IKHLAS

Dua pekan lalu, dua kyai sempat menginap di rumah saya. Seorang habib dari Pontianak yang akan memberikan ceramah di masjid di kampung saya, memilih tinggal di rumah daripada menginap di hotel. Satu lagi seorang kyai dari Magelang, yang kebetulan ada urusan di Jakarta. Dari habib, saya sempat mengobrol lama, mulai dari bandara Soekarno Hatta sampai di rumah. Sedangkan, dengan kyai dari Magelang, saya kurang waktu untuk bertukar pikiran, istilah tepatnya mengobrol, karena sempitnya waktu yang tersedia.

Dari habib saya belajar banyak tentang makna ikhlas. Dia yang sempat nyantri di Solo, Pontianak, sampai Yaman dan lulusan Magister Hukum, tampak rileks menjalani hidup. Padahal, aktifitasnya sangat padat. Berceramah antarkota, antarpulau, serta antarnegara. Dia tak protes ketika saya terlambat dua jam menjemput di bandara karena terjebak kemacetan. Dia juga santun dan bicara sesuai dengan situasi dan kondisi. Dia tidak merokok selama ngobrol dengan saya, sampai saya mengira dia bukan perokok, seperti halnya saya.

“Saya mengalir saja. Biarkan Allah yang menentukan. Kita jangan mengambil alih peran Allah,” ujarnya. Sikap iklhas dalam berdakwah ditunjukkan melalui contoh riil. “Motor saya beberapa kali masuk gadai untuk biaya syiar. Alhamdulillah dua atau tiga hari sudah bisa ditebus,” tambahnya. Asal kita ikhlas, Allah SWT akan membalasnya. Kalau sampai nggak ketebus, berarti hati kita belum ikhlas saat melepasnya.

Ikhlas lain yang dicontohkannya adalah tidak mengharapkan imbalan atas tausyiahnya. “Kalau kita dikasih, alhamdulillah. Kalau pun tidak, tidak apa-apa. Kita jangan mengharapkan materi dari berdakwah. Kalau mau kaya, jangan jadi ustadz, tapi jadi pengusaha. Ini soal pilihan,” kata habib yang kemana-mana selalu bersarung itu.

Habib pun tidak ofensif terhadap orang lain yang tidak sepaham atau sesama muslim yang belum menjalankan syariat sebagai mana mestinya. Ketika tetangga saya berjudi, saya datangi mereka. “Teruskan, jangan berhenti main. Setelah selesai saya ingin bicara.” Habib menunggu mereka berjudi sampai selesai. Setelah usai, dia bilang, “Kalian boleh main judi, tetapi jangan di dekat pesantren saya. Masalahnya, kalau Allah memberi musibah, semua warga di desa ini terkena dampaknya. Termasuk anak istri saya. Padahal, yang berbuat jelek hanya segelintir orang.” Karena diucapkan dengan nada pelan, orang-orang itu pun menerima dan akhirnya berhenti berjudi.

Habib juga menanggapi keluhan ustadz di kampung saya yang menganggap warga kurang memberi penghargaan pada dirinya (karena pakai bahasa Arab, saya gak ngerti nulisnya). “Ente kurang ikhlas dalam berdakwah,” ujar habib. Saat itu, saya tidak tahu maksudnya karena kami bertiga segera beralih ke topik lain. Namun, di mobil, habib menceritakan kepada saya kalau ustadz di kampung saya kurang ikhlas karena dia melihat sang ustadz masih mengharapkan materi. Habib menegaskan kyai adalah pilihan. Kalau dia sudah memilih menjadi seorang ustadz, jangan memikirkan masalah materi. Rejeki akan datang dengan sendirinya. Tetapi jangan pernah mematok tarif untuk sebuah ceramah. Anjuran yang sulit diterapkan saat ini karena di belakang seorang ustadz tenar sudah ada manajemen yang mengatur tetek bengeknya. (2 Ramadhan 1432 H)

Seratus ribu rupiah

Sore itu,  saat menuju ke ATM untuk mengambil uang, saya melihat uang seratus ribuan di tengah jalan. Uang dilipat-lipat menjadi kecil. Tapi warna dan angka yang tertera sangat jelas: Rp 100.000. Langkah kaki saya sempat terhenti, “Ambil atau tidak. Lumayan nih bisa untuk ngisi bensin mobil.”

