Akita University: Kampus Pertambangan Tertua di Jepang

PENDIDIKAN - AKITA

Meski kalah populer dibanding universitas lain di Jepang, Akita University (Akita Daigaku) adalah kampus pertambangan tertua di negeri itu. Di samping fasiltas pendidikan dan penelitian yang memadai, Akita University juga menawarkan studi lapangan ke berbagai daerah dan negara lain untuk mengenalkan kehidupan dan budaya masyarakat setempat.

Tradisi pendidikan dan penelitian di bidang sumber daya alam di kampus ini dimulai Maret 1910 tatkala Akita Mining College memberi pelatihan kepada tenaga kerja di sektor pertambangan. Setelah lebih dari 100 tahun berdiri, kampus tersebut berperan penting dalam industri pertambangan di Jepang dengan  mencetak banyak ahli tambang, baik di bidang mineral, metal mapun minyak dan gas.

Sebagai kampus pertambangan tertua, fakultas yang paling terkenal  adalah Faculty of Engineering Science. “Banyak mahasiswa asing yang mengikuti program ini karena selain kesempatan untuk field trip ke negara lain, proses belajar juga dalam bahasa Inggris, sehingga memudahkan mahasiswa asing yang belum fasih berbahasa Jepang,” ujar  Tina Triwijianti Sandriputri.

Guna mempertahankan citra sebagai gudang ilmu pertambangan, Akita University membuat fakultas baru : Faculty of International Resource Science. Menurut dekan Fakultas Ilmu Sumberdaya Alam Internasional,  Sato Tokiyuki, pendirian fakultas ini sebagai langkah memperkokoh platform dalam pendidikan dan penelitian di dunia pertambangan.

Studi Lapangan

Akita University menerapkan metode unik dalam proses belajar. Universitas dengan 3 kampus di Tegata, Hondo dan Hodono di Kota Akita, Prefektur Akita ini lebih banyak menggunakan studi lapangan dalam proses belajar mengajar sehingga mahasiswa bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahun tetapi juga memahami kebudayaan dan kehidupan masyarakat sekitar Akita.

“Akita University menyediakan banyak sekali kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kehidupan di Akita dengan gratis, atau kalaupun bayar hanya dengan biaya yang sangat terjangkau. Dalam 6 bulan, saya sudah dua kali ikut kegiatan farm stay, kegiatan di mana kita tinggal di rumah petani di Prefektur Akita dan merasakan secara langsung kegiatan bercocok tanam di sana,” jelas Tina.

Selain farm stay, ada juga kunjungan ke pusat-pusat budaya dan berbagai festival di Akita. Wanita kelahiran Jakarta, 2 April 1984 itu sudah mengunjungi cukup banyak tempat berkat program spesial bagi mahasiswa internasional. “Salah satu program favorit bagi mahasiswa internasional adalah bermain ski  tiap Desember,” lanjut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro itu.

Sebagai guru, Tina pun pernah mengunjungi proses belajar-mengajar di beberapa sekolah di Prefrektur Akita. Studi lapangan seperti ini akan memperkaya mahasiswa dengan pengalaman nyata, sekaligus bahan perbandingan dengan apa yang dilakukan oleh mahasiswa di negaranya masing-masing.

Geologi Jurusan Favorit

Menurut Tina, mahasiswa Indonesia yang belajar di Akita Univeristy hanya 9 orang. Mayoritas, yakni 8 mahasiswa, kuliah di jurusan Earth Science and Technology (Geologi). Jumlah orang Indonesia yang tinggal di Akita pun relatif sedikit, hanya 25 orang. “Walaupun orang Indonesia tidak banyak, tapi hubungan kami menjadi sangat dekat sehingga rasanya seperti punya keluarga kedua di sini,” kata Tina.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang mengambil program doktoral di jurusan Economic Geology adalah Stephanie Saing (23). Economic Geology adalah jurusan yang mempelajari bagaimana proses terbentuknya deposit mineral, seperti emas, tembaga dan lainnya dengan menggunakan berbagai metode pendukung. Disebut Economic Geology karena riset dilakukan untuk menyelidiki apakah deposit tersebut ekonomis untuk ditambang dan untuk mengembangkan potensi area yang dapat diekplorasi.

