Eric the King, footballer and actor


Eric Cantona menjadi legenda di Manchester United. Pemain asal Perancis ini bukan hanya lihai menggiring si kulit bundar, tetapi juga pandai melakukan tendangan kungfu ke pendukung lawan yang mengejeknya. Namun, siapa sangka dia juga pandai berakting di depan kamera.

Pertengahan tahun 1990-an, sepakbola di Inggris gegap gempita dengan lahirnya bintang kontroversi bernama lengkap Eric Daniel Pierre Cantona. Pria kelahiran Paris, 24 Mei 1966 ini piawai menjebol gawang lawan sehingga selama lima tahun berkarir di Old Trafford (1992-1997), Manchester United berhasil merebut empat kali gelar juara Liga Premier, termasuk dua kali meraih Piala Liga dan Piala FA. Menakjubkan!

Debut awal Cantona di Old Trafford, sebenarnya, kurang mencorong. Namanya mulai meroket pada tahun 1993, saat perfoma penyerang utama Brian McClair kurang meyakinkan, sementara striker lainnya, Dion Dublin, patah tulang paha. Cantona segera mengambil alih peran striker utama dan menyumbang gelar Liga Premier. Tahun 1994, dia terpilih menjadi Pemain Terbaik Inggris.

Nama Cantona terus melambung. Puncaknya pada 25 Januari 1995, saat Setan Merah bertemu Crystal Palace. Cantona diusir wasit karena menendang bek Palace, Richard Shaw. Amarah Cantona meledak karena wasit tidak memberi hukuman apapun pada Shaw yang menarik baju Cantona. Ternyata, amarah Cantona tidak berhenti di situ. Di pinggir lapangan dia malah melancarkan tendangan kungfu kepada pendukung Palace, Matthew Simmons, yang terus mengejeknya. Akibat ulahnya ini, Cantona dilarang merumput sampai Oktober 1995. Blackburn merebut gelar Liga Premier dari tangan MU.

Bukan hanya di MU, selagi membela Marseille, Cantona juga temperamental. Januari 1989, saat Marseille menggelar pertandingan persahabatan melawan Torpedo Moscow, dia membuang kostumnya karena diganti. Cantona diganjar larangan main selama sebulan. Beberapa bulan setelah sanksinya berakhir dia berulah lagi. Cantona kembali terkena sanksi karena bertengkar dengan pelatih timnas Perancis.

Pilih akting

Setelah pensiun sebagai pemain, Cantona tak berniat menjadi pelatih sepakbola. Bahkan, ketika survey di Inggris pada tahun 2000 meminta dirinya menjadi pelatih di Old Trafford, Cantona bergeming. Dia memilih menjadi aktor, baik sebagai bintang iklan, pemain film maupun sutradara. Dia pernah membintangi iklan Nike dan menyutradarai film pendek Apporte-moi ton amour (2002).

Debutnya di dunia layer lebar dimulai tahun 1995. Di film Le bonheur est dans le pre (Happiness is in the Field) Cantona berperan sebagai Lionel. Perannya dalam film tersebut belum seberapa. Pada tahun yang sama, Cantona juga menjadi salah satu pemain dalam film Eleven Men Against Eleven. Tahun 1998, Cantona terlibat dalam dua film, Elizabeth (berperan sebagai Monsieur de Foix) dan Mookie (berperan sebagai Antoine Capella). Namun peran Cantona belum menonjol. Perannya mulai diperhitungkan saat dia menjadi Jo Sardi, seorang petinju beringas, dalam film Les Enfants du Marais (1999).

Hingga kini Cantona masih menggeluti dunia akting. Beberapa film yang melibatkan mantan pemain timnas Perancis ini adalah La grande vie! (The High Life, 2001, berperan sebagai Joueur de petanque 2), L’Outremangeur (The Over-Eater, 2003, berperan sebagai Selena), Les Clefs de bagnole (The Car Keys 2003), La vie est a nous (2005), Une belle histoire (2005), Lisa et le pilote d’avion (2007), Le Deuxieme souffle (Second Wind, 2007) dan JACK SAYS (2007). (DH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s