“Bukan hakmu. Janganlah kamu menabung energi negatif,” teriak nurani. Saya pilih berjalan terus, mengabaikan uang yang seakan-akan melambai minta untuk ‘diselamatkan’. Di tengah jalan, sempat berpikir untuk balik aja dan mengambil uang itu karena ATM masih lumayan jauh, sekitar 300 meter lagi. Tapi, kaki saya terus melangkah. Gerimis tak peduli. “Sekalian olahraga sore,” pikirku.

Setelah mengambil uang dari ATM, saya sempat memikirkan uang tadi. Kalau masih ada, saya berniat mengambilnya. Tetapi saya berdoa, mudah-mudahan sudah ditemukan oleh pemiliknya. Kalau pun tidak, ditemukan oleh orang yang lebih membutuhkan. Toh, seandainya saya mengambil uang itu, suatu saat saya harus ‘mengembalikanny’a dengan cara yang berbeda.

Saat melewati jalan itu lagi, uang tersebut sudah tak ada. Saya senang, karena saya tidak jadi ‘meminjam’ uang dari orang tak dikenal. Soal, siapa yang menemukan uang itu, di  luar  jangkauanku dan tak perlu diperdebatkan. Tuhan sudah mengatur segalanya. Saya yakin, penemu uang itu adalah orang yang sangat memerlukan dan akan digunakan untuk kebaikan. Semoga menjadi berkah bagi dia. Amin.

Rahasia dibalik pilihan Tuhan

Paijo sewot setengah mati ketika pacarnya mengirim undangan pernikahan dirinya dengan pria lain. Padahal, dua minggu sebelumnya dia bertemu dan tak ada pembicaraan sedikit pun yang mengarah ke “pengkhianatan besar”. Paijo tak sudi datang ke acara kawinan dan memilih memberinya kado segepok umpatan. Ia tak mau lagi bertemu atau mencari tahu kabar mantan pacar (sebut saja Inem).

Waktu terus berjalan. Setelah hampir 15 tahun, Paijo menerima SMS dari unkown number. Melihat gaya bahasanya, dia tahu, pengirim SMS bukanlah orang asing. Pasti temen lamanya. Benar. Inem yang mengirimnya. Paijo senang sekaligus terluka. Senang karena dia bisa memutar memori indah masa lalu. Terluka, karena dia seperti menggores luka di atas luka. Pasti lebih pedih.

Sekedar bernostalgia, Paijo cukup senang. Bukan sekedar SMS, namun juga telepon-teleponan, email, chatting dan juga facebook. Setelah jenuh dengan masa nostalgia, Paijo mulai mengorek luka lamanya: Mengapa Inem tega meninggalkannya tanpa sepatah kata pun? Dugaan Paijo bahwa Inem ”disitinurbayakan” oleh orangtua, terutama ayahnya, salah. Inem mengambil keputusan sendiri dengan kepala dingin setelah melakukan shalat istikharah. ”Setiap kali habis sholat istikharah, yang muncul dalam mimpiku, bukan kamu,” ujar Inem dengan kalimat terbata-bata. ”Kalau kamu dalam posisiku, pasti sulit. Aku tak tega mengatakan padamu. Kamu terlalu baik untuk dilukai,” tambahnya dengan suara parau, menahan tangis.

Paijo yang masih geram pun mencari celah lain untuk terus menyalahkannya. ”Tapi dengan tak berterus terang seperti ini, lukaku terus mengalirkan darah selama 15 tahun. Bayangkan! Betapa sakitnya.” Keduanya terdiam. Tak ada suara apapun dari balik ponsel. Sesaat kemudian, ”Maafkan aku,” tambah Inem.

”Sudahlah, jangkan korek luka lama,” sergah Paijo. Kalimat ini, sejatinya, untuk menghindari Paijo memberikan kata maaf pada Inem. Paijo menganggap Inem memiliki dosa besar yang sulit ditebus. Hanya setingkat di bawah kafir! (kejam nian Paijo). Bahkan saat Lebaran pun, Paijo belum bisa memaafkan kesalahan yang satu ini. Paijo pun belum mau bertemu langsung dengan Inem. Dia selalu menghindar dengan beribu alasan. Padahal, letak tempat tinggalnya tak terlalu jauh untuk ukuran saat ini.

Tahun kedua “pertemuan online” dengan Inem dirasakan Paijo mulai datar dan cenderung membosankan. Banyak perbedaan dalam frame of experience dan frame of reference. Inem selalu memandang setiap peristiwa dari kacamata hitam dan putih. Baginya, tak ada warna abu-abu, white pearl, atau silver. Yang ada hanya SALAH dan BENAR. Tak ada kata maklum, bisa dimengerti, dan toleransi. Paijo mulai enggan berdiskusi.