Saat ini Stephanie mengerjakan riset di salah satu perusahaan tambang di Indonesia. Saat aplikasi, Stephanie ditawari beasiswa Leading Program yang baru saja dimulai di Akita sejak 2012. Program ini berbeda dengan beasiswa lain di Jepang karena beasiswa ini umumnya 5 tahun dimulai dari master hingga doktor dengan kurikulum khusus dalam Bahasa Inggris dan program ini memberi dukungan untuk mengikuti konferensi, kursus ataupun field trip ke mana saja yang diizinkan supervisor. “Dengan Leading Program diharapakan dapat menjadi  pemimpin di masa datang dimanapun mereka ditempatkan, seperti universitas, lembaga pemerintahan dan industri,” jelas Tina.

Ada 3 universitas di Indonesia  yang bekerja sama dengan Akita University, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Trisakti (Jakarta), dan Univesitas Hasanudin (Makassar). Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta segera menyusul. Tujuan kerja sama ini adalah penelitian bersama  di bidang geologi. “Dari kegiatan inilah, mahasiswa Indonesia diundang untuk kuliah di Akita University, seperti kebanyakan teman-teman saya di sini. Hampir semua diundang oleh profesor di Akita University,” tambahnya. Beberapa mahasiswa mendapat beasiswa dari MEXT, dengan tes kompetensi. Ada pula yang datang berkat sponsor dari perusahaan tertentu.

 

Teacher Training Program

Melalui seleksi ketat, bersaing dengan 300 guru se-Indonesia, Tina Triwijianti Sandriputri berhasil mendapat beasiswa dari MEXT untuk mengikuti Teacher Training Program di Faculty of Education and Human Studies, Akita University. Selama 18 bulan dia belajar di sana, 6 bulan intensif belajar bahasa Jepang dan 12 bulan sisanya dilanjutkan dengan pendalaman bahasa Jepang  disertai riset program bersama profesor pendamping.

Dia fokus pada riset  jurusan pendidikan matematika karena sejak awal guru di BPK Penabur Jakarta itu mengajar bidang studi ini. Dia mengambil pendidikan matematika karena banyak sekali kursus matematika Jepang yang berkembang pesat di Indonesia. Selain itu, kualitas pendidikan di Akita bagus. Banyak lulusan SMA Akita yang berhasil kuliah di universitas-universitas ternama di Jepang.

Melalui program pelatihan ini, dia berharap menjadi guru yang lebih kompeten dan profesional sehingga bisa menjadi teladan bagi guru lain.

Kata Kunci:

Geologi /Chishitsu  (地質)

Studi Lapangan/Ensoku (遠足)

Ninjutsu Indonesia Club: Menghapus Imej Buruk Ninja di Tanah Air

KOMUNITAS-NIC.jpg
HaloJepang! April 2015

Menjelang Pemilu 1999, ninja identik dengan penjahat kelas wahid yang bisa membunuh kyai dan ulama tanpa ketahuan jejaknya. Stigma buruk ini membuat Ninjutsu Indonesia Club (NIC) prihatin. Mereka keliling Indonesia untuk mengenalkan ninjutsu (ninja) yang sesungguhnya. Kini, ninja tak lagi bermakna negatif.

Maraknya pembunuhan terhadap kyai yang diduga dilakukan oleh ninja terjadi di Jawa Timur, seperti di Banyuwangi dan Bojonegoro. Tahun 1998, kyai –yang dituduh dukun santet- yang meninggal di Banyuwangi hampir mencapai 150 orang. Konon, pembunuh yang berpakaian ala ninja itu bisa melompat setinggi 2-3 meter, lalu menghilang tanpa bekas.

“Saya keliling Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” kata Sensei Sanmoon Nakamura, Ketua NIC kepada HaloJepang! belum lama ini. Tur keliling Indonesia yang disponsori oleh partai politik ini dilakukan selama empat tahun, 2002-2006. Satu pulau yang tidak disinggahi adalah Maluku karena saat itu sedang terjadi kerusuhan berbau SARA.

Perjalanan untuk mengenalkan ninjutsu menghadapi berbagai tantangan. Beberapa pendekar dari ilmu bela diri lain, datang silih berganti. Mengajak Nakamura berduel guna mengetahui kedigdayaan ninjutsu. “Di Kalimantan, saya duel dengan pendekar Dayak,” kenangnya.

