-gerik wali Allah itu. Bahkan, ketika sang Wali menggaruk tangan sebelum sholat, sang guru mengikuti. Padahal, dia tak tahu mengapa harus menggaruk tangan. ”Saya tak tahu apa maksudnya. Tapi sebagai murid kita harus mengikuti gerak-gerik guru,” lanjutnya.

Aku duduk termenung. Mungkin saja Wali Allah itu menggaruk tangan karena gatal. Mengapa kita mesti mengikutinya kalau tangan kita tidak gatal. Lagi pula, tak ada perintah yang mengharuskan kita menggaruk tangan sebelum menjalankan sholat. Di saat yang lain manggut-manggut mendengar tausyiah itu, aku malah makin bingung…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s