Ketidaknyamanan ini membawa hikmah besar. Paijo bisa memaafkan kesalahan Inem setulus-tulusnya. Sebelum Ramadhan, dia sudah iklhas dan legowo. Di bersyukur tak jadi menikah dengan Inem. Ternyata, dia bukanlah orang yang pas untuk bertukar pikiran, untuk bertoleransi, dan untuk memahami. Paijo mengerti mengapa Tuhan memisahkan mereka. Andai dulu bersatu, Paijo tak tahu sampai berapa bulan dia bisa bertahan hidup berdampingan dengan, meminjam istilah orang Barat, conservative moslem.

Karena itu, saat harus bertemu langsung dengan Inem, dalam sebuah reuni Paijo sudah bisa tertawa lebar. Bahagia. Bukan karena mengenang masa lalu, tetapi karena dijauhkan dari petaka yang akan menghimpitnya 15 tahun silam! Waktu yang akan menjelaskan hikmah dan takdir Tuhan. Paijo yakin dibalik pilihan Tuhan, terselip hikmah dan rahmat yang kadang tak disadari oleh manusia. (medio Nov 2010)

Surban sebagai pemantas dan penjaga diri

KH Mukoddas MA

Minggu, 25 Juli 2010 pagi masjid Al Ikhlas di Kebonduren, Kalimulya, Depok kembali mengadakan pengajian bulanan dengan tema: Menyambut Bulan Suci Ramadhan. Pembicara dalam kuliah duha itu adalah Drs KH Mukoddas, MA, ustads dari daerah Cimanggis yang juga karyawan Departemen Agama Kota Depok.

Sebelum tausyiah dimulai, jemaah menggelar sholat duha bersama.  Setelah itu, Ustadz Agus Suprayogi menjelaskan hukum sholat sunnah berjamaah. Dari  berbagai referensi dan hadist yang ada, Agus menyimpulkan sholat sunnah sebaiknya dilakukan sendiri-sendiri, kecuali beberapa jenis sholat yang disarankan seperti sholat Idul Adha/Fitri, sholat tarawih, serta sholat istisqo. Sholat sunnah lain boleh dilakukan berjamaah, asal tidak menjadi rutinitas.

Acara berikutnya adalah ceramah dari KH Mukoddas. Kyai asal Banjarnegara, Jateng, ini menjelaskan mengapa dia memakai surban, jas serta sarung. “Saya tadi datang ke sini, belum banyak jemaah yang datang. Tapi, orang tahu kalau saya ustads yang akan member i ceramah. Coba kalau saya nggak pakai surban. Mereka tidak tahu kalau penceramahnya sudah datang,” jelasnya.  Artinya, surban menjadi pemantas. Sebagai pertanda kalau dia seorang muslim. Fungsi surban berikutnya adalah sebagai penjaga hati. “Kalau saya pakai baju seperti ini, tak pantas masuk diskotek atau tempat-tempat yang tak terpuji,” katanya. Dengan demikian, surban bisa menjaga seseorang dari perbuatan yang kurang pantas. Namun, dia menekankan, surban bukan jaminan seseorang masuk surga.  Surga ada di tangan kita melalui amal yang dirahmati Allah, bukan pada surban atau baju yang dipakainya.

Bersama pengurus masjid

Wanita lebih mudah untuk masuk surga. Asal mereka bisa memenuhi empat sayarat, yaitu:  rajin menjalankan sholat, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatan, serta sayang suami. “Syarat keempat ini yang susah. Kalau suami lagi banyak duit disayang. Giliran gak punya duit, pasang wajah kecut,” ujarnya yang disambut tawa para jemaah.

Dalam hidup ini orang harus memiliki iman (keteguhan hati), ilmu, serta amal. Iman akan menjaga seseorang berada di jalan Allah, sedang ilmu akan menyelamatkan orang dari kehidupan dunia dan akhirat. Berbuat amal bagai orang menanam biji. “Lama kelamaan akan tumbuh dan berbuah seperti bijinya. Tidak ada menaman semangka berdaun sirih,” lanjutnya sambil tertawa, ingat sebuah lagi pop lawas.