Diawali di Bali

Jebolan Kevin Harthore Ninja School Australia ini mulai mengenalkan ninjutsu di Bali. “Saat itu saya berlatih sendirian di Pantai Kuta,” kata alumni Monas University itu. Lalu, satu demi satu ikut bergabung. Pria kelahiran Semarang, 19 April 1969 itupun akhirnya membentuk NIC pada 1994.  Karena mendapat pekerjaan baru di Jakarta, dia pun bermukim di Bogor. Di kota hujan ini, peminat ninjutsu justru bertambah.

Tak mudah membentuk perguruan ninja. Apalagi bela diri ini tergolong baru. Pada awalnya, anggota NIC hanyalah para penggemar film-film ninja. Kini, anggota NIC mencapai 800 orang yang tersebar di 30 cabang.

Di NIC, anggota tidak hanya belajar ilmu bela diri. Mereka juga menyerap filosofi ninja, yaitu bagaimana bertahan dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya meski keras dan sulitnya kehidupan yang mereka hadapi.

Saat ini ninja makin dikenal publik. Lebih penting lagi, masyarakat tak menganggap ninja sebagai penjahat atau pembunuh misterius. “Sekarang saya mengenalkan diri sebagai ninja tak masalah,” jelas Nakamura. Malah, ninjutsu mulai digemari orang. Dalam berbagai kesempatan, anggota NIC tampil untuk menghibur atau unjuk keahlian. Mereka juga sering diundang oleh televisi, baik lokal maupun asing, untuk mengenalkan komunitasnya. Beberapa diantaranya juga menjadi bintang iklan untuk  produk-produk industri.

Tiga Tahun

Menurut Nakamura untuk menguasai ninjutsu, sampai tahap mahir, dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun. “Harus belajar terus, tanpa putus,” tegasnya. Ninjutsu berasal dari kata nin dan jutsu. Nin artinya pertahanan dan jutsu adalah seni atau cara. Ninjutsu adalah ilmu beladiri yang mengandalkan strategi. Berkembang sejak abad ke-7 M di daerah Iga pegunungan Togukure di pedusunan Jepang. Konon, pendiri ninjutsu bernama Daisuke Togakure. Dia yang menyempurnakan ninjutsu menjadi teknik berkelahi canggih yang menyatu dengan kegiatan mata-mata dan spiritual. NIC, lanjut Nakamura, mengajarkan bagaimana menjadi ninjutsu sejati yang menguasai  18 jurus.

Dalam mendidik ninja Nakamura mengenalkan seluruh jenis ilmu yang ada. Jika beberapa diantaranya dianggap kurang sesuai dengan keyakinan anak didiknya maka bagian tersebut bisa dihilangkan. “Kita ajarkan semua, tapi praktiknya disesuaikan dengan budaya dan keyakinan kita,” jelasnya.

Dalam upaya penyesuaian itu, NIC mengenalkan aliran ninja baru yakni Sanmoon Ryu Ninjutsu. “Lebih tepatnya sih self defense ninjitsu. Saya mencoba untuk mengubah ninjutsu sedikit demi sedikit menjadi tidak mengerikan, serta tidak memakai penutup kepala,” jelasnya. Seragam ninja dengan wajah terbuka ini membuat ninja semakin ramah dan bersahabat. (*)

Ise Azuchi Momoyama Bunkamura: Kastil Megah Pemersatu Jepang

WISATA - ISE BUNKAMURA
HaloJepang! Mei 2015

Untuk menyatukan masyarakat Jepang, Oda Nobunaga (1534-1582) membangun kastil megah di dekat danau Biwa, Azuchi Castle.  Sayang kastil yang memiliki ruang berlapis emas itu hancur terbakar saat terjadi peperangan antara anak kedua Nobunaga, Nobukatsu melawan pasukan Akechi. Nobunaga sendiri lebih dulu terbunuh dalam pertempuran di Honnoji Temple.

Keinginan Nobunaga untuk menyatukan masyarakat Jepang disebabkan pada era Shogun Ashikaga (1477-1573) terjadi perang saudara antardaimyos –kelompok bangsawan. Tiap daimyos ingin menguasai wilayahnya masing-masing. Melalui pertempuran hebat selama delapan tahun, Nobunaga berhasil mengalahkan para daimyos dan masuk ke Kyoto pada 1568. Kaisar pun memberi kepercayaan kepada Nobunaga untuk mengendalikan militer. Kekuasaan Shogun Ashigaka yang bercokol selama 2,5 abad pun berakhir pada 1573.

