Mengintip Gunung Merapi dari Ketep Pass


Meski menyukai hawa sejuk pegunungan tetapi saya belum pernah  mendaki gunung. Bayangan rasa capai selalu menghantui saya. Beruntung, saat liburan tiba saya sempat mengunjungi Ketep Pass, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Di tempat wisata yang diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 17 Oktober 2002 itu saya bisa mengetahui semua hal tentang gunung. Yang menyenangkan, untuk sampai ke lokasi itu, saya hanya butuh waktu setengah jam dari pusat kota Magelang karena jaraknya tak lebih dari 30 km. Jalan menuju lokasi yang terletak di antara Magelang dan Boyolali itu juga mulus. Hanya, jalannya terus menanjak karena Ketep Pass terletak pada ketinggian 1200 meter dpl.

Meski saya sering melewati daerah tersebut, tetapi saya tidak pernah menduga jika pemandangan dari tempat parkir Ketep Pass sangat menawan. Tempat parkir yang sengaja dibangun di atas bukit memudahkan pengunjung untuk melihat lereng Gunung Merapi. Sayang, karena saya datang ke Ketep Pass jam 07.00 WIB dan cuaca sedang mendung, maka saya tidak bisa melihat “Si Putri Malu” (julukan penduduk untuk menyebut gunung Merapi).

Berhubung saya belum bisa masuk ke Ketep Vulcano Center–karena baru buka pukul 08.00 WIB, maka saya melihat pemandangan sambil menikmati jagung bakar hangat. Untuk membantu penglihatan, banyak penduduk setempat yang menyewakan teropong dengan ongkos sewa Rp 2000. Cukup murah bukan?

Beberapa wisatawan mulai berdatangan, baik menggunakan mobil pribadi atau bus pariwisata. Sambil menunggu museum dibuka, beberapa pengunjung sarapan di warung tenda yang dibangun di dekat pelataran parkir. Dereten warung tenda itu memanjang di lereng bukit. Sambil menyantap makanan hangat, pengunjung bisa menikmati keindahan gunung Merapi, Sindoro dan Sumbing.

Saat Ketep Vulcano Center dibuka, saya langsung membeli tiket dan masuk ke museum itu. Di sebelah kanan pintu masuk terdapat dua buah komputer yang berisi informasi mengenai gunung Merapi, dari sejarah terbentukanya, jalur pendakaian, kapan meletusnya dan sebagaianya. Pokoknya segala hal tentang Merapi ada disitu. Sayang, salah satu komputer mati sehingga saya harus menunggu giliran untuk mengakses informasi itu.

Setelah mengetahui seluk-beluk Merapi, saya masuk ke ruang berikutnya. Di kiri kanan dinding terdapat foto-foto kemegahan Merapi dalam ukuran besar. Selain foto Puncak Garuda, ada juga foto penduduk yang menjadi korban awan panas (disebut juga wedhus gembel) sehingga kulit dan dagingnya melepuh.

Puas menyaksikan foto-foto indah, saya naik ke lantai dua melalui jalan melingkar. Di sisi jalan terdapat replika gunung Merapi. Beberapa pengunjung naik ke “gunung” tersebut untuk berfoto. Ada pula yang berfoto di depan gambar Puncak Garuda sehingga seakan-akan mereka naik ke puncak tersebut.

Di lantai dua, selain terdapat foto-foto tentang Merapi ada juga tempat penjualan souvenir. Ada berbagai model kaos yang berlatar belakang Desa Ketep. Selain baju, ada pula tanaman anggrek berbagai jenis. Harganya relatif murah bila dibandingkan dengan tanaman sejenis yang dijual di tukang pohon di sepanjang jalan menuju Ketep.

Keluar dari museum, saya masuk ke Vulcano Theatre untuk menyaksikan pemutaran film mengenai berbagai kegiatan gunung Merapi mulai dari aktivitas letusan gunung sampai proses evakuasi penduduk. Namun, untuk menyaksikan film tersebut saya harus menunggu sampai jumlah penonton 20 orang. Untuk, enggak butuh waktu lama untuk mengumpulkan 20 orang karena saat itu musim libur.

Karena waktu saya sempit, saya segera meninggalkan Ketep Pas untuk pulang ke Magelang. Di tepi jalan, beberapa pedagang tanaman mulai membuka gerai. Saya berhenti sejenak untuk melihat tanaman strobery dan anggrek. Tanaman strobery yang dipajang rata-rata sudah berbuah. Namun, pedagang disana hanya menaruhnya di kantong-kantong kecil dan sedang. Tidak ada acara “Petik Strobery Sendiri” seperti yang ada di kawasan Ciwidey, Bandung. Anggrek yang dijajakan juga beragam jenisnya, tetapi anggrek bulan tampak mendominasi.

Dalam perjalanan pulang saya sempat berpikir mengapa di lokasi ini belum juga ada hotel untuk menginap para pelancong yang ingin menikmati hawa pegunungan? Padahal, saat aktivitas gunung Merapi meningkat lokasi ini menjadi tempat favorit. Bahkan, sampai pukul 02.00 dinihari masih ada pengunjung yang ingin menyaksikan pijaran api gunung Merapi.Jadi, pengunjung yang ingin ke lokasi ini mesti menginap di Kota Magelang atau Yogyakarta. (November 2006, tak jadi dimuat di majalah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s