Orang beriman termasuk orang-orang yang tidak merugi.  Ciri orang beriman adalah rajin sholat lima waktu. Lalu, dia pun menyanyikan sholawat dengan syair yang telah diubah: Subuh kesiangan, Dhuhur kesibukan, Ashar dalam perjalanan, Magrib kecapaian, Isya ketiduran. “Lah kapan sholatnya?” tanyanya. Orang yang tidak merugi lainnya adalah orang yang berbuat baik dan orang yang menjalin silaturahim. “Silaturahim banyak manfatnya. Mendatangkan rejeki dan membuat panjang umur,” jelasnya.

Jemaah wanita

Orang yang senang menyambut datangnya bulan Ramadhan tidak akan tersentuh api neraka. Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Setelah melewati bulan ini kita akan kembali suci. Untuk, menyambut bulan suci ini kita harus membersihkan jiwa kita dengan saling memaafkan kepada sesama.  Bagi mereka yang masih memiliki hutang puasa, segera penuhi kewajibannya. Setelah pengajian, Ustadz Agus Suprayogi memberikan santunan kepada anak-anak yatim yang ada di sekitar masjid.

Memakmurkan Masjid*

Ust. Syaifuddin Siddiq, MA(oleh Ustadz Syaifuddin Siddiq, MA – Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta)

Masjid tak boleh dipakai untuk kampanye karena kampanye banyak kebohongan. Masjid adalah tempat untuk pengajian yang membawa kebenaran berdasar Alquran dan Hadist.

Dalam kuliah duha  yang diselenggarakan Minggu, 27 Juni 2010 di Masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Depok, Jawa Barat, Ustadz Syaiffudin mengawali penjelasannya dengan menerangkan kata makmur. Makmur berasal dari Bahasa Arab yang berarti meramaikan. “Jadi  makmur bukan berarti  badan yang subur, “ jelasanya. Dengan demikian memakmurkan masjid berarti meramaikan masjid.

Dengan kata lain, masjid harus dipakai untuk shalat berjamaah bagi warga selama lima waktu. Fenomena yang banyak berkembang adalah bangunan masjidnya banyak, tetapi selalu kosong saat waktu shalat tiba. Lalu, siapa yang memakmurkan masjid?  “Pertama, orang beriman. Dan kedua orang yang mendirikan shalat’” lanjut ustadz yang sedang mengambil pendidikan  S3 itu.

Ustadz membedakan menjadi dua kategori karena keduanya memang berlainan. Orang beriman adalah orang yang menjalankan shalat dan syariat lain serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang yang sekedar mendirikan shalat adalah STMJ. “Bukan Susu Telor Madu dan Jahe, tetapi Shalat Terus Maksiat Jalan,” lanjutnya. Jadi, mereka menjalankan shalat sekedar memenuhi kewajiban. Hanya formalitas.

Majelis Duha Masjid Al IkhlasUstadz menekankan bahwa masjid memiliki tiga fungsi yaitu tempat bersujud, majelis ilmu, serta tempat bermusyawarah. Sebagai majelis ilmu, masjid adalah tempat menimba ilmu yang bermanfaat. Jadi bukan sekedar ilmu agama saja. “Matematika ilmu bermanfaat, kedokteran ilmu bermanfaat. Jadi boleh saja menimba ilmu seperti itu di masjid,” tekannya.

Menimba ilmu wajib hukumnya bagi muslim. Karena ilmu akan menjaga kita, kalau diberikan pada orang lain makin bertambah, dan dengan ilmu akan memperbanyak kawan. Sebaliknya, harta memiliki sifat yang berlainan. Kita yang harus menjaga harta. “Mana ada orang menaruh mobil di jalanan. Takut hilang,” jelasnya. Harta, kalau kita berikan kepada orang lain, akan berkurang. Dan dengan harta pula kita bisa dibenci orang dan memiliki banyak musuh jika kita tak mau bersedekah dan berbagi dengan sesama.

Untuk mengukur tingkat keimanan seseorang, bisa dirasakan saat mereka memasuki masjid. Jika dirinya merasa seperti ikan yang masuk ke dalam air, berarti dia termasuk golongan orang beriman. “Ikan akan senang ketika masuk air karena di situlah habitatnya,” tambah Syaiffudin. Sebaliknya, jika saat memasuki masjid mereka merasa bagai burung di dalam sangkar, berarti tingkat keimanannya masih dipertanyakan. Burung selalu ingin lepas dari sangkar karena dirinya merasa dipenjara dan dikekang kebebasannya. (Materi diberikan saat kuliah duha yang diselenggarakan setiap bulan di Masjid Al Ikhlas, RW 08 Kebonduren, Kalimulya, Depok, Jawa Barat, http://alikhlaskebonduren.wordpress.com)