Pada 1575 Nobunaga menjadi tentara paling berkuasa. Dia memberikan wewenang kepada anak tertuanya, Nobutada, untuk mengurusi Provinsi Owari dan Mino. Dia berangan-angan menyatukan seluruh wilayah Jepang. Oleh karena itu dia membangun Azuchi Castle di kota Ise, Prefektur Mie. Lokasi ini sangat strategis. Dekat dengan Kyoto sehingga mudah mengontrol arus lalu lintas di Tokaida dan Nakasendo. Juga mudah mengawasi lalu lintas di Danau Biwa. Pembangunan kastil ini lebih bermuatan politis ketimbang fungsi pertahanan atau religi.

Sebagai simbol kekuasaan dan penyatuan Jepang, Azuchi Castle dibuat megah. Kastil setinggi 40 meter ini terbuat dari tembok batu dengan berat 900 ton. Ruang paling atas berlapis emas. Diperlukan 10.000 lembar emas untuk menutupi ruang tersebut. Di ujung genteng kastil terdapat Shachihiko, singa bertubuh ikan. Simbol mistis ini bertinggi 1,8 meter dengan berat 300 kg. Juga dilapisi 5.000 lembar emas. “Emas melambangkan kemakmuran,” kata Osumi Toshio, company executive  Ize Azuchi Momoyama Bunkamura, kepada HaloJepang! belum lama ini.

Seperti Aslinya

Kemegahan Azuchi Castle dapat dilihat di Ise Azuchi Momoyama Bunkamura. Bangunan kastil dibuat seperti aslinya, termasuk bebatuan dan emas yang dipakai untuk mendirikan kastil. “Pembangunan kastil menelan biaya Y8 milyar. Total biaya yang dikeluarkan mencapai Y21 milyar,” jelas Osumi.  Pada bagian atas kastil terdapat ruang berlapis emas. Menurut Osumi, untuk membangun ruang berlapis 10.000 emas ini menghabiskan biaya Y80 juta.

Sebagai tempat pertahanan, kastil ini memiliki gerbang dari tembok batu yang disebut  Grand Yagura-mon. Tingginya lebih dari dua meter dengan pintu besar yang dijaga para prajurit. Dengan struktur bangunan seperti ini, musuh akan kesulitan memasuki kastil sebelum melumpuhkan prajurit yang berjaga di gerbang tersebut.

Selain kastil, di Ise Azuchi Bunkamura terdapat beberapa tempat hiburan seperti pertunjukan ninja, komedi, serta drama. Ada juga arena permainan. Misalnya, Iga House of Magic, Monster House, Ninja Fortress, Iga Trick Maze dan Haunted Temple. Tentu, tersedia restoran yang menyajikan menu khas daerah Ise.

Pengalaman Unik

Wahana bermain ini menggunakan tema periode perang (sengoku jidai). “Di sini pengunjung bisa merasakan pengalaman berada pada periode perang zaman dahulu yang tidak banyak ditawarkan oleh theme park lain,” kata Osumi berpromosi. Agar pengunjung merasakan nuansa masa lampau, tempat ini juga menyewakan baju khas Jepang mulai dari kimono, ninja hingga samurai.

“Suasana Jepang zaman dulu asyik buat foto-foto. Apalagi ada rental kimono segala. Jadi waktu saya ke sini, saya lebih asyik buat foto dengan suasana periode Jepang lama,“ ujar Dwinda Nafsiah, mahasiswa Mie University asal Indonesia.

Wahana bermain favorit di Ise Azuchi Bunkamura adalah Iga House of Magic, Ninja Fortress, dan Labyrinth. “Di Iga House of Magic kita ditantang berjalan lurus dan seimbang. Sulit karena lantai yang dilewati miring dan goyang,” jelas Osumi. Kesulitan sama ditemui saat melewati lorong maupun jembatan. Sementara itu, anak-anak menyukai Ninja Fortress karena banyak permainan. “Seru juga bisa coba-coba senjata ninja,” tambah Dwinda. Labyrinth juga menarik karena menguji kemampuan kita saat tersesat dan harus menemukan jalan keluar. Menguras tenaga dan pikiran.

