Europe’s worst hooligans


Hooligan di Eropa selalu dikaitkan dengan pendukung asal Inggris. Namun, pada kenyataannya, hooligan menyebar di berbagai negeri. Berikut ini hooligan terburuk di benua Eropa.

1. Paris St-Germain, Perancis
Seorang pendukung Paris St-Germain tewas dan puluhan lainnya cedera saat terjadi bentrok antara fans PSG dengan polisi. Fans PSG mengamuk menyusul kekalahan 4-2 atas tim Israel, Hapoel Tel Aviv, di ajang Piala Uefa. Polisi melindungi fans Hapoel asal Perancis yang diserang dua kelompok fans PSG, Boulogne Boys dan Tigres Mystic.

2. Chelsea, London, Inggris
Kelompok suporter Chelsea, Headhunters, diyakini sebagai biang kerusuhan. Kelompok rasialis ini menjalin perseteruan abadi dengan fans Millwall. Headhunters memiliki jaringan luas dan sering bekerjasama dengan kelompok ekstrim lainnya seperti Combat 18 dan National Front.

3. Feyenoord, Rotterdam, Belanda
SCF, salah satu kelompok pendukung Feyenoord, sangat ditakuti di Belanda. Dalam insiden “Battle of Beverwijk” (1997), SCF menyerang ratusan suporter Ajax. Salah seorang fans Ajax sampai kehilangan istri tercintanya. Di ajang Piala Uefa, SCF yang selalu usung banner bertuliskan “Rotterdam Hooligans” ini pernah menyerang pendukung klub Nancy, sampai polisi harus menyemprotkan gas air mata.

4. Red Star Belgrade, Serbia
Tiap kali terjadi derby antara Red Star vs Partizan, suasana kota Belgrade memanas. Pendukung Red Star senang bikin onar. Bahkan, beberapa di antara mereka membawa senapan. Jika penampilan pemain Red Star jelek, mereka tak segan-segan menembaki mobil para pemain. Pantas saja jumlah penonton klub ini terus menurun.

5. Den Bosch, Den Bosch, Belanda
Pada 16 Desember 2000 pendukung Den Bosch mengamuk. Mereka membakar tempat parkir, gedung-gedung, termasuk palang merah. Tak kurang dari 400 polisi dengan anjing pelacak dan helikopter meredam kerususahan di Den Bosch, 60 km dari Amsterdam. Beberapa fans menabrakkan kendarannya ke mobil polisi. Seorang hooligan tewas dan beberapa lainnya cedera.

6. Inter, Milan, Italia
Pendukung sayap kiri Inter (The Boys dan The Vikings) sering bentrok dengan pendukung sayap kanan Inter. Di perempatfinal Liga Champions 2005 melawan Milan, pertandingan dihentikan karena kiper Milan Dida terkena lemparan kembang api. Pada 2006, Inter pernah dipaksa bermain di stadion tertutup karena pendukungnya bikin rusuh saat Inter berhadapan dengan Atalanta. (DH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s