Puasa karena cinta

Dibesarkan dengan budaya kejawen, ritual kegamaan Paijo kembang kempis. Kadang sholat dan puasa, kadang lupa dan tak merasa berdosa karenanya. Namun setelah lulus kuliah dengan IP bagus, Paijo malah rajin puasa dan sembahyang. Bukan karena taat, tetapi lebih disebabkan menggunggat. Dia yang lulus dengan nilai bagus plus aktifis kampus mengapa tetap saja susah payah mendapatkan pekerjaan yang layak. Gugatan Paijo dijawab Tuhan. Dia diterima sebagai sales di salah satu perusaahaan. Sales antarkota antarpropinsi (kayak bis AKAP itu).

Sebagai sales yang keluar masuk hotel, tepatnya losmen, Paijo pun tahan godaan. Ia menolak ajaan kencan para wanita karena dia sadar itu perbuataan terlarang. Dia pun tetap puasa Senin Kamis. Lagi-lagi bukan karena taat, tetapi karena protes pada Tuhan. Mengapa orang lain yang menurutnya lebih bego, bodoh, bloon, tolol dll lebih beruntung darinya. Saking kuatnya protes itu, Paijo pernah nekat berpuasa walau kondisinya sedang drop. Buntutnya, dia setengah pingsan saat sujud di sholat Jumat. Dia tak mampu berdiri sampai Jumatan usai.

Protes Paijo ini pun didengar Tuhan. Dia diterima di perusahaan ternama di Jakarta. Tak lama kemudian, dia pindah lagi ke kantor di Jalan Sudirman. Paijo pun tetap puasa Senin Kamis. Bukan taat loh, tetapi lebih karena prihatin. Dia berpuasa agar gajinya cukup untuk hidup sebulan. Maklum, dengan modal satu tas baju, Paijo harus mengais rupiah untuk menghidupi istri, yang saat itu gajinya belum seberapa.

Setelah itu Paijo kembali berkelana dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Meski krisis moneter melanda Indonesia, Paijo bisa berkelit dengan cara pindah haluan kerja. Pendeknya, tak ada yang perlu diprotes atau digugat dari keadaan saat itu. Makanya, Paijo mulai lupa puasa Senin Kamis. Ritual agama lain tetap dijalankan, malah lebih rajin. Tapi puasa mulai ditinggalkan. Bahkan puasa Ramadhan pun kadang diterabas. Sahur di rumah, buka di kantin belakang kantor pada saat dhuhur lalu berpura-pura berbuka di rumah.

Seiring dengan waktu, ritual keagamaan Paijo makin berkembang. Sholat tak pernah lagi ditinggalkan. Begitu juga dengan puasa wajib. Kadang, dia masih melakukan sholat malam ketika anak-anaknya mau menempuh ujian. Juga puasa Senin Kamis jika memiliki perminataan khusus. Saat itu, puasa sunnah dijalankan karena mempunyai permintaan khusus, special request.

Setelah dalam beberapa lama, dia tak punya permintaan khusus, puasa sunnah kembali diabaikan. Dia cuek tidur tatkala istrinya sahur untuk berpuasa. Atau kalau pun dia ikut bangun, malah menonton sepakbola di teve atau membuka laptop atau komputer untuk bekerja.  Istrinya tetap diam melihat Paijo yang demikian. Namun sang istri tetap rajin berpuasa tanpa menyuruh Paijo untuk mengikuti jejaknya.

Lama-kelamaan Paijo merasa malu pada Tuhan. Mengapa dia baru menjalankan ibadah lebih ketika memiliki permintaan tambahan. Jadi ada semacam transaksional antara ibadah dan permintaan. Semakin banyak permintaan, semakin rajin beribadah. Dia merasa seperti anak kecil. Seperti si bungsu yang tiba-tiba bangun pagi, sholat lalu menyapu rumah karena sedang mengambil hati ayahnya agar membelikan sepatu baru atau handphone baru.  Atau si sulung yang mencuci mobil agar diajak ke mall untuk membeli baju dan celana.  Paijo tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang pandir, bodoh dan tolol di hadapan Tuhan.

Menjelang Shubuh, Piajo bangun. Sahur. Dia kembali berpuasa Senin Kamis. Bukan karena minta dibelikan sepatu atau baju. Bukan karena menuntut pekerjaan baru dengan gaji dua atau tiga kali dari sekarang. Bukan, bukan itu. Paijo berpuasa hanya karena cinta pada Sang Pencipta yang tak pernah murka meski selama ini hanya diingat ketika dia menderita, menggugat, atau memiliki keinginan khusus. Kali ini, Paijo tak ingin apa-apa, kecuali rasa cinta. Titik!