Bagi yang senang dengan dunia gaib, bisa masuk ke Monster House. Nuansa seram sudah dimulai sejak pintu masuk di mana terdapat patung tanpa kepala dengan tangan kanan membawa samurai, sementara tangan kirinya memegang kepala yang terputus itu. Di belakang patung terdapat percikan darah seakan-akan menggambarkan pemenggalan kepala baru saja berlangsung. Di dalam ruang yang gelap gulita, kita akan menemukan berbagai macam hantu a la Jepang. Hantu-hantu itu muncul tak terduga bersamaan dengan suara horor nan menakutkan.

Sehabis bermain, tentu saja lapar. Jangan khawatir. Di wahana ini banyak restoran yang menawarkan berbagai menu. Namun menu khas yang paling diburu pelancong adalah Ise Udon dan Mike Donburi. Menurut Osumi, keduanya adalah makanan khas Ise yang reputasinya tak perlu diragukan. Ise Udon adalah mie dengan saus kental yang lezat.

Kecintaan anak-anak terhadap wahana ini nampak jelas pada bulan Oktober, saat musim studi tur tiba. “Oktober paling ramai. Peserta yang datang adalah murid dari Kansai dan Tokai. Tapi di luar musim itu, banyak pula  anak sekolah yang datang,” jelas Osumi. Di luar studi tur, Ise Azuchi Bunkamura ramai dikunjungi pelancong pada perayaan tahun baru (28 Desember – 5 Januari), Golden Week (28 April – 5 Mei), serta Musim Obon  (13-16 Agustus).

Mengincar Turis  Indonesia

Mayoritas pengunjung Azuchi adalah orang Jepang atau orang asing yang tinggal di Jepang. Guna menyedot lebih banyak pengunjung, termasuk pelancong asal Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia, manajemen membuat terobosan. “Kami bekerja sama dengan agen-agen perjalanan di luar negeri,” kata Osumi.

Berbagai promosi dilakukan melalui situs resmi perusahaan. Juga pengeriman direct email. “Kami rajin menghadiri acara yang diselenggarakan oleh asosiasi pariwisata lokal,” tambah Osumi. Mereka juga menggelar promosi bersama dengan tempat wisata lain yang berada di Prefektur Mie. Langkah ini diyakini dapat mendongkrak jumlah pelancong ke wilayah Mie, termasuk ke Ise Azuchi Momoyama Bunkamura.

Osumi pun merekrut mahasiswa Indonesia di Prefrektur Mie untuk dijadikan pemandu wisata. Mereka akan mendampingi pelancong asal Indonesia saat berwisata di sana agar lebih nyaman dan memahami segala hal yang ada di Ise Azuchi Momoyama Bunkamura. *

Kobe University: Fakultas Kedokteran Menjadi Primadona

 

PENDIDIKAN-KOBE
HaloJepang! Edisi Mei 2015

Memiliki sejarah panjang sebagai lembaga pendidikan di bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran Kobe University menjadi salah satu primadona. Calon mahasiswa, baik asal Jepang maupun di luar Jepang berebut masuk ke fakultas tersebut. Di samping kedokteran, Fakultas Kelautan juga menjadi unggulan.

Kobe University yang berdiri 1949 mempunyai beberapa fakultas yakni Fakultas Sastra, Fakultas Studi Antarbudaya, Fakultas Pembangunan Manusia, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sains, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Kelautan, School of Business Administration, dan School of Medicine. Tiap fakultas memiliki program pasca sarjana.

Untuk kelas internasional, Kobe University memiliki Graduate School of International Cooperation Studies (GSICS) yang menyediakan program pasca sarjana dan doktoral. Program studi yang ada dalam program pasca sarjana meliputi Studi Internasional, Pembangunan dan Ekonomi, Hukum Internasional, serta Studi Wilayah dan Politik. Sementara untuk doktoral mempunyai departemen Kebijakan dan Pembangunan Ekonomi, Studi Kebijakan dan Kerjasama Internasional, dan Studi Kerjasama Regional.

