Kadang nulis Badminton juga kok…


Taufik Hidayat

Antara Emosi dan Prestasi

Sejak menggeluti bulutungakis, Taufik menjadi pribadi yang ‘unik’. Dia bukan lagi pemalu dan suka mengalah, seperti ketika Taufik duduk di bangku SD Negeri Pengalengan I, Jawa Barat . Taufik menjadi pribadi yang mudah tersulut emosinya, baik saat bertanding maupun di luar lapangan.

Keberhasilan Taufik Hidayat menyabet gelar juara tunggal putra di Kejuaraan Asia 2007 di Johor Baru, Malaysia April lalu menyelamatkan wajah bulutangkis Indonesia. Taufik Hidayat tak kehilangan pamornya di tengah-tengah dominasi pemain China.

Hingga kini Taufik Hidayat tetap menjadi andalan Indonesia dalam berbagai turnamen. Di Piala Sudirman yang akan diselenggarakan di Glasgow, Skotlandia, 10–17 Juni 2007, suami Ami Gumelar ini tetap menjadi tumpuan untuk meraih poin dan menggondol trofi tersebut. Maklum, sejak kejuaraan ini digelar tahun 1989, Indonesia baru satu kali menjadi juara. Selebihnya didominasi oleh Korea Selatan dan China.

Menjadikan Taufik sebagai tumpuan meraih gelar tidaklah salah. Pemain asal Pandeglang ini pernah menggondol medali emas Olimpiade Athena 2004 serta juara dunia 2005. Belum lagi berbagai gelar di kejuaraan super series. Secara teknis, kemampuan Taufik tak perlu diragukan lagi. Hanya saja, PBSI harus bisa menjaga mood Taufik agar tetap prima untuk bertanding.

Sejak menggeluti bulutungakis, Taufik menjadi pribadi yang ‘unik’. Dia bukan lagi pemalu dan suka mengalah, seperti ketika Taufik duduk di bangku SD Negeri Pengalengan I, Jawa Barat . Taufik menjadi pribadi yang mudah tersulut emosinya, baik saat bertanding maupun di luar lapangan.

Tentu, publik masih ingat bagaimana Taufik tidak mau melanjutkan pertandingan final nomor beregu putra di Asian Games 2002. Atau bagaimana Taufik dengan entengnya memukul sopir pribadi Ahmad Kalla, ketika mobilnya bersenggolan. Taufik pun pernah berseteru dengan pelatihnya di PBSI, Joko Supriyanto.

Setelah menikah dengan putri Agum Gumelar, sikap Taufik tak berubah. Dia tetap vokal dan melakukan protes jika menurutnya ada sesuatu yang kurang sreg. Akibat kebiasaan tersebut, Taufik tak tampil di tiga super series yaitu di Korea, All England, dan Swiss. Padahal, di dua turnamen Eropa itu, nama Taufik sudah didaftarkan. Karena Taufik absen di dua seri itu, PBSI pun kena penalti. Taufik tidak berangkat ke Birmingham dan Basel sebagai bentuk protes terhadap PBSI karena PBSI terkesan menawar hukuman terhadap pemain yang tampil ke Papua walaupun sudah dilarang.

Meski absen di tiga seri, tetapi Taufik mampu merebut gelar di Kejuaraan Asia. Inilah bukti kalau kemampuan teknik Taufik tidak berbeda dengan pemain top dunia. Hanya setiap kali seorang pemain tampil di lapangan, faktor motivasi, kondisi serta koordinasi fisik dan mental akan memegang peranan. Disinlah pentingnya peran pelatih.

Beruntung, Taufik ditangani oleh pelatih yang bisa memahami karakter ‘unik’-nya, yaitu Mulyo Handoyo. Mulyo pula yang mengantarkan Taufik merebut medali emas Olimpiade Athena 2004. Kita berharap, Mulyo bisa mengeksplorasi semua kemampuan yang ada pada Taufik agar prestasinya tetap mengkilap sehingga bisa membawa pulang Piala Sudirman ke tanah air. (DH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s