Jangan sunat hak orang lain

Jumat siang itu (9 Oktober 2009) Dewa membeli kalung infra red yang konon diklaim bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk penyakit mematikan semacam tekanan darah tinggi dll. Meski ragu dengan kalung tersebut, tetapi atas permintaan kerabat, Dewa pun membeli kalung itu. “Mudah-mudah beliau sehat berkat sugesti kalung ini,” pikir Dewa dalam hati.

Sesampainya di rumah, anak sulung Dewa terpikat dengan kalung yang berbentuk bulat bagai manik-manik itu. Karena kalung itu bisa dipisah menjadi dua yaitu kalung dan gelang, maka si sulung pun meminta gelangnya. “Eyang kasih aja kalungnya. Gelangnya untuk aku,” rengek si sulung.

Dewa tak berdaya dan mengabulkan permintaan si sulung. Malam itu gelang sudah menjadi milik si sulung dan menempel di tangan kanannya. Sepanjang Sabtu siang, gelang tak pernah lepas dari tangannya. Sabtu sore, Dewa mengirim kalung infra red itu melalui jasa titipan kilat. Gelang tak bisa dikirim karena sudah dikuasai si sulung.

Minggu pagi si sulung pamit pergi. Bareng temen-temennya dia ingin ke pasar kaget. Hanya beberapa saat setelah meninggalkan rumah, si sulung menelepon, “Pak, gelangnya hilang. Dengan santai Dewa menjawab, “Ya udah, pulang aja ke rumah.”

Sampai di rumah, si sulung diam di depan TV. Dia merasa bersalah dan takut dimarahi karena harga gelang itu tidaklah murah. Tapi Dewa hanya bertanya, “Kamu tahu kenapa gelang itu hilang?”

“Tidak,” jawab si sulung. “Kamu tahu, Bapak beli kalung itu untuk eyang, bukan kamu. Kalau sekarang hilang ya wajar karena itu bukan hakmu. Kamu sudah mengurangi hak eyang kan?”

“Iya ya. Bapak beli bukan untuk aku,” ujarnya sambil manggut-manggut. “Allah itu adil, Mas,” ujar adiknya. Mereka bertiga pun tertawa dan berjanji tak akan merampas atau mengurangi hak orang lain lagi.

Banyak jalan menuju Bandung

Once tak menyangka, teman lamanya itu telah berubah. Bukan hanya penampilan fisiknya yang lebih trendy jauh dari kesan ndeso, kampungan dan agraris. Namun lebih dari itu. Minul pun mengubah haluan spiritualnya. Menjadi western dan terkesan modern. Dia tak lagi menutupi apa yang dulu ditutupnya rapat-rapat.

Sebenarnya Once tak mempermasalahkan perubahan itu. Dibesarkan dalam alam kejawen, Once menghargai perbedaan dan mengutamakan keharmonisan dengan sesama. Once yakin seyakin-yakinnya, semua aliran kepercayaan dan religi bermuara pada satu hal: Tuhan yang maha Esa. Ibarat roda, aliran dan religi hanyalah jari-jari yang mengacu ke satu titik: as roda. Toh, semua ajaran menyarankan pada kebaikan dan memerangi kebathilan.

Tak ada yang mengajarkan permusuhan, apalagi memerangi “mereka” sejauh mereka tidak mengganggu “kita”.  Seharusnya, prinsip Once ini tidak akan menimbulkan perasaan kecewa, gelo, masghul dengan apa yang dialami rekannya, Minul.

Namun entah mengapa hati kecil Once terus bertanya. Mengapa? Ada apa? Haruskah itu terjadi? Pertanyaan itu terus menyeruak karena Once ingat betapa hebatnya Minul menghadapi Once dan rekan-rekannya yang sering berbuat resek. Minul tak jera-jeranya mengingatkan pada Once dkk agar eling marang Gusti Kang Murbeng Dumadi. Once percaya hingga detik inipun Minul tetap menjalankan ritual spiritualnya secara konsisten.

Perasaan kecewa Once muncul setelah dia ingat pepatah Banyak Jalan Menuju ke Roma. Karena membayangkan Roma terlampau jauh, Once cukup membandingkan dengan Bandung. Misalnya, ketika Minual -dengan mengambil start Jakarta, akan pergi pulang ke Bandung. Dia hanya diberi waktu 10 jam.