Cikal bakal berdirinya Kobe Univerity adalah Kobe Higher Commercial School (1902). Lembaga ini adalah institusi pendidikan bisnis dan ekonomi tertua di Jepang. Tak mengherankan jika Kobe menjadi pusat studi ekonomi dan bisnis di Negeri Matahari Terbit.

Kendati lahir dari sekolah bisnis, justru Faklutas Kedokteran yang menjadi primadona. Hal ini tak lepas dari sejarah kampus tersebut. Kobe University dibentuk dari beberapa lembaga pendidikan. Banyak lembaga pendidikan kesehatan yang dilebur dalam kampus tersebut seperti Prefectural Technical College of Medicine yang berdiri 1944 (kemudian berubah menjadi Hyogo Prefectural College of Medicine) dan Kobe Prefectural College of Medicine (1952). Ada juga lembaga pendidikan di bidang pertanian, teknologi, bisnis, dan ilmu kelautan.

Lembaga pendidikan kesehatan tersebut berada di bawah koordinasi rumah sakit Kobe yang dibangun sejak 1869. Institusi medis ini memiliki riwayat meyakinkan dalam melahirkan tenaga kesehatan yang berkualitas. Wajar, jika Fakultas Kedokteran di Kobe University menjadi jurusan favorit. “Jurusan kedokteran (Faculty of Medicine) dan Faculty of Maritime adalah jurusan yang banyak diminati oleh mahasiswa international,” kata Tri Lestari, alumni program doktoral Business Administration.

Pertukaran Mahasiswa

Kobe University menjalin kerjasama dengan lebih dari 200 lembaga pendidikan, baik univeritas maupun fakultas, di berbagai negara.  Beberapa univeritas di Indonesia sudah bekerja sama dengan Kobe University. Univeritas Indonesia (Jakarta) mengadakan pertukaran mahasiswa untuk Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Teknik. Sementara dari Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Budaya. Fakultas Teknik Kobe University bekerja sama dengan Fakultas Teknik UI dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Fakultas Ilmu Kelautan Kobe Unversity memilih Institut Teknologi Sepuluh November (Surabaya) sebagai mitra kerja sama. Dengan Universitas Airlangga (Surabaya), Kobe University pernah bekerja sama  menanggulangi korban tsunami di Aceh dengan mengirimkan pakar di bidang kedokteran dan teknik yang dipimpin Profesor Hayashi Yoshitake. Mereka mengobati para korban dan merancang pembangunan infrastruktur di Serambi Mekah itu.

Kobe University Graduate School of Medicine memberi beasiswa Monbusho (MEXT) kepada mahasiswa UGM, UI, dan UNAIR untuk program master atau doktor. “Bisa juga beasiswa lainnya, misal Monbusho G to G, LPDP, Dikti dan lainnya,” kata Junaedy Yunus, mahasiswa program doktoral Developmental Neurobiology. Jurusan kedokteran tambah tersohor setelah salah satu alumni Kobe University, Shinya Yamanaka, mendapatkan hadiah nobel (2012) bidang fisiologi/kedokteran atas penemuan teknologi iPS (Induced pluripotent stem cells).

Makanan Halal

Tinggal di Kobe, lanjut Tri, memiliki beberapa kelebihan. Kobe adalah kota pelabuhan sehingga masyarakat sudah terbiasa dengan pendatang. “Tidak jarang imigran itu menetap di sana,” jelasnya. Di kota ini pula terdapat masjid tertua di Jepang, Masjid Kobe, yang dibangun 1928. Di masjid ini, mahasiswa Indonesia, menjalankan sholat Jumat bersama. Untuk mendapatkan makanan halal  juga mudah, tinggal datang ke China Town (Motomachi). “Di China Town ini orang Indonesia biasa belanja bahan makanan untuk membuat menu khas Indonesia,” ujar perempuan kelahiran Klaten, 7 Mei 1979 itu.

Di samping itu, lingkungan kampus juga nyaman untuk belajar. Fasilitas cukup lengkap antara lain perpustakaan, akses jurnal internsional, common lab dengan fasilitas yang canggih. “Terdapat mushola untuk mahasiswa muslim,” jelas Junaedy. Hanya sayangnya, fasilitas makanan halal di kantin kampus kedokteran belum ada. “Beda dengan kantin kampus utama di Rokko,” tambahnya. Sebagai informasi, kampus kedokteran (Kusunoki) terpisah jauh dari kampus utama (Kampus Rokko).

