
Imajinasi berlebihan
Belum lama tinggal di Jakarta, teman masa kuliah Paijo, Dewa dan Once (sebut saja begitu untuk menghindari pasal pencemaran nama baik dan UU ITE), datang ke rumah. Setelah ngobrol ngalor ngidul, arah pembicaraan Once makin jelas. Cowok yang dadanya dipenuhi bulu (seperti penyanyi dangdut yang itu tu…..) mengajak Paijo untuk main ke cewek.
“Siapa sajalah,” desaknya. Paijo berpikir keras, siapa teman perempuannya yang bisa tertawa ngakak kalau diajak berbicara ngeres, nyrempet-nyrempet dan syukur-syukur bukan sekedar bicara, tapi lebih dari itu. Tiba-tiba Paijo ingat Ida. Minggu lalu cewek itu telepon ke kantor. Bermula dari salah sambung, pembicaraan beralih ke hal-hal yang menggairahkan dan memompa andrenalin cowok.
Paijo langsung mencet nomor telepon Ida. “Apa kabar, Mas? Kemarin kemana aku tunggu-tunggu kok gak datang,” ujar Ida nerocos. Once tersenyum. Lega. Ada cewek yang menyambut sapaan Paijo. “Sorry, aku banyak kerjaan. Sibuk nggak. Aku pengen kesana nih,” sahutku.
“Yang bener, Mas. Aku tunggu loh,” ujar Ida genit. “Tapi nanti Ida pakai rok mini yah,” pancing Paijo. “Sekarang juga pakai mini kok,” sergahnya. “Kelihatan celananya dong,” kata Paijo sekenanya. Paijo melihat Once tersenyum. Gelisah, resah dan tak sabar. Tangannya menarik lengan Paijo, memberi aba-aba untuk segera berangkat.
Singkat kata, mereka bertiga langsung menuju ke rumah Ida. Di kompleks Ida, sedang ada gotong royong membersihkan lingkungan. Karena hari itu menjelang perayaan tujuh belas Agustus. “Maaf pak, numpang tanya, rumah Mbak Ida sebelah mana ya?”, tanya Paijo pada seorang warga. “Itu yang cat hijau,” kata Bapak itu sambil menunjuk.
“Silahkan masuk,” ujar ibu setengah baya yang juga ibunya Ida. Paijo duduk di kursi yang dekat ruang tengah agar bisa berdekatan dengan Ida. Bayangannya, Ida adalah cewek gaul dan seksi (paling tidak enak dilihatlah). “Itu Ida lagi seterika,” sambung ibu tadi. Memang, Ida benar-benar memakai rok mini sehingga Once kian penasaran. Paijo beruntung karena posisinya paling dekat dengan Ida. Ibu itu, setelah menyuguhkan teh hangat, tepatnya puannnasss, langsung pergi.
Dari sinilah komedi itu bermula. Ida mencabut seterika dan menoleh ke Paijo dkk. Kaget, terhenyak, tak percaya. Seakan mimpi buruk Rambut bagian depan Ida dirol. Pipi kiri kanan dipoles warna merah menyala. Bedak putihnya tebal. Dadanannya hanya setingkat di bawah grup musik rock Kiss (jadul buanget ya) atau Kuburan (penyanyi yang lupa syairnya itu).
Naluri menyelamatkan diri Paijo muncul. Dia beringsut menjauh dan memaksa Once duduk berdekatan dengan Ida. “Ben, semalem aku tunggu di Taman Mini kok gak datang. Aku takut kalau diperkosa,” ujarnya nerocos. Ida pun terus berbicara dan tak memberi kesempatan pada mereka untuk ngomong. Paijo menangkap ada sesuatu yang tak beres dengan cewek ini. Apalagi, saat dia bertanya pada warga, mimik wajak mereka seakan heran.
Dewa penyelamat datang. Tetangga Ida meminta mereka untuk memindahkan motor karena menghalangi mobilnya. Naluri Paijo kembali bicara. Kalau Dewa hanya meminggirkan motor, Paijo justru menghidupkan mesin dan pamit pada mereka untuk membeli rokok. Dia kabur. Sambil tertawa dia singgah di masjid yang sedang dibangun. Sudah habis sebatang rokok, dua temennya itu belum juga melarikan diri. Dari pada pusing mikirin Once dan Dewa, Paijo makan bakso Malang yang kebetulan lewat.
Saat asyik makan. Datanglah Once dan Dewa. “Asu awakmu! Wong edan diparani. Ra la**l aku,” damprat Once. Paijo hanya nyengir. Menekutuhek kalau dia orang gila…..Nasib-nasib….Belum rejekimu, Once.