Jalan yang paling cepat tentunya melalui tol Cipularang. Hanya butuh waktu maksimal tiga jam, yang berarti enam jam PP. Empat jam bisa dipaki untuk keliling Bandung, entah ke Braga atau malah ke kawasan berhawa dingin di Lembang.

Minul pun memilih jalan tersebut. Setelah melewati Km 66 dan mengarah ke Bandung, tiba-tiba Minul berubah pikiran. “Lewat Puncak asyik nih. Bisa lihat pemandangan indah dan makan jagung bakar di pinggir jalan,” gumamnya. Dia pun bantung stir,mencari pintu keluar dan balik ke arah Jakarta menuju Puncak.

Tak salah memang. Ke Bandung melalui jalur Puncak – Cianjur tidak juga jauh. Tetapi kalau keputusan itu diambil setelah dia menempuh separo perjalanan di jalur lain, tentu menjadi beda. Membuang waktu dan energi. Tak lagi memegang prinsip efektif dan efesien. Waktu sepuluh jam banyak yang terbuang di jalanan, sehingga tak bisa menikmati keindahan Bandung secara sempurna.

Namun, Minul bukanlah Once. Siapa tahu Minul bisa memperoleh kesenangan saat menempuh perjalanan sehingga tak perlu lagi mendapat kebahagiaan di Bandung? Bisa saja dia mengeksploitas Puncak dan Cianjur sehinggga di Bandung cukup absen dan tak butuh hiburan lagi. Once pun manggut-manggut. “Mengapa aku “memaksakan” cara berpikirku untuk melihat kasus Minul?” gumamnya dalam hati. Lebih baik tidur. Toh, tidur juga sebagian dari ibadah juga. Zz…zzz….zzzz..

Majelis cinta

Mencari cinta sejati

Mencari cinta sejati

Suatu siang, Dewa yang dulu dikenal sebagai mahasiswa badung, menelepon dan mengajak Once, teman dekatnya sesama bengal, untuk menghadiri dzikir di sebuah tempat di Wijaya Center, Blok M, Jakarta Selatan. Once tak langsung mengiyakan, tetapi meminta alamat website majelis itu.

Once memang kritis untuk bergabung dalam suatu organisasi. Semasa kuliah pun dia tak mau bergabung ke organisasi mahasiswa underbow sebuah parpol meski secara intens mereka bergumul dan bertukar pikiran dengan mereka. Apalagi menjadi anggota organisasi keagamaan. Takut di cap ekstrim, baik kanan maupun kiri. Maklum, di masa orde baru masyarakat menjadi was-was untuk berserikat dan berkumpul.

Karena itu, sebelum hadir di majelis dzikir, Once membuka webiste organisasi itu. Juga mengikuti mailing list-nya. Hanya, Once kecewa karena mailing list nya lebih banyak membahas ceramah dari guru mereka yang tinggal di AS, ketimbang menjawab pertanyaan dari anggota baru. Ini berbeda dengan milis lain, misalnya milis otomotif dimana Once menjadi anggotanya. “Kok malah liat milis. Praktik dan rasakan kalbumu,” rayu Dewa.

Once tetap enggan datang ke tempat itu. Dia membayangkan di tempat dimana anggotanya memakai jubah dan kupluk ala Alibaba serta berjenggot panjang, anggota majelis pasti berpikir ekstrim. “Kalau disuruh baca Alquran gimana?” kata Once saat menolak ajakan Dewa untuk datang ke majelis tersebut.

“Tenang saja. Apalagi aku. Baca Alif saja ga bisa,” bujuk Dewa. Dia meyakinkan buku panduan ada dua versi, berbahasa Arab dan Latin. Pilih sesuai kemampuan dan selera. Tak enak dengan rayuan Dewa, Once sanggup menghadiri dzikir malam itu.

Dengan berkaos dan celana jeans, baju sehari-harinya, Once masuk ke ruko tersebut. Ternyata, baju mereka juga beragam. Ada yang bergamis, bersurban, atau baju dan celana kerja serta cukup berkaos dan celana jeans seperti Once.

Sebelum dzikir dan whirling, ustadz meminta kepada jemaah untuk membaca surat Al Fatihah yang ditujukan kepada Nabi, umat muslim pada umumnya, orangtua dan saudara serta umat beragama lain agar mereka juga mendapat rahmat dan hidayah dari Allah. Once lega, meski atribut mereka terkesan “sangar” tetapi mereka mengembangkan toleransi luar biasa dengan membacakan Al Fatihah untuk umat beragama lain. Selesai dzikir, dengan keringat bercucuran, Once membeli buku panduan berhuruf Latin. Dia ingin membagi cintanya kepada sesama, tak terbatas pada muslim saja.