Biaya hidup di Kobe hampir sama dengan kota-kota besar di Jepang. Menurut Tri, dia memerlukan biaya sekitar  Y 150.000 per bulan. Hanya, Junaedy mengingatkan, biaya sewa apartemen mahal. Tetapi bagi yang sudah berkeluarga bisa mendaftar ke pemda Kobe untuk bisa menyewa apartemen murah milik pemerintah. *

 Ahli Neurobiology

Tamat dari Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta (2007), Junaedy Yunus meneruskan ke program master di kampus yang sama dan mengambil jurusan Anatomy & Embryology (2011). Pria kelahiran 9 Juni 1983 ini langsung melanjutkan ke program doktor ke Kobe University di bidang Developmental Neurobiology. “Saya mengambil jurusan ini karena profesor saya ahli dalam bidang pengembangan otak dan anatomi,” jelasnya.

Untuk belajar di Kobe University dia mendapatkan beasiswa dari Monbusho (MEXT) U to U. Dia harus bersaing dengan mahasiswa dari UI dan Unair.  Tiap tahun, Kobe University hanya memberikan jatah untuk  2-4 mahasiswa dari ketiga kampus tersebut.

Dia mengaku sangat tertarik dengan pengembangan otak dan anatomi. Kelak setelah lulus dia ingin menekuni bidang tersebut dan mengembangkannya di Indonesia.

RAKUGO: Stand up Comedy dengan Kipas dan Sapu Tangan

 

Tabloid HaloJepang! edisi Mei 2015
Tabloid HaloJepang! edisi Mei 2015

Rakugo –seni bercerita yang mengundang tawa-  sudah ada di Jepang sejak zaman Edo (1603–1868) dan mencapai puncaknya pada era Meiji (1868–1912).  Mirip stand-up comedy  tetapi lebih sulit karena keterbatasan gerak, perlengkapan serta panggung nan sederhana. Perlengkapan yang dipakai rakugoka, pemain rakugo, hanyalah kipas lipat (sensu) dan sapu tangan panjang (tenugui).

Rakugoka harus memiliki kemampuan bercerita yang hebat. Mereka membawakan ekspresi dari masing-masing karakter dengan menggunakan perbedaan suara, gaya berbicara, ekspresi wajah, dan gerak-gerik, sehingga penonton bisa langsung mengenali pergantian dari satu karakter ke karakter yang lain.

Gerak-gerik rakugoka bisa berupa pandangan mata, gerakan kipas dan sapu tangan ataupun menggerakkan kaki dan tangan sambil tetap duduk seiza. Pandangan mata rakugoka melihat ke arah panggung sebelah kanan (dari kursi penonton panggung sebelah kiri) yang disebut shimote ketika karakter berkedudukan lebih tinggi berbicara dengan karakter berkedudukan lebih rendah.

Begitu pula sebaliknya, pencerita melihat ke arah panggung sebelah kiri (dari kursi penonton panggung sebelah kanan) yang disebut kamite ketika karakter berkedudukan lebih rendah berbicara dengan karakter berkedudukan lebih tinggi. Arah pandangan mata dan arah gerakan leher terus berganti bergantung pada bagian-bagian dialog, sehingga penonton bisa membedakan berbagai karakter yang tampil dalam cerita.

Untuk menggambarkan berbagai aktivitas, rakugoka bisa menggunakan kipas dan sapu tangan sebagai alat bantu. Misalnya, untuk adegan makan, mereka bisa menggunakan kipas yang dilipat sebagai sumpit, sementara sapu tangan menjadi piringnya. Atau untuk kegiatan menulis, sapu tangan dijadikan kertas dan kipas berfungsi sebagai pulpen. Di sinilah dituntut kreativitas dari rakugoka.

Rakugoka tampil mengenakan kimono  dan dalam posisi duduk seiza di atas bantal (zabuton). Rakugoka tidak boleh berdiri, termasuk untuk menggambarkan adegan berjalan. Mereka cukup mengangkat sedikit lutut kiri dan kanan secara bergantian dibarengi gerakan mengayun-ayunkan lengan seperti orang sedang berjalan.

Biksu Budha

Monolog ini fokus pada humor dan memiliki tiga bagian: makura (cerita awal), yang honmon (cerita utama), dan ochi (klimaks cerita). Makura berupa penyebutan judul, tema, dan latar belakang cerita. Bagian ini dimaksudkan sebagai pemanasan bagi penonton dan pencerita. Penonton dibuat tertawa dengan sedikit lawakan agar santai. Pencerita juga sekaligus mempersiapkan penonton untuk masuk ke alam imajinasi dengan bercerita ringan tentang hal-hal yang berkaitan dengan cerita utama. Dari sejak awal, pencerita mulai memberi tanda-tanda akan bakal adanya “jebakan” yang dipasang sebagai klimaks cerita.

Karena sifatnya lucu dan menghibur, banyak biksu yang memanfaatkan rakugo untuk menyebarkan agama Budha di Jepang. Biksu Anrakuan Sakuden (1554–1642) membuat 1.037 cerita rakugo yang dia buat sejak masih muda. Cerita dari para biksu Budha berpengaruh besar terhadap perkembangan rakugo di negeri Matahari Terbit.

Rakugo berkembang pesat di tiga kota: Edo, Kyoto dan Osaka. Hingga kini rakugo yang berkembang memiliki dua versi yakni Edo rakugo (rakugo versi Edo) dan Kamigata rakugo (rakugo versi Kyoto-Osaka). Kedua versi bisa langsung dikenali dari perbedaan tata cara dan perlengkapan panggung.

Tradisional dan Modern

Cerita rakugo bisa berasal dari zaman klasik (koten rakugo) atau rakugo modern (shinsaku rakugo). Rakugo klasik mengangkat humor dari zaman Edo, era Meiji sampai menjelang Piala Dunia II.  Cerita rakugo klasik banyak diambil dari buku Seisuishō (1628) karangan biksu Anrakuan Sakuden dari kuil Joonji di kota Gifu.  Sampai sekarang kisah lucu dalam buku ini banyak dipakai sebagai cerita pembuka dalam pertunjukan rakugo.

Rakugo modern lahir dari kreatifitas rakugoka. Mereka terus menyesuaikan rakugo dengan perkembangan zaman sehingga cerita pun terus berkembang. Rakugoka modern yang terkenal adalah Katsura Bunshi VI. Dia membuat lebih dari 200 humor. Setiap tampil, dia hanya membawakan cerita karangan sendiri.

Rakugo mulai dikenal dan dipelajari oleh orang-orang di luar Jepang. Untuk mengenalkan rakugo ke dunia internasional, beberapa komedian rakugo tampil dengan menggunakan bahasa Inggris, seperti  Katsura Shijaku.

Hadir di Jakarta

Untuk memopulerkan rakugo di Indonesia, pada 13-15 Juni 2015 komedian asal Jepang Katsura Sanshiro akan menghibur penonton di Jakarta. Artis kelahiran Eiji Nozu, 24 Februari 1982 itu bukan hanya mengibur masyarakat Jepang tetapi juga orang Indonesia yang tertarik pada kesenian tersebut. Pentas siang hari untuk orang Indonesia, sedangkan pertunjukan sore untuk masyarakat Jepang.

“Kita akan undang mahasiswa dari kampus yang memiliki jurusan Sastra Jepang. Untuk mahasiswa gratis,” kata Sylvia Wijaya, Direktur Katya Mitrakarsa, perusahaan yang mengurusi pertunjukan Katsura di Jakarta. Menurut Sylvia, pihaknya akan mengundang 100-150 mahasiswa Indonesia.

Katsura bisa memainkan rakugo tradisional mapun modern, bahkan bisa pentas menggunakan bahasa Inggris. Dia adalah murid dari master rakugo, Katsura Bunshi. Katsura mengawali karir sebagai komika (pemain stand-up comedy). Namun setelah mendengarkan penampilan Katsura Bunshi melalui CD, dia berubah haluan. Sejak April 2004, dia pun magang kepada Katsura Bunshi, sampai akhirnya dia menjadi rakugoka kondang. Kini, Katsura terkenal sebagai pemain rakugo. Dia sering tampil di berbagai acara radio, televisi dan juga film. *

Kata kunci:

Humor / Joku  (ジョーク)

Monolog  / Monorogu (モノローグ)