Ujian nikmat

Cobaan, ujian, atau godaan selalu diidentikkan dengan kesusahan, derita, nestapa, duka lara dan hal-hal lain yang berkonotasi negatif. Padahal, ujian yang diberikan oleh Allah SWT, menurut para mursyid, bukan hanya hal-hal yang menyedihkan. “Waktu di Kuala Lumpur saya duduk di sebelah Maulana Syeih Hisyam (Ketua Dewan Muslim AS, guru sufi Naqsybandi Haqqani). Setiap mendapat hidangan, makanan itu diberikan pada saya. Makin cepat saya menghabiskan makanan, makin cepat pula Syeih memberikan snack berikutnya. Sampai suatu ketika saya menyerah karena kekenyangan,” ujar Syeih Arif Hamdani, seorang guru sufi. “Diberi kenikmatan saja kamu menyerah. Bagaimana kalau diuji dengan penderitaan?” tanya Syeih Hisyam.

Mendengar penuturan Syeih Arif, saya ingat ketika menghadiri dzikir Syeih Hisyam di masjid Bank Indonesia 26 Mei 2009. Ketika itu Maulana Hisyam melakukan kunjungan ke Jakarta dan beberapa kota (Bogor, Sukabumi, Pekalongan, Semarang dll). Karena saya tidak bisa (mungkin juga masih malas) mengikuti tur itu dengan berbagai alasan seperti pekerjaan dsb, saya memutuskan untuk hadir saat di BI. Di sini, peluang untuk melihat dan bersalaman dengan Maulana lebih besar karena pengunjugnya relatif lebih sedikit.

Selepas kerja, Krisna -temen kuliah yang kini mendalami sufi- mengajakku berangkat lebih cepat sehingga magrib sudah berada di sana. Kami pun memilih barisan depan agar bisa memandang Maulana dengan leluasa. Memang, saat Maulana tiba, kami hanya duduk kira-kira tiga meter dari sang mursyid. Bahkan, kami bersebelahan dengan asisten Maulana.

Dzikir dimulai setelah sholat Isya dipimpin Maulana. Meski sepuh, suara Maulana masih menggema, tak kalah dengan musisi rock yang masih muda. Sekitar pukul sembilan malam, saya tak betah lagi duduk bersila. Pinggang sakit, kaki semutan. “Kok lama banget ya dzikirnya,” gerutuku dalam hati. Semutan makin menjadi. Selonjor tak bisa. Geser atau pindah tempat apalagi. Di belekangku, ibu-ibu merangsek ingin melihat Maulana dari dekat. Mudah-mudahan segera hadrah, dzikir sambil berdiri seperti di cafe rumi. Namun nyatanya, tak ada acara berdiri atau memutar. Dzikir mesti duduk sampai pukul 09.30.

Saat Maulana membaiat dengan membaca doa lalu menghamburkan permen yang sudah diberi doa, saat itulah kesempatanku beringsut, mencari tempat yang lebih leluasa untuk ‘ngeluk boyok’. Saya menghela napas dan memutar badan di pagar samping tempat imam. Dari situlah jalan keluar masjid melalui pintu belakang.

Jemaah berebut permen dan bersalaman dengan Maulana. Saya cuek dan bersandar di besi pagar. Maulana pun berjalan pulang. Tak disangka, beliau lewat pagar tempat saya berdiri. Di situ Maulana berdiri, memberi senyum dan menyalami saya. Tak lama kemudian, jemaah pun mengejar Maulana. Permen kembali dihamburkan. Dan salah satunya nyangkut di tangan saya. Yah, saya mendapat permen dan bisa bersalaman tanpa upaya yang berarti.

Padahal, setelah Maulana meninggalkan Indonesia, beberapa jemaah belum sempat bersalaman. Padahal, mereka sudah menghadiri gala dinner di hotel berbintang. Jadwal maulana yang padat ditambah acara dadakan dari para capres membuat jemaah sulit melihat dari dekat maulana. Mendengar penuturan para jemaah yang sulit menyentuh tangan maulana, saya menjadi ingat penuturan Syeih Arif tadi. Jangan-jangan Allah SWT sedang menguji saya dengan memberi kemudahan bertemu Maulana karena saya belum bisa mengikuti ajaran-ajarannya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 717 other followers